Agriculture Farming Service

Agriculture Farming Service – Layanan pertanian modern yang membantu petani meningkatkan hasil panen melalui teknologi, manajemen lahan, dan solusi berkelanjutan

Breaking News

Breaking News! Simak kabar terbaru dan paling update hanya di sini. Kami hadir menyajikan informasi tercepat, akurat, dan terpercaya langsung dari lapangan. Jangan lewatkan momen penting yang sedang terjadi sekarang juga!

Seputar Olah Raga

Breaking News Olahraga! ⚽🏀🏸

Update tercepat tentang kabar olahraga terkini dari dalam dan luar negeri. Mulai dari sepak bola, bulu tangkis, basket, hingga olahraga trending lainnya. Simak informasi paling fresh dan jangan lewatkan momen bersejarah di dunia olahraga!

📌 Subscribe dan aktifkan notifikasi 🔔 biar nggak ketinggalan kabar terbaru.

Channel Katebat

KATEBAD ala kocak! 🤣🎥

Film pendek parodi yang menggabungkan berita terkini dengan sentuhan humor segar. Dijamin bikin ngakak tapi tetap ada pesan yang bisa dipetik. Tonton sampai habis, karena ending-nya bikin kaget!

📌 Jangan lupa Subscribe, kasih like 👍, dan share ke teman biar ikut ketawa bareng.

Info Seputar Megawati

Arabica Coffee House Kadınlar 1. Ligi, adalah nama resmi dari kompetisi Voleybol Kadınlar 1. Ligi di bawah naungan Türkiye Voleybol Federasyonu (TVF), yang kini menjadi penyelenggara utama dengan status nama sponsor

Tampilkan postingan dengan label BAKTERI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAKTERI. Tampilkan semua postingan

27 Jan 2023

SUDAH JELAS KALAU BIOSAKA ITU BUKAN PUPUK

Mengenal Lebih Jauh Tentang Biosaka : Elisitor yang Meningkatkan Produktivitas Tanaman



Biosaka telah menjadi sorotan banyak petani di Indonesia karena diketahui mampu meningkatkan produktivitas tanaman dan meminimalisir serangan hama dan penyakit pada tanaman. Berawal dari Blitar pada tahun 2019, kini Biosaka sudah menyebar di wilayah nusantara dari Aceh hingga Papua. Namun, masih banyak yang bertanya-tanya apa sebenarnya Biosaka dan apa kandungan di dalamnya sehingga mampu memberikan manfaat bagi tanaman. Dalam artikel ini, kita akan mengenal lebih jauh tentang Biosaka dan bagaimana cara kerjanya dalam meningkatkan produktivitas tanaman.

Biosaka Bukan Pupuk

Biosaka bukanlah pupuk, melainkan elisitor. Elisitor adalah zat yang mampu memicu respon pertahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit, sehingga tanaman menjadi lebih kuat dan sehat. Dengan demikian, Biosaka dapat membantu meningkatkan produktivitas tanaman secara alami.

Ramuan Biosaka
Biosaka diramu dari berbagai jenis rumput-rumputan dan tanaman. Menurut penemunya, Muhamad Ansar, minimal 5 jenis tanaman dipilih sebanyak satu genggaman tangan. Tanaman yang digunakan biasanya adalah tanaman yang tumbuh di sekitar areal sawah/ladang, seperti babadotan, tutup bumi, kitolod, maman ungu, patikan kebo, meniran, anting-anting, jelantir, sembung, dan sebagainya. Jenis tanaman ini dipilih yang sehat, tidak terkena hama dan penyakit. Setelah itu, sebanyak satu genggaman tangan tanaman tersebut diremas dalam air 2-5 liter air. Hasil remasan tersebut, di mana air menyatu dengan saripati tanaman (homogen), bisa langsung diaplikasikan pada tanaman dan sisanya bisa disimpan untuk aplikasi berikutnya.
Manfaat Kandungan Senyawa Fitokimia pada Biosaka

Apabila kita kaji lebih mendalam, tanaman yang selama ini disebut gulma, ternyata memiliki banyak manfaat, bukan hanya untuk tanaman tetapi juga bagi kesehatan manusia. Tanaman tersebut memiliki kandungan senyawa fitokimia seperti alkaloid, flavonoid, terpenoid, steroid, saponin, tanin, fenolik, dan kuinon. Jika tanaman tersebut dikombinasikan dalam pembuatan Biosaka, tentu saja dalam ramuan Biosaka akan terdapat kandungan senyawa fitokimia tersebut.

Kandungan senyawa fitokimia dalam Biosaka telah terkonfirmasi dari sampel Biosaka yang diuji di salah satu laboratorium Liquid. Manfaat dari kandungan senyawa fitokimia pada Biosaka dapat dijelaskan sebagai berikut :

Alkaloid : Untuk pelindung tanaman dari penyakit, serangan hama, sebagai pengatur perkembangan, dan sebagai basa mineral untuk mengatur keseimbangan ion pada bagian-bagian tanaman.

Flavonoid : Mengatur pertumbuhan, juga memiliki peran penting dalam mengatur pertumbuhan tanaman. Selain itu, senyawa ini juga dapat berfungsi sebagai pigmen dalam bunga dan buah-buahan. Beberapa jenis flavonoid juga memiliki sifat antioksidan yang dapat membantu melindungi tanaman dari kerusakan akibat radikal bebas dan kondisi lingkungan yang buruk. Selain itu, flavonoid juga terbukti memiliki manfaat bagi kesehatan manusia, seperti membantu menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan kanker.

Baca Juga : Peranan Elisitor Pada Tanaman

Beberapa jenis tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan baku pembuatan biosaka antara lain: Babadotan (Ageratum conyzoides L), tutup bumi (Elephantopus mollis Kunth), Kitolod (Hippobroma longiflora), maman ungu (Cleome rutidosperma), Patikan kebo (Euphorbia hirta L), Meniran (Phyllanthus niruri L), anting-anting  (Acalypha australis. L), jelantir (Erigeron sumatrensis Retz), sembung (Baccharis balsamifera L.), sembung rambat (Eupatorium denticulatum Vahl) dan sebagainya. Jenis tanaman ini dipilih yang sehat, tidak terkena hama dan penyakit. Minimal 5 jenis tanaman yang diambil, lebih banyak lebih bagus. Sebanyak satu genggaman tangan kemudian diremas dalam air 2-5 liter air. Hasil remasan tersebut, dimana air menyatu dengan saripati tanaman (homogen). Setelah itu bisa langsung diaplikasikan, dan sisanya bisa disimpan untuk aplikasi berikutnya. 
Biosaka dan beberapa jenis tanaman

Cara Membuat Biosaka

Setelah mengetahui berbagai jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan biosaka, selanjutnya adalah bagaimana cara membuat biosaka yang benar. Berikut adalah langkah-langkah pembuatan biosaka yang dapat dilakukan:

Pilih beberapa jenis tanaman yang sehat dan tidak terkena hama dan penyakit.

Ambil minimal 5 jenis tanaman dan remas dalam air sebanyak 2-5 liter.

Setelah diramas, air yang menyatu dengan saripati tanaman tersebut menjadi homogen. Saring menggunakan kain untuk memisahkan sisa-sisa tanaman yang tidak terkikis.

Biosaka siap digunakan dan sisanya dapat disimpan untuk aplikasi berikutnya.

Manfaat Penggunaan Biosaka

Pemanfaatan biosaka pada tanaman budidaya memiliki berbagai manfaat, di antaranya:

Efisiensi biaya usaha tani (low cost), karena bahan baku pembuatan biosaka mudah didapatkan.

Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tanaman.

Meminimalisir serangan hama dan penyakit pada tanaman.

Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap perubahan lingkungan, seperti cuaca ekstrem.

Dalam studi yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Padi pada tahun 2020, penggunaan biosaka pada tanaman padi menghasilkan peningkatan produksi sebesar 10-20% dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia. Selain itu, biosaka juga memiliki efek positif pada kualitas gabah, seperti kandungan protein yang lebih tinggi dan rasa yang lebih gurih.

Manfaat dari kandungan senyawa fitokimia dapat dijelaskan sebagai berikut :

  • Alkaloid   : Untuk pelindung tanaman dari penyakit, serangan hama, sebagai pengatur perkembangan, dan sebagai basa mineral untuk mengatur keseimbangan ion pada bagian-bagian tanaman.
  • Flavonoid  : Mengatur pertumbuhan, juga sebagai antioksidan dan antibakteri
  • Terpenoid  : Hormon pertumbuhan tanaman; antifeedant serangga, anti bakteri
  • Steroid       : Meningkatkan laju perpanjangan sel tumbuhan, merangsang pertumbuhan pucuk daun, meningkatkan resistensi terhadap stress lingkungan
  • Tanin         :  Melindungi tumbuhan dari hama dan antibakteri
  • Saponin    : Antimikroba, menghambat jamur dan melindungi tanaman dari serangan serangga
  • Fenolik     : Melindung terhadap sinar UV-B dan kematian sel, untuk melindungi DNA dari dimerisasi dan kerusakan
  • Kuinon      : Berperan dalam repirasi sel dan fotosintesis, antibakteri, antifungi
Karena adanya kandungan senyawa terbut di atas, maka ramuan biosaka dirasakan manfaatnya oleh para petani yang sudah melakukan aplikasi biosaka terhadap tanaman yang dibudidayakannya. Tidak hanya sampai disitu, pada saatnya nanti biosaka juga dapat dirasakan manfaatnya bukan hanya bagi tanaman, tetapi juga bagi kesehatan manusia. Tentu saja dengan perlakukan pembuatan yang berbeda. Dan juga pemilihan tanaman disesuaikan dengan kondisi kesehatan yang dihadapi. Dalam dunia Farmasi, kajian tentang pemanfaatan tanaman sebagai obat herbal sudah lama dilakukan. (Diolah dari berbagai sumber). 

Kesimpulan

Biosaka merupakan salah satu alternatif pengganti pupuk kimia yang ramah lingkungan dan murah. Biosaka dapat dibuat dari berbagai jenis tanaman yang biasanya dianggap sebagai gulma, namun memiliki banyak manfaat untuk tanaman dan kesehatan manusia. Pemanfaatan biosaka pada tanaman budidaya dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, meminimalisir serangan hama dan penyakit, serta meningkatkan daya tahan tanaman terhadap perubahan lingkungan. Dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian dan menjaga kelestarian lingkungan, penggunaan biosaka sebagai elisitor pada tanaman budidaya dapat menjadi alternatif yang baik.

Artikel Terkait :



22 Jan 2023

PERANAN ELISYTOR SEBAGAI PEMICU PERTAHAN TANAMAN DARI SERANGAN PATHOGEN

PERANAN ELISYTOR SEBAGAI PEMICU PERTAHAN TANAMAN DARI SERANGAN PATHOGEN


Peningkatan produksi pertanian selalu diharapkan oleh patani baik dari segi kualitas dan kuantitasnya. Namun, peningkatan produksi tidaklah mudah untuk dicapai. Banyak kendala yang dihadapi, salah satunya adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Serangan OPT dilaporkan banyak menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, bahkan dapat menyebabkan gagal panen. Oleh karena itu, dibutuhkan tidandakan pengendalian. Saat ini para petani lebih banyak menggunakan pestisida sintetik/kimia, dibanding dengan pestisida nabati, karena pestisida sintetik pembuatannya masal dan murah, serta mempunyai daya bunuh yang cepat.

Banyak pakar menyarankan, penggunaan pestisida harus tepat. Artinya, pestisida yang diaplikasikan efektif dan ampuh. Selain itu, pengginaan pestisida kimia juga harus bijaksana, artinya dapat menekan dampak negatif pestisida terhadap pengguna, konsumen dan lingkungan serta bersifat ekonomis dan efisien. Penggunaan pestisida yang berlebihan dan cara aplikasi yang tidak bijaksana memberikan dampak negatif, seperti pencemaran lingkungan, kematian hewan non-target, penyederhanaan rantai makanan alami dan keragaman hayati, Bioakumulasi/Biomagnifikasi, resistensi hama dan terbunuhnya musuh alami.

Perlu diingat bahwa pengembangan pertanian saat ini, mengsyaratkan jaminan produk pertanian yang aman dikonsumsi (food safety attributes), punya kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (Eco Labelling Attributes). Maka untuk merealisasi jaminan produk pangan, beberapa program yang dilakukan antara lain: 1) Program peningkatan ketahanan pangan, 2) Program pengembangan agribisnis, dan 3) Program pengembangan pertanian organik dan penggunaan pestisida. Oleh karena itu, perlu terobosan baru dalam tindakan pengendalian OPT yang aman, murah, dan ramah lingkungan.

Pertanian Ramah Lingkungan

Konsep pertanian ramah lingkungan adalah konsep pertanian yang mengedepankan keamanan seluruh komponen agroekosistem. Pertanian ramah lingkungan mengutamakan untuk menekan dampak negatif penggunana pestisida bagi lingkungan. Saat ini, telah banyak dikembangkan pestisida alternatif sebagai pengganti pestisida kimia, yaitu pestisida nabati. Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tanaman atau tumbuhan dan bahan organik lainya yang berkhasiat mengendalikan serangan hama dan patogen pada tanaman. Pestisida nabati saat diaplikasikan dapat mengendalikan serangan hama dan patogen. Nilai lebih dibandingkan dengan pestisida kimia adalah  residu pestisida nabati akan hilang di alam. Dengan demikian produk terbebas dari residu pestisda sehingga aman dikonsumsi manusia. Pestisida nabati dapat menjadi alternatif pengendalian hama yang aman dibanding pestisida sintetik.

Selain digunakan sebagai bahan untuk membuat pestisida nabati, berbagai tumbuhan telah diteliti berpotensi sebagai elisitor yaitu antara lain :

  1. Daun Bayam Duri (Amaranthus Spinosus), 
  2. Daun Iler/Jawer Kotok (Coleus Scutellarioides), 
  3. Daun Kenikir (Tagetes Erecta), 
  4. Daun Nimba (Azadirachta Indica), 
  5. Daun Sirsak (Annona Mucicata) 
  6. Daun Tapak Dara (Cataranthus Roseus). 

Tetumbuhan tersebut ternyata dapat  menghasilkan senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, steroid dan terpenoid, senyawa metabolit sekunder berpotensi dijadikan sumber gen resisten terhadap hama dan patogen.

Tanaman Sebagai Elisitor

Tanaman elisitor adalah suatu tanaman yang mengandung senyawa biologis yang dapat menyebabkan peningkatan produksi fitoaleksin apabila diaplikasikan pada tumbuhan atau kultur sel tumbuhan. Elisitor dapat berasal dari bakteri, jamur, virus, senyawa polimer karbohidrat, protein, lemak dan mikotoksin sebagai elisitor biotik, dan elisitor abiotik seperti sinar UV, ion-ion logam dan hormon dan molekul-molekul pengkode resistensi tanaman. Elisitor dapat memicu respon fisiologis, morfologis dan akumulasi fitoaleksin, sebagai molekul yang mengaktifkan sinyal transduksi dan menyebabkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosisntesis metabolit sekunder. Kemudian pada tahun 2005 Sampai 2006 ada penemuan Tanaman akan mendapatkan aktivator alami misalnya, Glikosida Benzoxazinoid dari Zea Mays dan Glikosiada Isoflavonoid dari tanaman kacang - kacangan.

Penelitian elisitor alami telah dilakukan pada tahun 2000, Dengan mengekstrak Tanaman Beluntas (Plucea Indica) berpotensi sebagai penginduksi resistensi tanaman cabai merah terhadap penyakit Antraknos Colletotrichum Gloesporioides. Selanjutnya pada tahun 2001 menunjukkan penggunaan ekstrak tanaman sebagi elisitor dari daun Bunga Pukul Empat (Mirabilis jalapa), daun Bunga Pagoda (Clerodendrum Japonicum) dapat menginduksi resistensi tanaman cabai terhadap Virus Gemini. Tumbuhan sambiloto (Andrographis Paniculata) berpotensi elisitor tanaman jahe terhadap penyakit Layu Bakteri Ralstonia Solanacearum.

Sementara itu, Penelitian yang dilaksanakan pada tahunn 2019 mendefinisikan,  tanaman elisitor adalah suatu tanaman yang mengandung senyawa kimia yang dapat memicu respon fisiologi, morfologi dan akumulasi fitoaleksin, meningkatkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosintesis metabolit sekunder. Lebih lanjut dikatakan bahwa elisitor dapat menginduksi resistensi tumbuhan. Elisitor terdiri atas dua jenis yaitu ada elisitor biotik dan abiotik. Elisitor  biotik adalah elisitor yang berasal dari bahan hayati meliputi polisakarida, protein, glikoprotein atau fragmen dinding sel yang berasal dari fungi, bakteri, dan tanaman. Elisitor abiotik adalah zat yang dihasilkan dari bahan non hayati berupa logam berat, garam anorganik, pH, stress suhu, cahaya, dan sebagainya. 

Peran Elisitor Untuk Memacu Resistensi Tanaman

Resistensi tanaman terhadap patogen sering didefinisikan  sebagai kemampuan tanaman untuk mengurangi, menghambat atau membatasi serangan patogen. Secara umum tumbuhan akan memberikan respon terhadap serangan patogen dan respon tersebut akan bertanggung jawab terhadap resistensi tanaman terhadap patogen. Akibat adanya serangan patogen akan memberikan reaksi pertahanan untuk melindunginya. Tanaman akan mempertahankan diri dengan dua cara, yaitu :

  1. Adanya sifat-sifat struktural pada tanaman yang berfungsi sebagai penghalang fisik dan akan menghambat patogen untuk masuk dan menyebar di dalam tanaman, dan 
  2. Respon biokimia yang berupa reaksi kimia yang terjadi di dalam sel dan jaringan tanaman sehingga patogen dapat mati atau terhambat pertumbuhannya.

Tanaman akan memberikan respon terhadap patogen dengan cara berbeda. Respon tersebut ada yang berinteraksi dan ada yang tidak berinteraksi. Pada kasus tertentu terjadi hubungan yang inkompatibel antara tanaman dan patogen (tanaman adalah resisten) atau hubungan yang kompafibel (tanaman adalah rentan). Namun interaksi yang terjadi antara tanaman dan patogen yang menyerangnya sangatlah rumit dan banyak melibatkan reaksi biokimia. Pada kondisi yang normal, tanaman resisten terhadap kebanyakan mikroorganisme patogen. Hanya relatif sedikit terdapat kombinasi hubungan patogen-inang yang terjadi. Kejadian biokimia yang terdapat pada interaksi tanaman inang dan bukan inang dengan suatu patogen adalah sama, tetapi intensitasnya dan bentuk penampilannya tergantung pada kondisi lingkungan dan fisiologinya. Kombinasi antara sifat struktural dan reaksi biokimia yang digunakan untuk pertahanan bagi tanaman berbeda antara setiap sistem kombinasi inang-patogen. Dapat terjadi pada hubungan inang-patogen yang sama, kornbinasi tersebut dapat berbeda tergantung pada umur tanaman, jenis organ, jaringan tumbuhan yang diserang, keadaan hara tumbuhan, dan kondisi cuaca.

Telah banyak penelitian diarahkan pada upaya pengaktifan gen ketahanan tanaman terhadap infeksi mikroba lain atau senyawa kimia. Ketahanan seperti ini disebut ketahanan yang diinduksi (Induced Iesistance). Induksi resistensi atau imunisasi atau resistensi buatan ialah suatu proses stimulasi resistensi tanaman inang tanpa introduksi gen-gen baru. Induksi resistensi menyebabkan kondisi fisiologis yang mengatur sistem ketahanan menjadi aktif dan atau menstimulasi mekanisme resistensi alami pada tanaman inang.

Dua bentuk ketahanan terinduksi yang umum diteliti, yaitu Systemic Acquired Resistance (SAR) dan Induced Systemic Resistance (ISR). Ketahanan tanaman terinduksi dapat dipicu dengan penambahan bahan-bahan kimia tertentu (misalnya tanaman elisitor), mikrob nonpatogen, patogen avirulen, ras patogen inkompatibel, dan patogen virulen yang infeksinya gagal karena kondisi lingkungan tidak mendukung.

Ketahanan tanaman yang terinduksi oleh penambahan senyawa kimia atau senyawa elisitor diistilahkan dengan induksi SAR. Induksi SAR dicirikan dengan terbentuknya akumulasi asam salisilat (Salicylic Acid/SA) dan Protein PR (Pathogenesisrelated Proteins/PR), sedangkan ketahanan terinduksi karena agen biotik nonpatogenik sering dikenal dengan ISR.

Menurut penelitian yang dilakukan pada tahunn 2013, bahwa induksi resistensi dapat dilakukan melalui aplikasi agens hayati (seperti rizobakteria nonpatogen) dan senyawa kimia (sintetik dan nabati). Keberhasilan senyawa penginduksi dalam mengendalikan serangan patogen tanaman berkisar antara 20–89%, bergantung pada jenis tanaman, kondisi fisiologis, dan faktor abiotik seperti kelembaban dan suhu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak tanaman sebagai elisitor berupa daun bunga pukul empat (Mirabilis Jalapa) dan daun bunga pagoda (Clerodendrum japonicum) paling efektif menginduksi ketahanan tanaman cabai terhadap virus Gemini. Selanjutnya ada laporan bahwa ekstrak tanaman Sambiloto mengandung elisitor pemicu ketahanan tanaman terhadap penyakit layu bakteri, dengan tingkat keefektifan sebanding dengan perlakuan senyawa kimia asam salisilat+Ca.

Mekanisme induksi resistensi berkaitan dengan peningkatan produksi beberapa jenis protein pathogenesis related-proteins (PRP), antara lain kitinase, b-1,3 glutanase, proksidase, endoproteinase, dan oxalate oksidase. Mayoritas protein tersebut bekerja melalui sintesis senyawa penyandi ketahanan seperti asam salisilat, asam jasmonat, dan etilen, serta aktivitas anti mikrob melalui hidrolisis dinding sel, toksik, dan signal ketahanan. Senyawa elisitor tersebut terekspresi pada kondisi tanaman senesen, terluka, stress dingin, tetapi ada yang juga terekspresi pada setiap saat dalam jaringan bunga, pollen, buah dan bagian vegetatif yang mekanisme kerjanya menyerupai kerja imunitas pada manusia.

Ekstrak tanaman Salix sp., telah digunakan di beberapa negara dan terbukti efektif sebagai induser ketahanan yang dapat mengendalikan beberapa patogen tanaman, di antaranya adalah untuk mengendalikan penyakit bercak ungu yang disebabkan oleh Alternaria porii pada bawang merah, dan penyakit Virus Kuning (Bean Yellow Mosaic Virus) pada Cabe Merah Keriting, bahwa beberapa Spesies Salix (seperti : Salix Alba, S. Daphnoides, S. Purpurea, S. Matsudana), umumnya mengandung senyawa Glikosida, seperti Salicin, dan diidentifikasi juga beberapa senyawa Terpen, Flavonoid, dan beberapa jenis Steroid yang berperan menghambat perkembangan patogen.

Kesimpulan

Elisitor asal tetumbuhan merupakan senyawa kimia yang dapat memicu respon fisiologi, morfologi dan akumulasi fitoaleksin, meningkatkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosintesis metabolit sekunder. Ketahanan tanaman terinduksi dapat dipicu dengan penambahan elisitor.  Induksi SAR dicirikan dengan terbentuknya akumulasi asam salisilat (Salicylic Acid/SA) dan protein PR (Pathogenesis Related Proteins/PR)

Demikian Penjelasan tentang extrak tanaman sebagai elisitor, ternyata mampu memicu resistensi tanaman dari berbagai serangan patogen. semoga bermanfaat sampai jumpa.

3 Jan 2023

CARA DAN PROSES PEMBUATAN BACTERI CAIR UNTUK PENGURAI

CARA DAN PROSES PEMBUATAN BACTERI CAIR UNTUK PENGURAI


Pengurai sampah dan limbah organik bagi proses dekomposisi atau biodegradasi disajikan dalam produk Activator Kompos ( @ 250 gr/ Pack ) adalah konsorsium mikroba unggulan terdiri dari 5 bakteri, fungi dan ragi disajikan berupa serbuk ( powder ).

Mikroba unggulan terdiri bakteri aktinomycetes- spesies aktinomyces naeslundii, Lactobacillus spesies delbrueckii, Bacillus Brevis, Saccharomyces Cerevisiae, ragi, dan jamur serta Cellulolytic Bacillus Sp) pengurai bahan organik ( limbah kota, pertanian, peternakan dan lain-lainnya) . Bermanfaat untuk mempercepat proses dekomposisi ( menghancurkan bahan organik) , menghilangkan bau busuk dan menekan pertumbuhan ( antagonis) mikroba penyebab bau, penyebab penyakit akar dan merugikan tanaman ( patogen) .

Bacillus SP

Bakteri yang bersifat proteolitik pemecah pati ini merupakan bakteri probiotic aktif pengurai lignin dan selulosa, karbohidrat, bahan organik, maupun lemak secara biologis. Mengurai NO dan NH3 sekaligus menekan berkembangnya bakteri pathogenik pada materi organik seperti sampah dan tinja, guna mencegah sumber air dan badan lingkungan terkontaminasi.

Lactobacillus, Saccharomycess, Aktinomycetes

Bakteri pengurai limbah kota, limbah pertanian dan peternakan. Konsorsium ketiganya akan menghancurkan dengan menguraikannya serta menghilangkan bau busuk dari timbulan gas H2S maupun methan CH4. 

Bakteri ini akan bekerja aktif dan berkembang populasinya pada kondisi PH netral 6-7, suhu mesofilik ( 35-55 derajat Celcius), kelembaban atau kadar air material 60%, materi berporositas bagi optimalnya oksigen (aerasi) dan keseimbangan material organik pada nisbah C/N ( Carbon/ Nitrogen) 25-30.

Dari sifat dan karakternya itulah aktivator EXTRA 88 efektif digunakan dalam penguraian materi dengan kandungan heterogen ( karbohidrat, lemak, protein) seperti terdapat dalam sampah kota maupun limbah industri makanan.  

Pengkondisian bagi aktif dan berkembangnya populasi bakteri ini dilakukan dengan mekanisasi seperti alat mesin produksi kompos ARKRKM 1000 L maupun mesin kompos lainnya yang ketika dipadukan dengan material penggembur GP2 akan menjamin stabilisasi suhu, PH, kadar air maupun asupan oksigen ( aerasi).

Penggembur Green Phoskko (GP2) merupakan campuran aneka bahan hasil tambang ( zeolit, dolomit), material karbon (C) seperti serbuk gergaji dan arang sekam pada komposisi tertentu. Penggembur GP2 berfungsu sebagai starter bagi kenaikan suhu dan PH sampah kota dan sampah dapur, yang umumnya bersifat asam ( PH dibawah 7) dengan suhu dibawah 20 derajat Celcius.

Bahan Peralatan
  1. Tempe ¼ kg Galon 1 buah
  2. Tape singkong 0.5-1 Kg Baskom 1 buah, blender
  3. Air tebu 1 ½ lt/Gula Pasir/Gula merah 1 kg/ molase 5-10 sdm Plastik 1 buah
  4. Air ¾ galon (air isi ulang/air sumur) Karet gelang 1 buah
  5. Susu fermentasi (Yakult,Yoghurt , dll): 3 sdm atau setengah botol Sendok makan

Tahapan kerja :

  1. Campurkan tempe dan tape hingga menyatu di dalam baskom
  2. Buat kepalan dari campuran tempe dan tape, lalu masukkan ke dalam galon yang telah terisi air (sebaiknya air mineral isi ulang atau air sumur, bukan air PDAM)
  3. Masukkan air tebu/gula/molase ke dalam galon, lalu tambahkan 3sdm yoghurt
  4. Kocok galon agar kepalan campuran tempe dan tape dapat menyebar rata
  5. Tutup galon dengan plastik yang dimasukkan ke dalam mulut galon, palstik ini akan menggelembung bila bakteri di dalam galon telah bekerja aktif (biasanya 3-4 hari)
Catatan : Cara pembuatan bisa juga dengan cara tempe, tape, susu fermentasi dan gula diblender dengan tujuan agar bahan mudah diaduk dan tercampur merata tanpa harus melakukan pengocokan ketika sudah dimasukkan dalam galon.

Cara penggunaan :
Siramkan bakteri cair 2 tutup botol minuman mineral ke saluran drainase (selokan, sumur, kamar mandi, kloset, wastafel) setiap hari

Manfaat :

  1. Meningkatkan kualitas air (bakteri menguraikan kandungan di dalam limbah yang merugikan)
  2. Dapat sebagai pupuk cair (1 liter bakteri cair + 10 liter air sumur)
  3. Pestisida Organik
  4. Menghancurkan padatan kotoran pada septic tank jika sudah penuh
  5. Mengatasi bau pada saluran

Catatan :

  1. Ciri-ciri bila bakteri ini masih bagus adalah aromanya menyerupai tape
  2. Untuk pembuatan bakteri cair berikutnya, ambil 1 gelas bakteri cair sebagai starter, lalu
  3. Lakukan tahapan kerja yang ke-3 dan ke-4
  4. Sudah diaplikasikan sejak tahun 2005 dan digunakan oleh petani alami untuk pupuk cair ketika padi mulai meteng, mrantak dan padi mulai menguning (berfungsi sebagai SCOR alami). Terima kasih
Saya pribadi sudah membuat bakteri cair ini, cuma ada bahan yang saya tambahkan dan atau saya ganti.

Bahan yang saya tambahkan adalah isi buah maja 1-2 butir. Lebih bagus lagi, isi buah maja yang sudah berwarna hitam, kemudian  diblender. Dengan demikian, gula pasir/gula jawa akan berkurang 1/2 dari dosisnya.

ECO SYSTEM ENZIM ( Enzim Lingkungan )
Enzim lingkungan adalah solusi kompleks yang dihasilkan dari fermentasi limbah dapur segar (ampas buah dan sayuran),+Gula (gula merah, gula merah atau gula molase) dan air. Warnanya coklat tua dan memiliki aroma fermentasi asam manis yang kuat. Enzim ramah lingkungan adalah cairan multiguna dan aplikasinya mencakup rumah tangga, pertanian, peternakan, dll.

Aktivitas enzim di dalam Eco System Enzim  ​​juga dapat dimanfaatkan. Selama proses fermentasi, enzim mikroorganisme aktif memproses sumber energi. Eco System Enzim mengandung aktivitas :
Amilase, lipase  dll yang dapat digunakan untuk mengolah limbah susu, di mana ia mengandung karbohidrat, protein, dan lemak untuk dipecah oleh enzim-enzim tersebut.
Berikut ini adalah beberapa manfaat dari enzim ramah lingkungan
  1. Pembersih lantai
  2. Pembersih toilet
  3. Pembersih dapur Cairan pencuci piring
  4. Pembersih udara Deterjen pakaian
  5. Pengolahan limbah
  6. Anti-Bakteri,
  7. Jamur dan Virus
  8. Antiseptik alami untuk rumah Anda. Memurnikan Air Bawah Tanah
  9. Residu enzim yang mengalir di bawah tanah pada akhirnya akan memurnikan sungai dan laut.
  10. Purify Air atau penghilang bau Air
  11. Udara atoxic yang dilepaskan dari rokok, knalpot mobil, residu kimia dari produk rumah tangga, dll.
  12. Obat nyamuk
  13. Pestisida
  14. Pupuk

Bahan dan peralatan
  • Potongan sayur dan buah (mentah)
  • Gula merah
  • Air bersih
  • Wadah kedap udara
Cara Membuat :
Perbandingan antara air, potongan buah atau sayuran dan gula merah masing-masing 10 : 30 : 1 ( mis. 10 gram gula merah, 30 gram potongan buah / sayuran, 1000gram airv). Sesuaikan dengan limbah atau wadah yang tersedia.

Potong buah atau sayuran menjadi potongan-potongan kecil. Campur semua bahan ke dalam wadah plastik dan aduk. Bahan plastik lebih disukai untuk menghindari wadah meledak ketika gas menumpuk.

Tutup wadah sampai kedap udara. Biarkan selama 3 bulan di ruang terlindung. Selama tahap awal fermentasi, buka wadah kira-kira setiap seminggu sekali untuk melepaskan gas yang terperangkap dan mencegah wadah agar tidak meledak.

Setelah 3 bulan, enzim eko ​​yang berhasil akan memiliki warna cokelat gelap dengan bau cuka. Jika cairan berwarna hitam, tambahkan lebih banyak gula untuk melanjutkan proses fermentasi. Abaikan saja jika ada cacing dan serangga karena akan dipecah melalui proses. Saring cairan dari sisa limbah organik dan simpan dalam wadah apa pun untuk digunakan nanti. Residu limbah organik dapat digunakan sebagai pupuk.

Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pembuatan ENZYME ECO SYSTEM
Jangan gunakan wadah kaca atau logam karena tidak bisa mengembang (karena akan ada gas yang dihasilkan sehingga volume gas dan tekanan akan bertambah)
Warna ideal eco enzyme adalah coklat tua, jika berwarna hitam tambahkan gula untuk mengulang proses fermentasinya

Sisa atau residu organik eco enzyme dapat digunakan kembali, tambahkan saja sampah dapur segar. Atau bisa dibuat sebagai pupuk dengan mengeringkannya, kemudian kubur dalam tanah. Bisa juga digiling lalu masukkan ke toilet, tambahkan gula coklat lalu siram. Cara ini bermanfaat untuk membersihkan toilet.

Jika tidak memiliki sampah dapur yang cukup, kita bisa memasukkannya sedikit-sedikit. Fermentasi 3 bulan dimulai ketika sampah dapur terakhir ditambahkan.
Semakin lama difermentasikan akan semakin baik, eco enzyme tidak memiliki tanggal kadaluarsa. Jangan disimpan dalam kulkas, letakkan di suhu ruangan.

PENGGUNAAN ENZYME ECO SYSTEM

Berikut takaran pemakaian menggunakan perbandingan antara larutan ecoenzym dengan air (dalam satuan ml) :

  1. M‌encucipiring, peralatan dapur berminyak 1:10-50
  2. Penyegar udara ruangan 1:200
  3. Menyiram tanaman 1:500
  4. Disinfektan 1:500
  5. Mengepel lantai dengan perbandingan 1:1.000.
  6. Mencuci baju (mesin cuci) konsentrat (tidak perlu dicairkan dengan air lagi, langsung dimasukkan ke mesin cuci saja)
Produk Peternakan :
  1. Probiotik EXTRA 99 PLUS      Harga Rp. 20.000/Liter
  2. Oriental Herbal Nutrien             Harga Rp. 25.000/Liter
  3. Dekomposer EXTRA 88            Harga Rp. 25.000/liter
  4. Enzim                                         Harga Rp. 30.000/Liter
  5. Desinfektan                                 Harga Rp. 25.000/Liter

CV. Griya Tani Indonesia
Office Address :
D/a : Jl. K Mustajib RT 001/002 Kel Kunir Kec Dempet Kab Demak Jawa Tengah 59573 
Kontak Person



29 Sep 2022

Respon Pertumbunan Tanaman Kedelai terhadap Bradyrhizobium japonicum

Respon Pertumbunan Tanaman Kedelai terhadap Bradyrhizobium japonicum
Toleran Masam dan Pemberian Pupuk di Tanah Masam


ABSTRAK
Penggunaan rhizobakteri tahan masam seperti Bradyrhizobium japonicum merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi kedelai di tanah masam. B. japonicum dapat bersimbiosis dengan tanaman kedelai dan menambat nitrogen bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pertumbuhan dan produksi kedelai varietas Wilis yang diinokulasi
dengan B. japonicum dan pemberian pupuk di tanah masam. Penelitian ini menggunakan bakteri B. japonicum BJ 11(19) hasil mutagenesis transposon dan BJ 11(wt) tipe liar yang toleran terhadap asam. Perlakuan yang diberikan pada kedelai ialah pemberian inokulan BJ 11(19), BJ 11(wt) yang masing-masing dikombinasikan dengan pemberian kompos dan pupuk N (50 dan 100% dosis). Percobaan lapang dilakukan di Cikabayan, Darmaga, Bogor menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan 15 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian inokulan B. japonicum toleran asam BJ 11(wt), kompos dan pupuk N (10 g m-2) secara bersama-sama dapat meningkatkan tinggi tanaman, bobot kering akar dan tajuk, jumlah nodul, bobot kering nodul, aktivitas nitrogenase, jumlah polong dan biji per tanaman maupun per satuan luas, bobot biji per tanaman maupun per satuan luas, kandungan N biji yang ditanam di tanah masam pH 4.7

Kedelai (Glycine max L.) adalah salah satu komoditas utama kacang-kacangan yang dibutuhkan di Indonesia, karena merupakan sumber protein nabati penting untuk diversifikasi pangan dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Produksi kedelai secara nasional pada tahun 2010 sebesar 908.11 ribu ton biji kering dan menurun sebanyak 6.81% dibandingkan tahun 2009. Sementara kebutuhan nasional kedelai mencapai 1.7 juta ton per tahun. Akibatnya kekurangan harus dipenuhi lewat impor. Konsumsi kedelai yang terus meningkat ini mengharuskan diadakannya perluasan areal tanam di lahan yang kurang produktif dan peningkatan produksi (BPS, 2011). Terdapat beberapa kendala dalam produksi kedelai di Indonesia. 
Kendala yang dihadapi adalah pemanfaatan lahan marjinal untuk budidaya kedelai. Salah satu lahan marjinal yang sangat potensial di Indonesia ialah lahan masam dengan kandungan aluminium (Al) tinggi. Lahan marjinal yang memiliki luasan cukup besar di Indonesia ialah tanah podsolik merah kuning yang memiliki pH rendah (4.2-5.0), kelarutan Al yang tinggi dan rendahnya unsur hara. Aluminium bersifat racun bagi tanaman karena dapat merusak perakaran dan menghambat pertumbuhan bintil akar (Widodo, 2008). Peningkatan produksi kedelai di lahan masam memerlukan strategi dan pemahaman teknik budidaya, penyediaan rhizobium yang sesuai untuk budidaya kedelai di lahan marjinal.
Ketersediaan nitrogen (N) yang cukup di dalam tanah merupakan salah satu kunci keberhasilan usaha meningkatkan produksi kedelai di lahan masam. Tanaman kedelai pada umumnya mengambil nitrogen (N2) dari udara melalui fiksasi N secara simbiosis dengan bakteri Bradyrhizobium japonicum, sehingga dapat memacu pertumbuhan dan produksi kedelai. Dalam keadaan yang menguntungkan simbiosis ini mampu memenuhi kebutuhan N tanaman inangnya sebesar 74-90% dari total kebutuhan N tanaman (Sutoyo, 1992). Secara umum, B. japonicum bersifat toleran pada pH 4.0-4.5 dibandingkan dengan rhizobakteria lainnya. Inokulasi B. japonicum pada tanaman kedelai dapat menodulasi tanaman kedelai yang ditanam pada lahan dengan kondisi asam dan Al tinggi, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan kedelai. 
Inokulan B. japonicum yang digunakan untuk memacu produksi kedelai antara lain BJ 11(19) dan BJ 11(wt) (Monasari, 2007). Pertumbuhan tanaman kedelai tidak hanya mengandalkan penambatan N2 udara oleh B. japonicum, tetapi juga diperlukan pemupukan N, P dan K (Mulyadi, 2012). Pemberian B. japonicum dan pupuk kimia ini diharapkan lebih mampu memacu produksi kedelai di lahan masam. 
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur respon pertumbuhan dan produksi kedelai varietas Wilis (agak tahan kondisi lahan masam) yang diinokulasi dengan B. japonicum dan pemberian pupuk kimia di tanah masam.
 

BAHAN DAN METODE
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari sampai dengan Juni 2009 di Kebun Percobaan Cikabayan, University Farm IPB, Laboratorium Mikrobiologi dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), IPB, Bogor. Bahan yang digunakan adalah isolat B. japonicum BJ 11(19) (isolat hasil mutagenesis transposon) dan B. japonicum BJ 11(wt) (isolat tipe liar koleksi Lab.
Mikrobiologi, Departemen Biologi FMIPA, IPB), dan benih kedelai varietas Wilis (diperoleh dari Balai Penelitian Biologi dan Genetika Molekuler, Bogor). Gambut yang mengandung inokulan sebagai pembawa BJ 11(wt) dan BJ 11(19) dikemas di Pusat Penelitian Bioteknologi Perkebunan Bogor. Pupuk dan kompos digunakan berasal dari jerami padi dengan kualitas sesuai dengan SNI 19-7030-2004. Media tanam yang digunakan adalah tanah masam yang berasal dari Jasinga dengan sifat-sifat kimia tercantum pada Tabel 1 yang telah ditanami kedelai pada satu musim tanam sebelumnya dan tanpa pengapuran. Ukuran petak percobaan adalah 1 m2 untuk setiap perlakuan. Petak percobaan dibuat menyerupai kolam sedalam 50 cm yang dasarnya diberi alas plastik terpal kemudian diisi dengan tanah masam dengan ketebalan tanah ± 50 cm.
Percobaan disusun dalam rancangan kelompok lengkap teracak dengan 13 perlakuan yang masing-masing diulang 6 kali, yaitu
Kontrol (tanpa pupuk N, kompos dan B. japonicum)
Pupuk N (50%)
Pupuk N (100%)
Kompos + pupuk N (50%)
Kompos + pupuk N (100%)
BJ 11(19) + pupuk N (50%)
BJ 11(19) + pupuk N (100%)
BJ 11(19) + kompos + pupuk N (50%)
BJ 11(19) + kompos + pupuk N (100%)
BJ 11(wt) + pupuk N (50%)
BJ 11(wt) + pupuk N (100%)
BJ 11(wt) + kompos + pupuk N (50%)
BJ 11(wt) + kompos + pupuk N (100%)
Sebanyak tiga ulangan digunakan untuk pengamatan pertumbuhan, sedangkan tiga ulangan lainnya digunakan untuk pengamatan produksi kedelai. Pupuk urea diberikan dua kali yaitu pada saat tanam dan 2 minggu setelah tanam (MST). Pupuk urea yang diberikan pada tiap petak percobaan untuk perlakuan N setengah dosis (50%) sebanyak 5 g m-2 dan untuk perlakuan N dosis penuh (100%) sebanyak 10 g m-2 dibagi dua kali aplikasi pada satu musim tanam. 
Pupuk SP36 dan KCl berturut-turut sebanyak 20 g m-2 dan 10 g m-2 diberikan pada saat tanam. Kompos yang digunakan sebanyak 1 kg m-2 diaplikasikan pada saat tanam dengan cara dicampur merata dengan tanah masam. Benih kedelai dilumuri dengan inokulan BJ 11(19) atau BJ 11(wt) sesaat sebelum benih ditanam dengan dosis 0.5 kg gambut untuk 10 kg benih kedelai. Kedelai ditanam dengan jarak tanam 20 cm x 40 cm dengan 2 tanaman per lubang tanam. Lubang tanam pada petak percobaan sebanyak 8 lubang. Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan menyiram dan membersihkan gulma setiap hari. Pengendalian hama penyakit dilakukan bila ada gejala serangan. 

Untuk detailnya Sudah saya siapkan file PDF-nya bisa langsung di donload pada link dibawah ini, karena akan terlalu panjang jika saya tulis disini. terima kasih dan jika anda menyuukai artikel ini mohon bantu share.
Salam......
Download File Lengkapnya

Produk Pertanian :
PGPR                                     Harga    Rp. 25.000/Liter
Fish Amino Acids                  Harga    Rp. 25.000/½Liter
Brown Rice Vinegar              Harga    Rp. 50.000/Liter
Coryn Bacteria                       Harga    Rp. 30.000/½Liter
Bio-Pestisida                          Harga    Rp. 30.000/Liter
Bio-Polymixa                         Harga    Rp. 30.000/Liter
Bio-Tricoderma                      Harga    Rp. 50.000/Kg
Mikoriza                                 Harga    Rp. 50.000/Kg
Waiting Agen                          Harga    Rp. 30.000/Liter
Madam Sulfur                         Harga    Rp. 30.000/Liter

Peternakan :
Probiotik EXTRA 99 PLUS      Harga Rp. 20.000/Liter
Oriental Herbal Nutrien             Harga Rp. 25.000/Liter
Dekomposer EXTRA 88            Harga Rp. 25.000/liter
Enzim                                         Harga Rp. 30.000/Liter
Desinfektan                                 Harga Rp. 20.000/Liter

CV. Griya Tani Indonesia
Office Address :
D/a : Jl. K Mustajib RT 001/002 Kel Kunir Kec Dempet Kab Demak Jawa Tengah 59573 
Kontak Person


24 Jan 2021

BAHAN MEMBUAT PESTISIDA NABATI (PESNAB)

BAHAN MEMBUAT PESTISIDA NABATI
(PESNAB)
Bawang Putih (Allium sativum L)
Senyawa kimia lain yang dapat merusak membran jamur adalah saponin. Saponin mempunyai kerja merusak membran plasma dari jamur. 
Senyawa saponin dapat merusak sel membran sitoplasma jamur dengan cara meningkatkan permeabilitas membran sel jamur. Saponin dapat terkondensasi pada permukaan suatu benda atau cairan dikarenakan memiliki gugus hidrokarbon yang larut lemak (berada pada membran sel), sehingga dapat menyebabkan sel-sel pada membran sitoplasma Senyawa kimia flavoniod pada bawang putih juga memiliki aktivitas antijamur. 
Flavonoid yang berada di dalam sel jamur akan mengendapkan protein yang tersusun atas asam amino sebagai hasil translasi dari RNA. Gangguan pada pembentukan partikel protein dapat mencegah proses sintesis protein di dalam inti sel sehingga menyebabkan kematian pada sel jamur.
Cara Membuat :
Hancurkan 2 Siung Bawang Putih, rendam dalam 4 cangkir air selama 24 jam.
Tambahkan 14 Liter Air semprotkan ke tanaman.
Kunyit (Curcuma domestica)
Kandungan utama kunyit adalah minyak Atsiri dan Kurkuminoid.
kunyit mengandung minyak atsiri keton sesquiterpena yaitu turmeron dan artumeron. Senyawa-senyawa ini yang terkandung dalam kunyit memiliki aktifitas biologis sebagai anti bakteri, antioksidan dan anti hepatotoksik.
Penggunaan kunyit sebagai anti fungi telah dilakukan terhadap beberapa jenis jamur diantaranya Fusarium Udum ,
Coletotrichum Falcatum Went, Fusarium moniliforme J. Xanthomonas axonopodis pv. Manihotis dan Alternaria solani .
Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam kunyit dapat menghambat pertumbuhan miselium jamur, sehingga kunyit dapat dijadikan sebagai pengendali penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur.
Cara Membuatnya :
200 gram Kunyit dihaluskan lalu ditambah dengan 1 liter air dan direndam selama 24 jam. Tambahkan 14 Liter air
Lengkuas (Alpinia galanga (L) Wild)
Rimpang lengkuas mengandung lebih kurang 1% minyak essensial terdiri dari : 
Metil–Sinamat 48%, 
Sineol 20–30%, 
Eugenol, Kamfer 1%, 
Seskuiterpen– Pinen, Galangin, Galanganol dan beberapa senyawa Flavonoid.
Cara Membuat :
200 gram Lengkuas dihaluskan lalu ditambah dengan 1 liter air dan direndam (maserasi) selama 24 jam. Penggunaan untuk 14 Liter

Cengkeh (Syzygium Aromaticum)
Cengkeh  mengandung  Eugenol,  Eugenol  Asetat,  Kariofilen,  Sesquiterpenol  dan Naftalen. Bagian tanaman yang digunakan adalah daun.
Tumbuk halus 50-100 gram daun cengkeh kering, tambahkan air 500 ml. Rendam selama 24 jam
Dosis Penggunaan : 500 ml/tangki

Lidah Buaya (Aloe Barbadensis Milleer)
Bahan  kimia  yang  terkandung  dalam  tumbuhan Lidah Buaya ini antara     lain :
Saponin,  Flavonoida,  Polifenol  dan  Tanin.  
Bagian  tanaman  yang digunakan adalah daging.
Haluskan 4 Ruas Lidah Buaya lengkap dengan kulitnya, tambahkan air 1 Liter dan rendam selama 24 jam. Lidah buaya juga bisa dijadikan perekat alami pestisida nabati pengganti sabun.
Dosis Penggunaan : 500 ml/Tangki

Daun Mindi (Melia Azedarach)
Daun, buah dan biji Mindi Azedarach mengandung Saponin, Flavonoida dan Polifenol. Selain itu daun dan buahnya mengandung Alkaloida.

Sebanyak 1Kg Daun dan Biji Mindi ditumbuk dan dicampur dengan 10 liter air dan direndam selama 24 jam.
Dosis 250ml/Tangki

Pepaya (Carica Papaya)
Pepaya mengandung enzim papain, alkaloid karpaina, psudo karpaina, glikosid, karposid, saponin, beta karotene, pectin, d- galaktosa, L- arabinosa,  papain,  papayotimin  papain,  vitokinose,  glucoside  cacirin,  karpain, papain, kemokapain, lisosim, lipase, glutamin, dan siklotransferase. Bagian tanaman yang digunakan : daun
Sebanyak 1 kg daun pepaya ditumbuk dan dicampur dengan 10 liter air dan direndam selama 2 hari. Kemudian, larutan tersebut disaring dan siap digunakan.
Dosis 500ml/Tangki.

Putri Malu (Mimosa Pudica)
Putri  malu  mengandung  senyawa  mimosin,  asam  pipekolinat, tannin, alkaloid, dan  saponin.  Selain  itu,  juga  mengandung  triterpenoid,  sterol,  polifenol  dan flavonoid. Bagian  tanaman  yang  digunakan adalah daun, akar, seluruh bagian tanaman.
Tanaman sebanyak 1 kg dicuci  hingga bersih  kemudian dicacah,  dicampur dan  digiling sampai  halus. Rendam dalam 5 liter air selama 24 jam

Catatan : 
Cara Aplikasi Fungisida Nabati
Berbeda dengan pestisida kimia, pestisida nabati dalam pembuatan dan aplikasi bisa menggunakan lebih dari 1 bahan (bisa dicampur) karena sifatnya yang saling menguatkan dan melengkapi khasiat kandungan senyawa yang terkandung didalamnya.
Aplikasi dilakukan dengan cara : Saring dan tambahkan larutan pestisida nabati dengan air dengan  perbandingan 1 : 9 . Tambahkan sedikit sabun atau lidah buaya sebagai perekat. Semprotkan Pada sore hari .
Demikian Pembuatan Pestisida Nabati semoga bermanfaat bagi teman teman.
Wassalam.

Produk Pertanian :
  • PGPR  Harga Rp. 25.000/Liter
  • Fish Amino Acids Rp. 25.000/½Liter
  • Brown Rice Vinegar Rp. 50.000/Liter
  • Coryn Bacteria Harga Rp. 30.000/½Liter
  • Bio-Pestisida Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Polymixa Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Tricoderma Harga Rp. 50.000/Kg
  • Mikoriza Harga Rp. 50.000/Kg
  • Waiting Agen Rp. 30.000
Peternakan :
  • Probiotik EXTRA 99 PLUS Rp. 20.000/Liter
  • Oriental Herbal Nutrien Rp. 25.000/Liter
  • Dekomposer EXTRA 88 Rp. 25.000/liter
  • Enzim Rp. 30.000/Liter
  • Desinfektan Rp. 20.000/Liter
CV. Griya Tani
Office Address :
D/a : Jl. K Mustajib RT 001/002 Kel Kunir Kec Dempet Kab Demak Jawa Tengah 59573 

Kontak Person

Copyright © 2020 CV. Griya Tani
All right NATURAL FARMING Indonesia