Agriculture Farming Service

Agriculture Farming Service – Layanan pertanian modern yang membantu petani meningkatkan hasil panen melalui teknologi, manajemen lahan, dan solusi berkelanjutan

Breaking News

Breaking News! Simak kabar terbaru dan paling update hanya di sini. Kami hadir menyajikan informasi tercepat, akurat, dan terpercaya langsung dari lapangan. Jangan lewatkan momen penting yang sedang terjadi sekarang juga!

Seputar Olah Raga

Breaking News Olahraga! ⚽🏀🏸

Update tercepat tentang kabar olahraga terkini dari dalam dan luar negeri. Mulai dari sepak bola, bulu tangkis, basket, hingga olahraga trending lainnya. Simak informasi paling fresh dan jangan lewatkan momen bersejarah di dunia olahraga!

📌 Subscribe dan aktifkan notifikasi 🔔 biar nggak ketinggalan kabar terbaru.

Channel Katebat

KATEBAD ala kocak! 🤣🎥

Film pendek parodi yang menggabungkan berita terkini dengan sentuhan humor segar. Dijamin bikin ngakak tapi tetap ada pesan yang bisa dipetik. Tonton sampai habis, karena ending-nya bikin kaget!

📌 Jangan lupa Subscribe, kasih like 👍, dan share ke teman biar ikut ketawa bareng.

Info Seputar Megawati

Arabica Coffee House Kadınlar 1. Ligi, adalah nama resmi dari kompetisi Voleybol Kadınlar 1. Ligi di bawah naungan Türkiye Voleybol Federasyonu (TVF), yang kini menjadi penyelenggara utama dengan status nama sponsor

Tampilkan postingan dengan label BUDIDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDIDAYA. Tampilkan semua postingan

2 Mar 2026

Pengaturan Eksperimen Bio-Hacking : dalam Paradigma Pertanian Regeneratif 2026

Pengaturan Eksperimen Bio-Hacking : Efektivitas Mikoriza, Kascing, dan Madu pada Jagung dalam Paradigma Pertanian Regeneratif 2026


Transformasi Paradigma Pertanian: Menuju Revolusi Mikro-Hijau 2026

Dunia pertanian pada tahun 2026 berada dalam titik nadir perubahan struktural yang mendalam. Transisi dari ketergantungan pada input kimia sintetis menuju sistem yang berbasis biologi, atau yang sering disebut sebagai "Revolusi Mikro-Hijau" (MicroGreen Revolution), telah menjadi kebutuhan mendesak akibat volatilitas harga pupuk global, degradasi kesehatan tanah yang kronis, dan perubahan iklim yang semakin ekstrem.1 Di Indonesia, tantangan ini sangat nyata dirasakan oleh produsen jagung (Zea mays), di mana keseimbangan antara biaya input dan harga jual komoditas menjadi semakin tipis. Pemerintah Indonesia, melalui penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk pupuk bersubsidi seperti Urea dan NPK pada tahun 2025, berupaya memberikan bantalan ekonomi bagi petani, namun tekanan pasar bebas dan kelangkaan pasokan tetap menjadi ancaman utama bagi ketahanan pangan nasional.

Paradigma "bio-hacking" dalam konteks pertanian regeneratif 2026 bukan sekadar tren, melainkan strategi bertahan hidup yang canggih. Pendekatan ini melibatkan manipulasi ekosistem rhizosfer secara sengaja untuk mengaktifkan kembali mekanisme biologis yang mungkin telah hilang selama dekade budidaya intensif. Salah satu pilar utamanya adalah "rewilding" jagung, yaitu upaya memperkenalkan kembali sifat-sifat genetik dari nenek moyang liar jagung, seperti teosinte, yang memiliki kemampuan alami dalam menyeimbangkan nitrogen di dalam tanah. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa variasi genetik liar ini dapat membantu varietas jagung modern untuk berinteraksi lebih efektif dengan mikroba tanah, sehingga meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen (NUE) dan mengurangi kebocoran nutrien ke lingkungan.

Pertanian regeneratif pada tahun 2026 didefinisikan oleh prinsip-prinsip yang ketat: menjaga penutupan tanah secara permanen, meminimalkan gangguan mekanis (tanpa olah tanah), mempertahankan akar hidup sepanjang tahun, meningkatkan keanekaragaman spesies, dan mengintegrasikan sistem ternak jika memungkinkan. Dalam konteks eksperimen ini, penggunaan Mikoriza Arbuskular (AMF), Kascing (vermicompost), dan Madu mentah berfungsi sebagai agen bio-hacking yang bertujuan untuk menciptakan sinergi antara tanaman dan mikrobioma tanah. Hal ini sejalan dengan munculnya standar sertifikasi baru seperti Regenerative Agriculture Standard (RAS) yang akan mulai diberlakukan secara luas pada Maret 2026, yang mengharuskan pengukuran konkret terhadap bahan organik tanah dan populasi mikroorganisme.

Dinamika Ekonomi dan Tekanan Pasar Pupuk Sintetis 2026

Analisis ekonomi terhadap produksi jagung di awal tahun 2026 menunjukkan bahwa pupuk tetap menjadi komponen pengeluaran terbesar, mencapai sekitar 20% dari total biaya operasional usahatani. Harga amonia anhidrat, yang merupakan bahan baku utama pupuk nitrogen, mengalami volatilitas yang signifikan selama tahun 2024 dan 2025. Meskipun harga sempat stabil di kisaran $800 per ton pada akhir 2025, angka ini masih jauh di atas rata-rata historis sebelum tahun 2020. Di pasar Amerika Serikat dan Eropa, biaya nitrogen diproyeksikan akan tetap tinggi karena tantangan struktural terkait jejak karbon yang besar dalam proses produksinya.

Kondisi ini menciptakan peluang bagi adopsi input biologis secara masif. Pupuk organik dan biofertilizer diprediksi akan mengalami pertumbuhan penggunaan yang pesat pada tahun 2026, didorong oleh efisiensi biaya jangka panjang dan peningkatan ketahanan tanaman terhadap cekaman lingkungan.10 Berikut adalah perbandingan proyeksi penggunaan dan dampak pupuk di tingkat global untuk tahun 2026:

Jenis Pupuk Estimasi Penggunaan 2026 (Juta Ton) Proyeksi Peningkatan Hasil (%) Dampak Terhadap Kesehatan Tanah Peringkat Keberlanjutan
Nitrogen Sintetis (N) 120 8–12% Netral/Negatif (jika berlebihan) Sedang
Fosfor (P) 50 7–10% Netral/Negatif (jika berlebihan) Sedang
Pupuk Organik 25 12–17% Positif Tinggi
Biofertilizer (Mikoriza dll) 10 15–17% Sangat Positif Sangat Tinggi

Data diadaptasi dari pemodelan keberlanjutan industri 2024-2026.

Di Indonesia, harga pupuk mikoriza di tingkat eceran pada Februari 2026 berkisar antara Rp 65.173 per kilogram hingga Rp 1.103.799 untuk kemasan massal 25 kg, tergantung pada merek dan kepadatan spora.11 Jika dibandingkan dengan harga Urea non-subsidi yang fluktuatif, investasi pada biofertilizer mulai dianggap rasional oleh petani progresif karena kemampuannya untuk mengurangi kebutuhan pupuk kimia hingga 20-30% melalui optimalisasi penyerapan nutrien yang sudah ada di dalam tanah (legacy P).

Mekanisme Sinergi Mikoriza Arbuskular dan Kascing pada Jagung

Pilar utama dari pengaturan eksperimen ini adalah interaksi antara Mikoriza Arbuskular (AMF) dan Kascing. AMF merupakan fungi tanah yang membentuk simbiosis obligat dengan akar tanaman jagung. Hyphae fungi ini berfungsi sebagai perpanjangan sistem akar, menembus pori-pori tanah yang terlalu kecil bagi akar tanaman untuk mengakses air dan unsur hara yang tidak bergerak, terutama fosfor (P), seng (Zn), dan tembaga (Cu). Sebagai imbalannya, tanaman jagung mengalokasikan hingga 20% dari karbon hasil fotosintesisnya kepada fungi dalam bentuk gula dan asam lemak.

Kascing atau vermicompost, di sisi lain, berperan sebagai "battery pack" biologis yang menyediakan nutrisi siap serap dan stimulan pertumbuhan. Berbeda dengan kompos konvensional, kascing diproduksi melalui proses pencernaan cacing tanah yang memperkaya material dengan enzim seperti protease, amilase, dan selulase, serta fitohormon seperti auksin, sitokinin, dan giberelin. Dalam eksperimen pada jagung pulut (Zea mays ceratina L.) di Indonesia, ditemukan bahwa kombinasi 40 t/ha kascing dengan 1,05 t/ha mikoriza menghasilkan peningkatan pertumbuhan yang luar biasa.

Parameter Pertumbuhan Kontrol (0 VC, 0 AMF) Kombinasi (40 t/ha VC, 1.05 t/ha AMF) Persentase Peningkatan
Diameter Batang (mm) 20,2 23,8 17,8%
Berat Tongkol (g) 273,7 576,0 110,5%
Jumlah Biji per Tongkol 146,0 467,9 220,5%
Populasi Spora (per 20g tanah) 9,0 44,7 396,7%
Kandungan Kalium Tanah (K2O) 0,057% 0,093% 63,2%

Data hasil penelitian Purnawanto dkk. (2025) pada tanaman jagung.

Sinergi ini terjadi karena kascing tidak hanya menyediakan nutrisi mikro yang diperlukan fungi untuk berkembang, tetapi juga memperbaiki struktur fisik tanah yang memfasilitasi penetrasi hyphae. Selain itu, hormon pertumbuhan dalam kascing merangsang inisiasi akar baru, yang menyediakan lebih banyak situs infeksi bagi spora mikoriza untuk berkolonisasi.18 Proses ini menciptakan siklus umpan balik positif di mana peningkatan penyerapan nutrisi oleh tanaman menyebabkan produksi eksudat akar yang lebih banyak, yang pada gilirannya memberi makan komunitas mikroba yang lebih luas di rhizosfer.

Bio-Hacking dengan Madu Mentah: "Sticky Science" dan Aktivasi Mikrobioma

Penggunaan madu mentah (raw honey) dalam eksperimen ini merupakan bentuk inovasi "bio-hacking" yang memanfaatkan sifat fisik dan biokimia madu sebagai agen perekat (adhesive) sekaligus stimulan mikrobial. Dalam dunia ilmiah, fenomena ini sering disebut sebagai "Sticky Science". Madu memiliki viskositas tinggi yang memungkinkan spora mikoriza dan bakteri bermanfaat (seperti Azospirillum brasilense) menempel erat pada permukaan benih jagung selama proses penanaman.

Namun, peran madu jauh melampaui sekadar perekat mekanis. Madu mentah adalah cairan biologis yang kompleks dengan sifat antimikroba selektif. Kandungan gula yang tinggi menciptakan tekanan osmotik yang mampu menghambat pertumbuhan patogen tanah tertentu, sementara enzim glukosa oksidase dalam madu secara bertahap menghasilkan hidrogen peroksida () dalam konsentrasi rendah yang berfungsi sebagai disinfektan alami di sekitar benih. Mekanisme biokimia madu mentah dalam bio-hacking pertanian dapat dirinci sebagai berikut :

Aktivitas Osmotik : Konsentrasi gula yang mencapai 80% menarik air dari sel mikroba patogen, menyebabkan dehidrasi dan kematian sel jahat.

Produksi  : Enzim katalase dan glukosa oksidase mengubah glukosa menjadi asam glukonat dan hidrogen peroksida saat madu sedikit terencerkan oleh kelembapan tanah, menciptakan zona perlindungan bagi benih yang sedang berkecambah.

Kandungan Prebiotik : Madu mengandung oligosakarida yang dapat berfungsi sebagai sumber karbon awal bagi fungi mikoriza dan bakteri penambat nitrogen saat mereka mulai aktif dari fase spora atau dormansi.

Selektivitas Mikrobial Penelitian menunjukkan bahwa madu tertentu, seperti dari spesies Apis dorsata, memiliki aktivitas antifungal yang kuat terhadap patogen seperti Fusarium oxysporum, namun tidak mengganggu kolonisasi mikoriza yang menguntungkan.

Penting untuk dicatat bahwa hanya madu mentah yang belum dipasteurisasi yang efektif dalam aplikasi ini. Madu komersial yang dipanaskan kehilangan aktivitas enzimatik dan sebagian besar mikrobioma aslinya (bakteri asam laktat, ragi osmotoleran) yang justru diperlukan untuk merangsang respons imun tanaman jagung di tahap awal pertumbuhan.

Monitoring Resolusi Tinggi  Hyphascope dan Electrical Impedance Tomography

Salah satu hambatan utama dalam penelitian mikoriza secara historis adalah kesulitan dalam mengamati dinamika hyphae di bawah permukaan tanah tanpa merusak sistem akar. Dalam eksperimen 2026 ini, teknologi pemantauan non-destruktif berbasis open-source menjadi standar operasional. Perangkat "Hyphascope" telah diperkenalkan sebagai solusi berbiaya rendah (sekitar $930 USD) yang dapat dirakit menggunakan printer 3D.

Hyphascope menggunakan kamera mikroskop digital (DMC) yang mampu menangkap gambar profil tanah dengan resolusi hingga 0,52 m per piksel (49.000 dpi). Resolusi ini sangat penting karena hyphae fungi mikoriza hanya memiliki diameter antara 2 hingga 5 m, yang tidak mungkin dideteksi dengan alat pemantauan akar standar (minirhizotron konvensional).

Fitur Perangkat Spesifikasi Hyphascope 2026 Relevansi untuk Eksperimen Jagung
Resolusi Gambar 0,52 – 1,30 µm/px Deteksi hyphae halus (2–5 µm).
Volume Observasi 70 × 210 × 1,5 mm Pemetaan distribusi hyphae di rhizosfer.
Biaya Material 930 USD Memungkinkan replikasi eksperimen di banyak titik.
Teknologi Sensor Digital Microscope Camera (DMC) Observasi pertumbuhan hyphae secara in situ.

Selain observasi visual, teknologi Electrical Impedance Tomography (EIT) digunakan untuk memantau fungsi fisiologis akar secara real-time. EIT bekerja dengan menerapkan sinyal listrik frekuensi rendah ( kHz) ke dalam tanah melalui serangkaian elektroda. Sel-sel akar dan jaringan hyphae mikoriza menunjukkan respons polarisasi listrik yang unik karena adanya lapisan ganda listrik pada membran sel mereka.

Melalui analisis broadband EIT (mHz hingga ratusan Hz), peneliti dapat memetakan perluasan spasial sistem akar jagung dan mengukur efisiensi transportasi air dan nutrisi melalui jaringan hyphae. Teknologi ini memungkinkan deteksi dini terhadap cekaman kekeringan sebelum gejala visual muncul pada daun, karena respons polarisasi listrik akar akan menurun secara signifikan saat tanaman mulai mengalami dehidrasi fisiologis.29 Integrasi sistem EIT dengan aplikasi Android dan mikrokontroler STM32 memungkinkan petani atau peneliti untuk memantau kesehatan tanaman secara nirkabel dari jarak jauh.

Resiliensi Terhadap Cekaman Kekeringan: Data Musim 2025-2026

Pengaturan eksperimen ini sangat relevan mengingat kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah penghasil jagung selama tahun 2025 dan awal 2026. Di banyak wilayah, termasuk "Sabuk Jagung" Amerika Serikat dan sebagian Asia Tenggara, terjadi fenomena kekeringan mendadak pada bulan Agustus, yang merupakan periode kritis pengisian biji.32 Kekeringan pada tahap ini dapat menyebabkan aborsi biji dan penurunan berat biji hingga 50%.

Dalam paradigma pertanian regeneratif, kombinasi mikoriza dan kascing terbukti meningkatkan resiliensi tanaman jagung melalui beberapa mekanisme biokimia yang diukur dalam eksperimen:

Akumulasi Antioksidan : Tanaman yang diberi perlakuan mikoriza dan kascing menunjukkan aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD) dan peroksidase (POD) yang 1,3 kali lebih tinggi, yang membantu menetralkan spesies oksigen reaktif (ROS) selama cekaman air.

Stabilitas Membran : Indeks stabilitas membran pada jagung dengan aplikasi biochar dan biofertilizer ditemukan 1,6 kali lebih tinggi dibandingkan kontrol, yang menunjukkan kerusakan seluler yang lebih sedikit akibat kekeringan.

Transportasi Air Hyphae : Melalui penggunaan sensor konten air resolusi tinggi, diperkirakan bahwa kontribusi hyphae mikoriza terhadap total penyerapan air tanaman mencapai sekitar 20% selama periode kering.

Berikut adalah proyeksi dampak penerapan strategi regeneratif terhadap hasil jagung dalam kondisi cekaman kekeringan :

Strategi Regeneratif Dampak Terhadap Hasil (2025/2026) Parameter Kunci
Inokulasi Mikoriza (AMF) Peningkatan hasil hingga 29% Perluasan area penyerapan air oleh hyphae
Aplikasi Kascing (VC) Peningkatan biomassa 15–20% Stimulasi hormonal dan retensi air tanah
Penggunaan Biochar Aktif Peningkatan hasil butiran 26% Peningkatan porositas dan kapasitas tukar kation
Pertanian Presisi (Sensor) Peningkatan efisiensi air 18% Penyesuaian irigasi berdasarkan data sensor

Skalabilitas Inokulum Mikoriza: Dari Laboratorium ke Skala Industri

Hambatan utama dalam adopsi mikoriza pada lahan jagung yang luas adalah biaya inokulum komersial. Untuk mengatasi hal ini, eksperimen 2026 mengadopsi protokol produksi inokulum di lokasi (on-farm) yang dikembangkan oleh institusi seperti Rodale Institute. Proses ini melibatkan budidaya tanaman inang, seperti rumput bahiagrass (Paspalum notatum), dalam media campuran kompos dan vermikulit yang telah diinokulasi dengan spora mikoriza lokal.

Pada skala semi-industri, penelitian di Senegal dan beberapa wilayah Afrika menunjukkan bahwa residu pertanian seperti kulit kacang tanah, sekam padi, dan tongkol millet dapat digunakan sebagai substrat alternatif yang murah untuk multiplikasi spora mikoriza.38 Penggunaan kulit kacang tanah yang dihancurkan menunjukkan intensitas mikorizasi yang tinggi (53,9%) dan jumlah spora yang sebanding dengan media pasir standar (sekitar 700 spora per 100g substrat).

Untuk produksi inokulum yang steril dan bebas patogen, teknik Root Organ Culture (ROC) pada media padat menjadi pilihan utama di tingkat komersial. Pemilihan agen pengental seperti Gellan gum (0,23% w/v) lebih disukai daripada Phytagel karena menghasilkan struktur gel yang lebih kokoh, transparansi yang lebih baik untuk pengamatan, dan mencegah browning oksidatif pada akar inang, yang secara keseluruhan meningkatkan potensi infektivitas inokulum yang dihasilkan.

Kesimpulan dan Implikasi Strategis Pertanian Regeneratif 2026

Eksperimen bio-hacking jagung yang mengintegrasikan mikoriza, kascing, dan madu mentah merupakan manifestasi dari pergeseran menuju sistem pangan yang lebih tangguh dan efisien secara sumber daya. Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa sinergi komponen-komponen ini tidak hanya meningkatkan produktivitas jagung secara signifikan (lebih dari 100% pada parameter tertentu seperti berat tongkol), tetapi juga memperbaiki kesehatan jangka panjang ekosistem tanah.

Beberapa poin kunci yang menjadi dasar rekomendasi bagi praktisi pertanian adalah:

Optimalisasi NUE dan Pengurangan Input: Penggunaan mikoriza memungkinkan tanaman mengakses cadangan fosfor yang terikat dalam tanah, mengurangi ketergantungan pada pupuk mineral dan memitigasi dampak kenaikan harga pupuk nitrogen di pasar global.

Peran Vital "Sticky Science": Madu mentah berfungsi lebih dari sekadar perekat; ia menciptakan lingkungan mikro yang protektif bagi benih melalui aktivitas antimikroba alami, sekaligus memberikan dorongan energi awal bagi mikroba simbion.

Kesehatan Tanah Sebagai Aset Ekonomi: Dengan adanya platform seperti Biome Makers dan standar RAS, kesehatan tanah kini dapat diukur secara data-driven, memungkinkan petani mendapatkan akses ke pembiayaan berkelanjutan dan premi harga untuk produk yang dihasilkan melalui metode regeneratif.

Adopsi Teknologi Pemantauan: Penggunaan alat seperti Hyphascope dan sistem EIT memungkinkan peneliti dan petani untuk "melihat" efektivitas bio-hacking mereka di bawah tanah, membuat proses budidaya tidak lagi berbasis pada spekulasi melainkan pada bukti empiris yang akurat.

Pertanian jagung di tahun 2026 dan seterusnya akan sangat bergantung pada kemampuan manusia untuk "merestorasi memori" akar tanaman melalui rewilding dan dukungan mikrobioma yang tepat. Paradigma regeneratif ini menawarkan jalan keluar dari siklus degradasi lahan dan ketergantungan kimia, menuju masa depan pertanian yang selaras dengan hukum biologi dan dinamika pasar karbon global yang sedang berkembang.

14 Feb 2023

PEMANFAATAN MIKORIZA SEBAGAI AGEN HAYATI UNTUK BUDIDAYA BAWANG MERAH

Pemanfaatan Agen Hayati Mikoriza Untuk Budidaya Bawang Merah


Pertanian berkelanjutan merupakan salah satu konsep yang tercipta dari buah pikiran manusia bahwa lingkungan tempat manusia berada harus tetap dilestarikan, seiring berkembangnya industrialisasi beserta dampak yang ditimbulkan. Konsep ini menjunjung pada optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam diimbangi dengan pemulihan alam itu sendiri, atau pelaksanaan pertanian dengan memperhatikan kapasitas dari alam itu sendiri. Praktek budidaya secara konvensional oleh para petani dengan penggunaan bahan - bahan kimia sintetik yang terus meningkat menyebabkan terjadinya endapan pada media tanam, sehingga perlunya input bahan untuk mengoptimalkan kembali fungsi tanah. 

Mikoriza merupakan sebuah jamur obligat yang memiliki fungsi untuk perakaran pada tanaman, dilain sisi jamur ini mampu menguraikan unsur – unsur dalam tanah sehingga menjadi cadangan nutrisi yang baik untuk tanaman atau mikroorganisme lain dalam tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengubah perilaku petani baik pengetahuan, sikap, ataupun keterampilan tentang pentingnya pertanian berkelanjutan jika ditinjau dari segi agro indutri atau budidaya tanaman dengan pemanfaatan pupuk mikoriza. 

Baca Juga : Mikoriza Sebagai Agen Hayati Apa Manfaatnya Pada Tanaman Budidaya

Penelitian ini berlokasi di Desa Kunir, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak dengan sampel yaitu petani bawang merah yang tergabung dalam kelompok tani baik ketua, pengurus atau anggota aktif/pasif dengan jumlah total 10 petani. penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif dengan penyebaran kuesioner melalui wawancara dan diskusi dalam penyuluhan. Berdasarkan hasil perbandingan pre test dan post test yang didapat, menunjukkan bahwa terdapat perubahan perilaku melalui penyuluhan pertanian. Aspek pengetahuan meningkat sebesar 28,7%, sikap meningkat sebesar 30,6% dan keterampilan sebesar 43,4%. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa para petani bawang mampu untuk menerapkan pertanian berkelanjutan dalam aspek budidaya tanaman, dengan catatan bimbingan dan monitoring oleh stakeholder pertanian.

Mikoriza Sebagai Agen Hayati

Mikoriza adalah agen hayati yang merupakan simbiosis mutualistik antara jamur dan akar tanaman, di mana jamur membantu tanaman dalam menyerap nutrisi dan air dari tanah, sedangkan tanaman menyediakan karbohidrat untuk jamur. Mikoriza juga dapat membantu meningkatkan keberlanjutan pertanian dengan meningkatkan produktivitas tanaman dan memperbaiki kualitas tanah.

Manfaat Mikoriza Pada Tanaman Bawang Merah

Mikoriza dapat memberikan beberapa manfaat pada tanaman bawang merah, antara lain :
Meningkatkan penyerapan nutrisi : Mikoriza membentuk jaringan akar tambahan yang lebih luas, sehingga dapat membantu tanaman bawang merah menyerap nutrisi dari tanah secara lebih efektif.
Meningkatkan ketersediaan air: Mikoriza juga dapat membantu tanaman bawang merah dalam menyerap dan memanfaatkan air yang tersedia di dalam tanah.
Meningkatkan pertumbuhan tanaman : Dengan membantu penyerapan nutrisi dan air, mikoriza dapat mempercepat pertumbuhan tanaman bawang merah.
Meningkatkan ketahanan tanaman : Mikoriza dapat membantu meningkatkan ketahanan tanaman bawang merah terhadap stres lingkungan seperti kekeringan dan serangan hama atau penyakit.
Meningkatkan kualitas hasil panen : Dengan membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman dan penyerapan nutrisi, mikoriza dapat meningkatkan kualitas hasil panen bawang merah, seperti ukuran, berat, dan rasa.

Suhu Dan Kelembapan Yang Ideal Untuk Pertumbuhan Mikoriza

Suhu dan kelembapan yang ideal untuk pertumbuhan mikoriza bervariasi tergantung pada jenis mikoriza dan tanaman inangnya. Secara umum, berikut adalah kondisi suhu dan kelembapan yang ideal untuk pertumbuhan mikoriza :
Suhu : Sebagian besar jenis mikoriza dapat tumbuh pada suhu antara 15 hingga 30 derajat Celsius. Namun, beberapa jenis mikoriza lebih disukai pada suhu yang lebih rendah atau lebih tinggi.
Kelembapan : Mikoriza membutuhkan kelembapan yang cukup untuk berkembang, namun tidak terlalu lembab. Kelembapan optimal untuk pertumbuhan mikoriza berkisar antara 50 hingga 70 persen.
Perlu diingat bahwa kondisi optimal untuk pertumbuhan mikoriza juga dipengaruhi oleh kondisi tanah dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, sebaiknya konsultasikan dengan ahli pertanian atau pakar mikoriza untuk menentukan kondisi optimal yang sesuai dengan jenis mikoriza dan tanaman inang yang Anda miliki.

Cara Aplikasi Mikoriza Pada Lahan Pertanian

Berikut adalah beberapa cara aplikasi mikoriza pada lahan pertanian :
  1. Campurkan mikoriza dengan pupuk organik : Mikoriza dapat dicampurkan dengan pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang sebelum diberikan pada tanaman. Hal ini dapat membantu mikoriza untuk menyebar secara merata di dalam tanah.
  2. Taburkan langsung ke tanah : Mikoriza dapat ditaburkan langsung ke tanah pada saat penanaman tanaman, atau setelah tanaman tumbuh selama beberapa minggu. Sebaiknya taburkan mikoriza di sekitar akar tanaman, dan jangan langsung ke permukaan tanah.
  3. Larutkan dalam air : Mikoriza dapat di larutkan dalam air untuk kemudian disiramkan ke tanah, namun perlu diingat konsentrasi air tidak boleh terlalu kuat atau terlalu encer.
  4. Aplikasi pada sistem irigasi : Mikoriza juga dapat diberikan melalui sistem irigasi tetes pada lahan pertanian. Ini akan membantu mikoriza menyebar merata ke seluruh area tanah yang terkena irigasi.

Pastikan untuk mengikuti petunjuk aplikasi yang diberikan oleh produsen mikoriza yang Anda gunakan. Selain itu, perlu juga dipastikan bahwa mikoriza yang digunakan sesuai dengan jenis tanaman yang akan ditanam dan kondisi tanah yang ada di lahan pertanian Anda.

Cara Membuat Media Tumbuh Mikoriza
Berikut adalah cara membuat media tumbuh mikoriza :
Bahan-bahan yang dibutuhkan :
  • Arang sekam atau serbuk kayu : 2 bagian
  • Pasir kasar : 1 bagian
  • Vermikulit atau perlit : 1 bagian
  • Kapur pertanian : secukupnya (jika pH tanah rendah)
  • Gula pasir : 1 sendok teh
Langkah-langkah :
  1. Campurkan arang sekam atau serbuk kayu, pasir kasar, dan vermiculite atau perlit dalam wadah bersih.
  2. Tambahkan kapur pertanian jika pH tanah rendah, dengan takaran secukupnya agar pH tanah menjadi netral.
  3. Tambahkan gula pasir untuk membantu merangsang pertumbuhan mikoriza.
  4. Aduk dan campurkan bahan-bahan tersebut hingga merata.
  5. Media tumbuh mikoriza siap digunakan.
  6. Setelah media tumbuh mikoriza siap, Anda dapat menanam benih tanaman atau memindahkan bibit tanaman ke media tersebut. Pastikan untuk memberikan air secukupnya agar media tetap lembab. Selain itu, jangan lupa untuk memperhatikan kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembapan, karena hal tersebut juga mempengaruhi pertumbuhan mikoriza.
Macam Macam Mikoriza
Berikut adalah beberapa macam mikoriza yang sering ditemukan :
  1. Arbuskular Mikoriza (AM) : Jenis mikoriza ini paling umum dan ditemukan pada sebagian besar tanaman. AM membentuk struktur khusus yang disebut arbuskula di dalam sel tanaman inang, dan membantu tanaman dalam menyerap nutrisi seperti fosfor dan nitrogen dari tanah.
  2. Ektomikoriza (EM) : Jenis mikoriza ini umumnya ditemukan pada tanaman pohon seperti pinus, oak, dan birch. EM membentuk lapisan miselium di sekitar akar tanaman dan membentuk struktur khusus yang disebut jaringan Hartig di luar sel tanaman inang.
  3. Ericoid Mikoriza : Jenis mikoriza ini ditemukan pada tanaman Erica dan tanaman heath lainnya. Ericoid mikoriza membentuk struktur mirip akar kecil di sekitar akar tanaman inang dan membantu menyerap nutrisi seperti nitrogen dari tanah.
  4. Mikoriza Vesikular-Arbuskular (VAM) : Jenis mikoriza ini ditemukan pada tanaman di hampir semua keluarga tumbuhan. VAM membentuk struktur khusus yang disebut vesikel dan arbuskula di dalam sel tanaman inang dan membantu tanaman dalam menyerap nutrisi dari tanah.
  5. Orchid Mycorrhiza : Jenis mikoriza ini ditemukan pada tanaman anggrek dan spesies tumbuhan lain yang terkait. Orchid mycorrhiza membantu tanaman dalam menyerap nutrisi dari bahan organik dan memainkan peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman anggrek.

Setiap jenis mikoriza memiliki peran yang berbeda-beda dalam membantu pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui jenis mikoriza yang cocok untuk tanaman yang akan ditanam agar dapat memaksimalkan manfaatnya.

Demikian sahabat tani penjerlasan singkat tentang cara aplikasi mikoriza untuk budidaya bawang merah, Jika sahabat tani berminat membeli produk dari kami silahkan chats admin. Semoga Bermanfaat.....Wassalam.. 

MagazinNaturistBIO : Magazin BIO Cuproduse Naturiste Manastirea Paltin Petru Voda
Produk Pertanian :

    PGPR  Harga Rp. 25.000/Liter
  • Fish Amino Acids Rp. 25.000/½Liter
  • Brown Rice Vinegar Rp. 50.000/Liter
  • Coryn Bacteria Harga Rp. 30.000/½Liter
  • Bio-Pestisida Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Polymixa Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Tricoderma Harga Rp. 50.000/Kg
  • Mikoriza Harga Rp. 50.000/Kg
  • Waiting Agen Rp. 30.000/Liter
  • Madam Sulfur Rp. 30.000/Liter

Peternakan :

  • Probiotik EXTRA 99 PLUS Rp. 20.000/Liter
  • Oriental Herbal Nutrien Rp. 25.000/Liter
  • Dekomposer EXTRA 88 Rp. 25.000/liter
  • Enzim Rp. 30.000/Liter
  • Desinfektan Rp. 20.000/Liter

CV. Griya Tani Indonesia

Office Address :

D/a : Jl. K Mustajib RT 001/002 Kel Kunir Kec Dempet Kab Demak Jawa Tengah 59573 

 

Kontak Person

 

Copyright © 2020 CV. Griya Tani
All right PORTAL LADUNI 74

22 Jan 2023

PERANAN ELISYTOR SEBAGAI PEMICU PERTAHAN TANAMAN DARI SERANGAN PATHOGEN

PERANAN ELISYTOR SEBAGAI PEMICU PERTAHAN TANAMAN DARI SERANGAN PATHOGEN


Peningkatan produksi pertanian selalu diharapkan oleh patani baik dari segi kualitas dan kuantitasnya. Namun, peningkatan produksi tidaklah mudah untuk dicapai. Banyak kendala yang dihadapi, salah satunya adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Serangan OPT dilaporkan banyak menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, bahkan dapat menyebabkan gagal panen. Oleh karena itu, dibutuhkan tidandakan pengendalian. Saat ini para petani lebih banyak menggunakan pestisida sintetik/kimia, dibanding dengan pestisida nabati, karena pestisida sintetik pembuatannya masal dan murah, serta mempunyai daya bunuh yang cepat.

Banyak pakar menyarankan, penggunaan pestisida harus tepat. Artinya, pestisida yang diaplikasikan efektif dan ampuh. Selain itu, pengginaan pestisida kimia juga harus bijaksana, artinya dapat menekan dampak negatif pestisida terhadap pengguna, konsumen dan lingkungan serta bersifat ekonomis dan efisien. Penggunaan pestisida yang berlebihan dan cara aplikasi yang tidak bijaksana memberikan dampak negatif, seperti pencemaran lingkungan, kematian hewan non-target, penyederhanaan rantai makanan alami dan keragaman hayati, Bioakumulasi/Biomagnifikasi, resistensi hama dan terbunuhnya musuh alami.

Perlu diingat bahwa pengembangan pertanian saat ini, mengsyaratkan jaminan produk pertanian yang aman dikonsumsi (food safety attributes), punya kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (Eco Labelling Attributes). Maka untuk merealisasi jaminan produk pangan, beberapa program yang dilakukan antara lain: 1) Program peningkatan ketahanan pangan, 2) Program pengembangan agribisnis, dan 3) Program pengembangan pertanian organik dan penggunaan pestisida. Oleh karena itu, perlu terobosan baru dalam tindakan pengendalian OPT yang aman, murah, dan ramah lingkungan.

Pertanian Ramah Lingkungan

Konsep pertanian ramah lingkungan adalah konsep pertanian yang mengedepankan keamanan seluruh komponen agroekosistem. Pertanian ramah lingkungan mengutamakan untuk menekan dampak negatif penggunana pestisida bagi lingkungan. Saat ini, telah banyak dikembangkan pestisida alternatif sebagai pengganti pestisida kimia, yaitu pestisida nabati. Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tanaman atau tumbuhan dan bahan organik lainya yang berkhasiat mengendalikan serangan hama dan patogen pada tanaman. Pestisida nabati saat diaplikasikan dapat mengendalikan serangan hama dan patogen. Nilai lebih dibandingkan dengan pestisida kimia adalah  residu pestisida nabati akan hilang di alam. Dengan demikian produk terbebas dari residu pestisda sehingga aman dikonsumsi manusia. Pestisida nabati dapat menjadi alternatif pengendalian hama yang aman dibanding pestisida sintetik.

Selain digunakan sebagai bahan untuk membuat pestisida nabati, berbagai tumbuhan telah diteliti berpotensi sebagai elisitor yaitu antara lain :

  1. Daun Bayam Duri (Amaranthus Spinosus), 
  2. Daun Iler/Jawer Kotok (Coleus Scutellarioides), 
  3. Daun Kenikir (Tagetes Erecta), 
  4. Daun Nimba (Azadirachta Indica), 
  5. Daun Sirsak (Annona Mucicata) 
  6. Daun Tapak Dara (Cataranthus Roseus). 

Tetumbuhan tersebut ternyata dapat  menghasilkan senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, steroid dan terpenoid, senyawa metabolit sekunder berpotensi dijadikan sumber gen resisten terhadap hama dan patogen.

Tanaman Sebagai Elisitor

Tanaman elisitor adalah suatu tanaman yang mengandung senyawa biologis yang dapat menyebabkan peningkatan produksi fitoaleksin apabila diaplikasikan pada tumbuhan atau kultur sel tumbuhan. Elisitor dapat berasal dari bakteri, jamur, virus, senyawa polimer karbohidrat, protein, lemak dan mikotoksin sebagai elisitor biotik, dan elisitor abiotik seperti sinar UV, ion-ion logam dan hormon dan molekul-molekul pengkode resistensi tanaman. Elisitor dapat memicu respon fisiologis, morfologis dan akumulasi fitoaleksin, sebagai molekul yang mengaktifkan sinyal transduksi dan menyebabkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosisntesis metabolit sekunder. Kemudian pada tahun 2005 Sampai 2006 ada penemuan Tanaman akan mendapatkan aktivator alami misalnya, Glikosida Benzoxazinoid dari Zea Mays dan Glikosiada Isoflavonoid dari tanaman kacang - kacangan.

Penelitian elisitor alami telah dilakukan pada tahun 2000, Dengan mengekstrak Tanaman Beluntas (Plucea Indica) berpotensi sebagai penginduksi resistensi tanaman cabai merah terhadap penyakit Antraknos Colletotrichum Gloesporioides. Selanjutnya pada tahun 2001 menunjukkan penggunaan ekstrak tanaman sebagi elisitor dari daun Bunga Pukul Empat (Mirabilis jalapa), daun Bunga Pagoda (Clerodendrum Japonicum) dapat menginduksi resistensi tanaman cabai terhadap Virus Gemini. Tumbuhan sambiloto (Andrographis Paniculata) berpotensi elisitor tanaman jahe terhadap penyakit Layu Bakteri Ralstonia Solanacearum.

Sementara itu, Penelitian yang dilaksanakan pada tahunn 2019 mendefinisikan,  tanaman elisitor adalah suatu tanaman yang mengandung senyawa kimia yang dapat memicu respon fisiologi, morfologi dan akumulasi fitoaleksin, meningkatkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosintesis metabolit sekunder. Lebih lanjut dikatakan bahwa elisitor dapat menginduksi resistensi tumbuhan. Elisitor terdiri atas dua jenis yaitu ada elisitor biotik dan abiotik. Elisitor  biotik adalah elisitor yang berasal dari bahan hayati meliputi polisakarida, protein, glikoprotein atau fragmen dinding sel yang berasal dari fungi, bakteri, dan tanaman. Elisitor abiotik adalah zat yang dihasilkan dari bahan non hayati berupa logam berat, garam anorganik, pH, stress suhu, cahaya, dan sebagainya. 

Peran Elisitor Untuk Memacu Resistensi Tanaman

Resistensi tanaman terhadap patogen sering didefinisikan  sebagai kemampuan tanaman untuk mengurangi, menghambat atau membatasi serangan patogen. Secara umum tumbuhan akan memberikan respon terhadap serangan patogen dan respon tersebut akan bertanggung jawab terhadap resistensi tanaman terhadap patogen. Akibat adanya serangan patogen akan memberikan reaksi pertahanan untuk melindunginya. Tanaman akan mempertahankan diri dengan dua cara, yaitu :

  1. Adanya sifat-sifat struktural pada tanaman yang berfungsi sebagai penghalang fisik dan akan menghambat patogen untuk masuk dan menyebar di dalam tanaman, dan 
  2. Respon biokimia yang berupa reaksi kimia yang terjadi di dalam sel dan jaringan tanaman sehingga patogen dapat mati atau terhambat pertumbuhannya.

Tanaman akan memberikan respon terhadap patogen dengan cara berbeda. Respon tersebut ada yang berinteraksi dan ada yang tidak berinteraksi. Pada kasus tertentu terjadi hubungan yang inkompatibel antara tanaman dan patogen (tanaman adalah resisten) atau hubungan yang kompafibel (tanaman adalah rentan). Namun interaksi yang terjadi antara tanaman dan patogen yang menyerangnya sangatlah rumit dan banyak melibatkan reaksi biokimia. Pada kondisi yang normal, tanaman resisten terhadap kebanyakan mikroorganisme patogen. Hanya relatif sedikit terdapat kombinasi hubungan patogen-inang yang terjadi. Kejadian biokimia yang terdapat pada interaksi tanaman inang dan bukan inang dengan suatu patogen adalah sama, tetapi intensitasnya dan bentuk penampilannya tergantung pada kondisi lingkungan dan fisiologinya. Kombinasi antara sifat struktural dan reaksi biokimia yang digunakan untuk pertahanan bagi tanaman berbeda antara setiap sistem kombinasi inang-patogen. Dapat terjadi pada hubungan inang-patogen yang sama, kornbinasi tersebut dapat berbeda tergantung pada umur tanaman, jenis organ, jaringan tumbuhan yang diserang, keadaan hara tumbuhan, dan kondisi cuaca.

Telah banyak penelitian diarahkan pada upaya pengaktifan gen ketahanan tanaman terhadap infeksi mikroba lain atau senyawa kimia. Ketahanan seperti ini disebut ketahanan yang diinduksi (Induced Iesistance). Induksi resistensi atau imunisasi atau resistensi buatan ialah suatu proses stimulasi resistensi tanaman inang tanpa introduksi gen-gen baru. Induksi resistensi menyebabkan kondisi fisiologis yang mengatur sistem ketahanan menjadi aktif dan atau menstimulasi mekanisme resistensi alami pada tanaman inang.

Dua bentuk ketahanan terinduksi yang umum diteliti, yaitu Systemic Acquired Resistance (SAR) dan Induced Systemic Resistance (ISR). Ketahanan tanaman terinduksi dapat dipicu dengan penambahan bahan-bahan kimia tertentu (misalnya tanaman elisitor), mikrob nonpatogen, patogen avirulen, ras patogen inkompatibel, dan patogen virulen yang infeksinya gagal karena kondisi lingkungan tidak mendukung.

Ketahanan tanaman yang terinduksi oleh penambahan senyawa kimia atau senyawa elisitor diistilahkan dengan induksi SAR. Induksi SAR dicirikan dengan terbentuknya akumulasi asam salisilat (Salicylic Acid/SA) dan Protein PR (Pathogenesisrelated Proteins/PR), sedangkan ketahanan terinduksi karena agen biotik nonpatogenik sering dikenal dengan ISR.

Menurut penelitian yang dilakukan pada tahunn 2013, bahwa induksi resistensi dapat dilakukan melalui aplikasi agens hayati (seperti rizobakteria nonpatogen) dan senyawa kimia (sintetik dan nabati). Keberhasilan senyawa penginduksi dalam mengendalikan serangan patogen tanaman berkisar antara 20–89%, bergantung pada jenis tanaman, kondisi fisiologis, dan faktor abiotik seperti kelembaban dan suhu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak tanaman sebagai elisitor berupa daun bunga pukul empat (Mirabilis Jalapa) dan daun bunga pagoda (Clerodendrum japonicum) paling efektif menginduksi ketahanan tanaman cabai terhadap virus Gemini. Selanjutnya ada laporan bahwa ekstrak tanaman Sambiloto mengandung elisitor pemicu ketahanan tanaman terhadap penyakit layu bakteri, dengan tingkat keefektifan sebanding dengan perlakuan senyawa kimia asam salisilat+Ca.

Mekanisme induksi resistensi berkaitan dengan peningkatan produksi beberapa jenis protein pathogenesis related-proteins (PRP), antara lain kitinase, b-1,3 glutanase, proksidase, endoproteinase, dan oxalate oksidase. Mayoritas protein tersebut bekerja melalui sintesis senyawa penyandi ketahanan seperti asam salisilat, asam jasmonat, dan etilen, serta aktivitas anti mikrob melalui hidrolisis dinding sel, toksik, dan signal ketahanan. Senyawa elisitor tersebut terekspresi pada kondisi tanaman senesen, terluka, stress dingin, tetapi ada yang juga terekspresi pada setiap saat dalam jaringan bunga, pollen, buah dan bagian vegetatif yang mekanisme kerjanya menyerupai kerja imunitas pada manusia.

Ekstrak tanaman Salix sp., telah digunakan di beberapa negara dan terbukti efektif sebagai induser ketahanan yang dapat mengendalikan beberapa patogen tanaman, di antaranya adalah untuk mengendalikan penyakit bercak ungu yang disebabkan oleh Alternaria porii pada bawang merah, dan penyakit Virus Kuning (Bean Yellow Mosaic Virus) pada Cabe Merah Keriting, bahwa beberapa Spesies Salix (seperti : Salix Alba, S. Daphnoides, S. Purpurea, S. Matsudana), umumnya mengandung senyawa Glikosida, seperti Salicin, dan diidentifikasi juga beberapa senyawa Terpen, Flavonoid, dan beberapa jenis Steroid yang berperan menghambat perkembangan patogen.

Kesimpulan

Elisitor asal tetumbuhan merupakan senyawa kimia yang dapat memicu respon fisiologi, morfologi dan akumulasi fitoaleksin, meningkatkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosintesis metabolit sekunder. Ketahanan tanaman terinduksi dapat dipicu dengan penambahan elisitor.  Induksi SAR dicirikan dengan terbentuknya akumulasi asam salisilat (Salicylic Acid/SA) dan protein PR (Pathogenesis Related Proteins/PR)

Demikian Penjelasan tentang extrak tanaman sebagai elisitor, ternyata mampu memicu resistensi tanaman dari berbagai serangan patogen. semoga bermanfaat sampai jumpa.

21 Des 2022

YANG HARUS DILAKUKAN SEBELUM BETERNAK BURUNG PUYUH PETELUR

YANG HARUS DILAKUKAN SEBELUM BETERNAK BURUNG PUYUH PETELUR


Langkah Pertama : Kumpulkan informasi tentang burung-burung ini, 
Pelajari tentang lingkungan tempat mereka tumbuh - Suhu, cahaya, dan kelembaban yang tepat untuk pemeliharaan,
Informasi tentang berbagai metode pemeliharaan.
Dalam pilih varietas dan metode pemeliharaan tergantung pada jenis apa yang anda pilih

Langkah Kedua : Pada tahab ini pembangunan rumah kandang ( kandang pemeliharaan ), Persiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pembangunan Rumah Kandang.
Rumah Dengan ukuran Panjang 10 Meter x Lebar 6 Meter mampu menampung 3000-4000 ekor burung puyuh. Dalam membangun rumah Kandang ini yang harus diperhatikan adalah Sirkulasi udara yang baik. Karena dengan sirkulasi udara yang baik kenyamanan burung puyuh akan meningkatkan kesehatan dan daya produksi yang lebih baik.

Langkah Ketiga : Memilih metode perawatan yang anda favoritkan dan pilih  menjaga lingkungan tumbuh sehat di Peternakan Anda harus menjadi Prioritas utama.
Anda juga akan belajar tentang reproduksi dan proses merawat  DOQ atau Anakan Puyuh
Cara merawat DOQ yang baru lahir.
Membuat Box Pembesaran untuk masa Starter yaitu Puyuh usia 0 - 25 hari, untuk 1000 ekor DOQ anda membutuhkan Box Brodeeng Dengan ukuran Panjang 2 Meter lebar 60 cm Tinggi 25 cm mampu menampung 250 ekor DOQ. Umur 0 -14 hari, setelah Usia 14 -30 hari ukuran Kandang tersebut mampu menampung kurang lebih 125 ekor kesimpulan-Nya untuk Populasi 1000 ekor kita membutuhkan 8 set Kandang Brodeeng ( Box Pembesaran ) namun tahap ini bisa anda abaikan jika anda ingin memelihara Burung Puyuh ini sejak Usia 30 hari ( Pullet )

Kandang Puyuh Petelur
Untuk Populasi 1000 ekor Burung Puyuh kita membutuhkan 8 set Kandang Petelur dengan ukuran Panjang 100 cm  Lebar 50 Tinggi 22 cm mampu menampung 25-30 ekor Burung Puyuh. 1set Kandang Petelur ini terdiri dari 5 kotak di susun ke atas jadi total kapasitas 25 - 30 ekor x 5 kotak, dengan demikian untuk 1000 ekor yang kita butuhkan 8 set Kandang
Yang harus diperhatikan selanjutnya adalah Temperatur, Cahaya, dan Kelembaban yang Cocok untuk Burung Puyuh :
Pengaturan Cahaya dapat dicapai dengan menggunakan lampu listrik dan sinar matahari.
0 - 7 hari Anakan Burung Puyuh ini membutuhkan 24jam pencahayaan sebagai sumber panas. 7 hari sampai 21 hari  Burung Puyuh ini membutuhkan pencahayaan selama 13-14 jam Dan, proses ini akan berlanjut sampai total waktu pencahayaan / sehari adalah 15-16 jam. Lebih penting lagi, untuk menghasilkan jumlah telur maksimum, mereka akan membutuhkan 16 jam cahaya ketika mereka berusia sekitar 9 minggu - Afkir
Keistimewaan Burung Puyuh ini adalah mereka dapat dengan mudah beradaptasi dengan kelembaban  40-70%. Namun, kelembaban yang baik untuk Burung Puyuh ini adalah 55-60% 
Jika kelembaban relatif lebih tinggi maka bulu mereka akan menjadi lembab, masalah pernapasan dan meningkatkan kemungkinan jamur. Jika kelembaban relatif kurang maka bulunya akan menjadi kasar. Inilah Pentingnya Pengaturan Sirkulasi Udara di Rumah Kandang

Membuat Rencana Bisnis : 
Pada bagian ini, saya akan membahas rencana pemasaran, biaya, dan keuntungan usaha di bidang Peternakan Burung Puyuh ini.
Mencari Pengepul Telur Puyuh yang mau rutin mengambil hasil Produksi Burung Puyuh Anda lakukan Komitmen kedua belah pihak untuk saling menguntungkan
Melakukan modal Awal untuk memulai Berternak Burung Puyuh ini 
Misal modal untuk 1000 ekor Burung Puyuh

PERMODALAN  FASE STARTER :
Harga DOQ  : 1000 ekor x @ Rp.2000 = Rp. 2.000.000
Biaya pakan 0 - 25 hari Rp.3500/ Ekor dengan demikian 2500 x 1000 ekor = Rp.2.500.000
Biaya pembuatan kandang : 1000 
Brooding Box :
Panjang 100 x 60 x 25 cm Rp.100.000 x 10 set = Rp. 1.000.000
Kandang Produksi :
Panjang 100 cm x 50 cm x 22 cm Kapasitas 25 - 30 Ekor satu set terdiri 5 Kotak mampu menampung 200 ekor jadi kita membutuhkan 8 set Kandang Petelur dengan kisaran harga Rp. 750.000/set x 8 = Rp. 6.000.000 ( otomatis )
Toal Modal = Rp. 11.500.000

BIAYA PEMELIHARAAN FASE GROWER :
Pada masa ini Puyuh sudah berumur 25-50 hari
Jenis Pakan untuk Fase ini Pakan ayam Pedaging dengan Kisaran Harga Rp. 420.000
Harga Pakan : Rp.8.400/Kg. Tiap ekor puyuh membutuhkan : 22,5 gram Pakan/ekor/hr.
Biaya pakan Pada Periode Grower  1000 Ekor 22.5 x Rp.8.400 = Rp 189.000 x 25 hari = Rp. 4.725.000
Total Biaya Modal Awal Rp. 16.225.000

BIAYA OPERATIONAL PERHARI FASE PRODUKSI :
Biaya Operasional dimulai saat Puyuh sudah mulai bertelur sampai dengan Afkir
Dari 1000 Ekor Puyuh Petelur ini 24 jam kita membutuhkan biaya sebagai berikut :
Biaya Pakan :
Asumsi Pakan yang kami gunakan adalah Pakan Modifikasi ( Self Mixing )
Harga pakan Self Mixing Rp. 5000/kg
Pakan 5000 x 22.5 gram x 1000 = Rp. 112.500 x 30 = Rp. 3.375.000
Biaya Obat : Rp. 25.000
Total : 3.375.000 + 25.000 = Rp. 3.400.000/bln
Akumulasi biaya Harian Rp. 113.500
LABA BERSIH :
Produksi telur puyuh pada puncak produksi bisa sampai 95%, dan stabil di angka 85%
Dengan Perhitungan sebagai berikut : 
1000ekor x 85% x 1 hari = 850 butir.
Dengan Harga Jual 250 x 850 butir = Rp. 212.500 x 30 = Rp. 6.375.000
Keuntungan Bersih 6.375.000 - 3.405.000 = Rp. 2.975.000

BEP NILAI INVESTASI
Modal awal yang Kita investasikan untuk bidang usaha berteriak burung puyuh ini adalah 
Total Biaya Bulanan : Rp. 3.405.000
Total Pendapatan bulanan : 6.375.000 
Rumus 
Rp. 3.405.000 - 6.375.000 = Rp. 2.970.000 x 5.5 bln = Rp. 16.335.000
Dengan demikian sejak Burung Puyuh produksi dalam jangka waktu 5.5 bulan Nilai investasi yang kita lakukan sudah kembali

BIAYA POKOK/BUTIR
HARGA BEP = Rp.113.5/Butir. Jadi pada harga tersebut peternak tidak untung dan atau juga tidak rugi. Selama harga jual peternak selalu diatas harga @ Rp.113.5/butir maka peternak akan selalu untung.

ROI (Return on investment)
Persentase Keuntungan : Rp. 2.970.000/3.405.000 = 87%
Tinggal anda kalikan minimal 12 bulan saja berapa inkam yang anda dapatkan. 
Berani Mencoba....?

Demikian penjelasan tentang bagaimana dan apa saja yang di persiapkan untuk memulai bisnis Usaha Burung Puyuh ini, dengan kalkulasi lengkap untuk dan rugi. 
Mungkin kalau pembaca ada yang ingin di tanyakan bisa langsung komentar

Produk Peternakan :
  1. Probiotik EXTRA 99 PLUS      Harga Rp. 20.000/Liter
  2. Oriental Herbal Nutrien             Harga Rp. 25.000/Liter
  3. Dekomposer EXTRA 88            Harga Rp. 25.000/liter
  4. Enzim                                         Harga Rp. 30.000/Liter
  5. Desinfektan                                 Harga Rp. 25.000/Liter

CV. Griya Tani Indonesia
Office Address :
D/a : Jl. K Mustajib RT 001/002 Kel Kunir Kec Dempet Kab Demak Jawa Tengah 59573 
Kontak Person