Agriculture Farming Service

Agriculture Farming Service – Layanan pertanian modern yang membantu petani meningkatkan hasil panen melalui teknologi, manajemen lahan, dan solusi berkelanjutan

Breaking News

Breaking News! Simak kabar terbaru dan paling update hanya di sini. Kami hadir menyajikan informasi tercepat, akurat, dan terpercaya langsung dari lapangan. Jangan lewatkan momen penting yang sedang terjadi sekarang juga!

Seputar Olah Raga

Breaking News Olahraga! ⚽🏀🏸

Update tercepat tentang kabar olahraga terkini dari dalam dan luar negeri. Mulai dari sepak bola, bulu tangkis, basket, hingga olahraga trending lainnya. Simak informasi paling fresh dan jangan lewatkan momen bersejarah di dunia olahraga!

📌 Subscribe dan aktifkan notifikasi 🔔 biar nggak ketinggalan kabar terbaru.

Channel Katebat

KATEBAD ala kocak! 🤣🎥

Film pendek parodi yang menggabungkan berita terkini dengan sentuhan humor segar. Dijamin bikin ngakak tapi tetap ada pesan yang bisa dipetik. Tonton sampai habis, karena ending-nya bikin kaget!

📌 Jangan lupa Subscribe, kasih like 👍, dan share ke teman biar ikut ketawa bareng.

Info Seputar Megawati

Arabica Coffee House Kadınlar 1. Ligi, adalah nama resmi dari kompetisi Voleybol Kadınlar 1. Ligi di bawah naungan Türkiye Voleybol Federasyonu (TVF), yang kini menjadi penyelenggara utama dengan status nama sponsor

Tampilkan postingan dengan label ANTRAKS NUSA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANTRAKS NUSA. Tampilkan semua postingan

22 Jan 2023

PERANAN ELISYTOR SEBAGAI PEMICU PERTAHAN TANAMAN DARI SERANGAN PATHOGEN

PERANAN ELISYTOR SEBAGAI PEMICU PERTAHAN TANAMAN DARI SERANGAN PATHOGEN


Peningkatan produksi pertanian selalu diharapkan oleh patani baik dari segi kualitas dan kuantitasnya. Namun, peningkatan produksi tidaklah mudah untuk dicapai. Banyak kendala yang dihadapi, salah satunya adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Serangan OPT dilaporkan banyak menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, bahkan dapat menyebabkan gagal panen. Oleh karena itu, dibutuhkan tidandakan pengendalian. Saat ini para petani lebih banyak menggunakan pestisida sintetik/kimia, dibanding dengan pestisida nabati, karena pestisida sintetik pembuatannya masal dan murah, serta mempunyai daya bunuh yang cepat.

Banyak pakar menyarankan, penggunaan pestisida harus tepat. Artinya, pestisida yang diaplikasikan efektif dan ampuh. Selain itu, pengginaan pestisida kimia juga harus bijaksana, artinya dapat menekan dampak negatif pestisida terhadap pengguna, konsumen dan lingkungan serta bersifat ekonomis dan efisien. Penggunaan pestisida yang berlebihan dan cara aplikasi yang tidak bijaksana memberikan dampak negatif, seperti pencemaran lingkungan, kematian hewan non-target, penyederhanaan rantai makanan alami dan keragaman hayati, Bioakumulasi/Biomagnifikasi, resistensi hama dan terbunuhnya musuh alami.

Perlu diingat bahwa pengembangan pertanian saat ini, mengsyaratkan jaminan produk pertanian yang aman dikonsumsi (food safety attributes), punya kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (Eco Labelling Attributes). Maka untuk merealisasi jaminan produk pangan, beberapa program yang dilakukan antara lain: 1) Program peningkatan ketahanan pangan, 2) Program pengembangan agribisnis, dan 3) Program pengembangan pertanian organik dan penggunaan pestisida. Oleh karena itu, perlu terobosan baru dalam tindakan pengendalian OPT yang aman, murah, dan ramah lingkungan.

Pertanian Ramah Lingkungan

Konsep pertanian ramah lingkungan adalah konsep pertanian yang mengedepankan keamanan seluruh komponen agroekosistem. Pertanian ramah lingkungan mengutamakan untuk menekan dampak negatif penggunana pestisida bagi lingkungan. Saat ini, telah banyak dikembangkan pestisida alternatif sebagai pengganti pestisida kimia, yaitu pestisida nabati. Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tanaman atau tumbuhan dan bahan organik lainya yang berkhasiat mengendalikan serangan hama dan patogen pada tanaman. Pestisida nabati saat diaplikasikan dapat mengendalikan serangan hama dan patogen. Nilai lebih dibandingkan dengan pestisida kimia adalah  residu pestisida nabati akan hilang di alam. Dengan demikian produk terbebas dari residu pestisda sehingga aman dikonsumsi manusia. Pestisida nabati dapat menjadi alternatif pengendalian hama yang aman dibanding pestisida sintetik.

Selain digunakan sebagai bahan untuk membuat pestisida nabati, berbagai tumbuhan telah diteliti berpotensi sebagai elisitor yaitu antara lain :

  1. Daun Bayam Duri (Amaranthus Spinosus), 
  2. Daun Iler/Jawer Kotok (Coleus Scutellarioides), 
  3. Daun Kenikir (Tagetes Erecta), 
  4. Daun Nimba (Azadirachta Indica), 
  5. Daun Sirsak (Annona Mucicata) 
  6. Daun Tapak Dara (Cataranthus Roseus). 

Tetumbuhan tersebut ternyata dapat  menghasilkan senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, steroid dan terpenoid, senyawa metabolit sekunder berpotensi dijadikan sumber gen resisten terhadap hama dan patogen.

Tanaman Sebagai Elisitor

Tanaman elisitor adalah suatu tanaman yang mengandung senyawa biologis yang dapat menyebabkan peningkatan produksi fitoaleksin apabila diaplikasikan pada tumbuhan atau kultur sel tumbuhan. Elisitor dapat berasal dari bakteri, jamur, virus, senyawa polimer karbohidrat, protein, lemak dan mikotoksin sebagai elisitor biotik, dan elisitor abiotik seperti sinar UV, ion-ion logam dan hormon dan molekul-molekul pengkode resistensi tanaman. Elisitor dapat memicu respon fisiologis, morfologis dan akumulasi fitoaleksin, sebagai molekul yang mengaktifkan sinyal transduksi dan menyebabkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosisntesis metabolit sekunder. Kemudian pada tahun 2005 Sampai 2006 ada penemuan Tanaman akan mendapatkan aktivator alami misalnya, Glikosida Benzoxazinoid dari Zea Mays dan Glikosiada Isoflavonoid dari tanaman kacang - kacangan.

Penelitian elisitor alami telah dilakukan pada tahun 2000, Dengan mengekstrak Tanaman Beluntas (Plucea Indica) berpotensi sebagai penginduksi resistensi tanaman cabai merah terhadap penyakit Antraknos Colletotrichum Gloesporioides. Selanjutnya pada tahun 2001 menunjukkan penggunaan ekstrak tanaman sebagi elisitor dari daun Bunga Pukul Empat (Mirabilis jalapa), daun Bunga Pagoda (Clerodendrum Japonicum) dapat menginduksi resistensi tanaman cabai terhadap Virus Gemini. Tumbuhan sambiloto (Andrographis Paniculata) berpotensi elisitor tanaman jahe terhadap penyakit Layu Bakteri Ralstonia Solanacearum.

Sementara itu, Penelitian yang dilaksanakan pada tahunn 2019 mendefinisikan,  tanaman elisitor adalah suatu tanaman yang mengandung senyawa kimia yang dapat memicu respon fisiologi, morfologi dan akumulasi fitoaleksin, meningkatkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosintesis metabolit sekunder. Lebih lanjut dikatakan bahwa elisitor dapat menginduksi resistensi tumbuhan. Elisitor terdiri atas dua jenis yaitu ada elisitor biotik dan abiotik. Elisitor  biotik adalah elisitor yang berasal dari bahan hayati meliputi polisakarida, protein, glikoprotein atau fragmen dinding sel yang berasal dari fungi, bakteri, dan tanaman. Elisitor abiotik adalah zat yang dihasilkan dari bahan non hayati berupa logam berat, garam anorganik, pH, stress suhu, cahaya, dan sebagainya. 

Peran Elisitor Untuk Memacu Resistensi Tanaman

Resistensi tanaman terhadap patogen sering didefinisikan  sebagai kemampuan tanaman untuk mengurangi, menghambat atau membatasi serangan patogen. Secara umum tumbuhan akan memberikan respon terhadap serangan patogen dan respon tersebut akan bertanggung jawab terhadap resistensi tanaman terhadap patogen. Akibat adanya serangan patogen akan memberikan reaksi pertahanan untuk melindunginya. Tanaman akan mempertahankan diri dengan dua cara, yaitu :

  1. Adanya sifat-sifat struktural pada tanaman yang berfungsi sebagai penghalang fisik dan akan menghambat patogen untuk masuk dan menyebar di dalam tanaman, dan 
  2. Respon biokimia yang berupa reaksi kimia yang terjadi di dalam sel dan jaringan tanaman sehingga patogen dapat mati atau terhambat pertumbuhannya.

Tanaman akan memberikan respon terhadap patogen dengan cara berbeda. Respon tersebut ada yang berinteraksi dan ada yang tidak berinteraksi. Pada kasus tertentu terjadi hubungan yang inkompatibel antara tanaman dan patogen (tanaman adalah resisten) atau hubungan yang kompafibel (tanaman adalah rentan). Namun interaksi yang terjadi antara tanaman dan patogen yang menyerangnya sangatlah rumit dan banyak melibatkan reaksi biokimia. Pada kondisi yang normal, tanaman resisten terhadap kebanyakan mikroorganisme patogen. Hanya relatif sedikit terdapat kombinasi hubungan patogen-inang yang terjadi. Kejadian biokimia yang terdapat pada interaksi tanaman inang dan bukan inang dengan suatu patogen adalah sama, tetapi intensitasnya dan bentuk penampilannya tergantung pada kondisi lingkungan dan fisiologinya. Kombinasi antara sifat struktural dan reaksi biokimia yang digunakan untuk pertahanan bagi tanaman berbeda antara setiap sistem kombinasi inang-patogen. Dapat terjadi pada hubungan inang-patogen yang sama, kornbinasi tersebut dapat berbeda tergantung pada umur tanaman, jenis organ, jaringan tumbuhan yang diserang, keadaan hara tumbuhan, dan kondisi cuaca.

Telah banyak penelitian diarahkan pada upaya pengaktifan gen ketahanan tanaman terhadap infeksi mikroba lain atau senyawa kimia. Ketahanan seperti ini disebut ketahanan yang diinduksi (Induced Iesistance). Induksi resistensi atau imunisasi atau resistensi buatan ialah suatu proses stimulasi resistensi tanaman inang tanpa introduksi gen-gen baru. Induksi resistensi menyebabkan kondisi fisiologis yang mengatur sistem ketahanan menjadi aktif dan atau menstimulasi mekanisme resistensi alami pada tanaman inang.

Dua bentuk ketahanan terinduksi yang umum diteliti, yaitu Systemic Acquired Resistance (SAR) dan Induced Systemic Resistance (ISR). Ketahanan tanaman terinduksi dapat dipicu dengan penambahan bahan-bahan kimia tertentu (misalnya tanaman elisitor), mikrob nonpatogen, patogen avirulen, ras patogen inkompatibel, dan patogen virulen yang infeksinya gagal karena kondisi lingkungan tidak mendukung.

Ketahanan tanaman yang terinduksi oleh penambahan senyawa kimia atau senyawa elisitor diistilahkan dengan induksi SAR. Induksi SAR dicirikan dengan terbentuknya akumulasi asam salisilat (Salicylic Acid/SA) dan Protein PR (Pathogenesisrelated Proteins/PR), sedangkan ketahanan terinduksi karena agen biotik nonpatogenik sering dikenal dengan ISR.

Menurut penelitian yang dilakukan pada tahunn 2013, bahwa induksi resistensi dapat dilakukan melalui aplikasi agens hayati (seperti rizobakteria nonpatogen) dan senyawa kimia (sintetik dan nabati). Keberhasilan senyawa penginduksi dalam mengendalikan serangan patogen tanaman berkisar antara 20–89%, bergantung pada jenis tanaman, kondisi fisiologis, dan faktor abiotik seperti kelembaban dan suhu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak tanaman sebagai elisitor berupa daun bunga pukul empat (Mirabilis Jalapa) dan daun bunga pagoda (Clerodendrum japonicum) paling efektif menginduksi ketahanan tanaman cabai terhadap virus Gemini. Selanjutnya ada laporan bahwa ekstrak tanaman Sambiloto mengandung elisitor pemicu ketahanan tanaman terhadap penyakit layu bakteri, dengan tingkat keefektifan sebanding dengan perlakuan senyawa kimia asam salisilat+Ca.

Mekanisme induksi resistensi berkaitan dengan peningkatan produksi beberapa jenis protein pathogenesis related-proteins (PRP), antara lain kitinase, b-1,3 glutanase, proksidase, endoproteinase, dan oxalate oksidase. Mayoritas protein tersebut bekerja melalui sintesis senyawa penyandi ketahanan seperti asam salisilat, asam jasmonat, dan etilen, serta aktivitas anti mikrob melalui hidrolisis dinding sel, toksik, dan signal ketahanan. Senyawa elisitor tersebut terekspresi pada kondisi tanaman senesen, terluka, stress dingin, tetapi ada yang juga terekspresi pada setiap saat dalam jaringan bunga, pollen, buah dan bagian vegetatif yang mekanisme kerjanya menyerupai kerja imunitas pada manusia.

Ekstrak tanaman Salix sp., telah digunakan di beberapa negara dan terbukti efektif sebagai induser ketahanan yang dapat mengendalikan beberapa patogen tanaman, di antaranya adalah untuk mengendalikan penyakit bercak ungu yang disebabkan oleh Alternaria porii pada bawang merah, dan penyakit Virus Kuning (Bean Yellow Mosaic Virus) pada Cabe Merah Keriting, bahwa beberapa Spesies Salix (seperti : Salix Alba, S. Daphnoides, S. Purpurea, S. Matsudana), umumnya mengandung senyawa Glikosida, seperti Salicin, dan diidentifikasi juga beberapa senyawa Terpen, Flavonoid, dan beberapa jenis Steroid yang berperan menghambat perkembangan patogen.

Kesimpulan

Elisitor asal tetumbuhan merupakan senyawa kimia yang dapat memicu respon fisiologi, morfologi dan akumulasi fitoaleksin, meningkatkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosintesis metabolit sekunder. Ketahanan tanaman terinduksi dapat dipicu dengan penambahan elisitor.  Induksi SAR dicirikan dengan terbentuknya akumulasi asam salisilat (Salicylic Acid/SA) dan protein PR (Pathogenesis Related Proteins/PR)

Demikian Penjelasan tentang extrak tanaman sebagai elisitor, ternyata mampu memicu resistensi tanaman dari berbagai serangan patogen. semoga bermanfaat sampai jumpa.

4 Mei 2021

BEGINI CARA MENGATASI PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI

PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI
Tanaman Padi
Terinfeksi Hawar Daun
Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai petani. Petani di Indonesia pada umumnya merupakan petani tradisional.
Teknologi yang mereka terapkan masih turun temurun, sehingga kesejahteraannya masih jauh bila dibandingkan dengan petani di Negara maju. Mayoritas komoditas yang ditanami oleh petani di Indonesia adalah padi (Oryza sativa L.).
Karena padi merupakan bahan pangan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Dalam budidayanya petani banyak menghadapi kendala. Salah satunya adalah adanya OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) baik berupa hama maupun penyakit. Penyakit yang sering menyerang tanaman padi diantaranya adalah hawar daun bakteri atau BLB (bacterial leaf blight) yang lebih populer dengan nama penyakit “kresek”.
Penyakit hawar daun bakteri merupakan penyakit yang tersebar luas di pertanaman padi sawah dan bisa menurunkan hasil sampai 36%. Penyakit ini pada umumnya terjadi pada musim hujan atau lembab >75%, terutama pada lahan sawah yang selalu tergenang dengan pemupukan N yang tinggi. Hawar daun bakteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv. Oryzae Dye. Yang dapat menginfeksi tanaman padi pada berbagai stadium pertumbuhan.
Klasifikasi Xanthomonas campestris pv. Oryzae Dye.
Menurut Ferdiaz (1992) dalam Triny S. Kadir, Satoto dan Inastuti A. Rumanti (2006), klasifikasi Xanthomonas adalah sebagai berikut :
justify;">Phylum     : Prokaryota
Kelas         : Schizomycetes
Ordo          : Pseudomonadales
Famili        : Pseudomonadaceae
Genus        Xanthomonas
SpesiesXanthomonas campestris pv. Oryzae
Morfologi Xanthomonas campestris pv. Oryzae Dye.
Bakteri Xanthomonas campestris pv. Oryzae Dye. Berbentuk batang pendek berukuran (1-2) x (0,8-1) mm, di ujungnya mempunyai satu flagela polar yang berukuran 6-8 mm dan berfungsi sebagai alat bergerak. Bakteri ini bersifat aerob, gram negatif dan tidak membentuk spora. Di atas media PDA bakteri ini membentuk koloni bulat cembung yang berwarna kuning keputihan sampai kuning kecoklatan dan mempunyai permukaan yang licin.
 
Foto Mikroskop Elektron Xanthomonas (30.000 x)
(Sumber: Koleksi PPOPT Bandung, 2008 dan Lozano, 1974 dalam Semangun, 2001)
 
Sejarah dan Sebaran Penyakit Hawar Daun Bakteri
Penyakit hawar daun bakteri pertama kali ditemukan di Fukuoka Jepang pada tahun 1884. Pada awal abad XX penyakit ini telah diketahui tersebar luas hampir di seluruh Jepang kecuali di pulau Hokkaido. Di Indonesia, penyakit ini mula-mula ditemukan oleh Reitsma dan Schure pada tanaman muda di daerah Bogor dengan gejala layu. Penyakit ini dinamai kresek dan patogennya dinamai xanthomonas kresek Schure. Terbukti bahwa penyakit ini sama dengan penyakit hawar daun bakteri yang terdapat di Jepang (Singh, 1980; Machmud, 1991).
Pengembangan varietas padi unggul dengan hasil tinggi tetapi peka terhadap penyakit menyebabkan semakin tersebar luasnya penyakit ini. Akhir-akhir ini penyakit hawar daun bakteri dilaporkan telah terdapat di negara-negara yang mewakili hampir seluruh benua, misalnya Bangladesh, India, Korea Malaysia, Filipina, Cina, Taiwan dan Vietnam. Penyakit ini bahkan telah dilaporkan dari Rusia, Afrika dan Amerika Latin (Machmud, 1991).
 
Gejala Serangan Penyakit Hawar Daun Bakteri
Penyakit hawar bakteri pada tanaman padi bersifat sistemik dan dapat menginfeksi tanaman pada berbagai stadium pertumbuhan. Gejala penyakit ini dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: (1). Gejala layu (kresek) pada tanaman muda atau tanaman dewasa yang peka, (2). Gejala hawar dan (3). Gejala daun kuning pucat (Singh, 1980; Machmud, 1991; Triny dkk., 2006).
 
Gejala layu yang kemudian dikenal dengan nama kresek umumnya terdapat pada tanaman muda berumur 1-2 minggu setelah tanam atau tanaman dewasa yang rentan. Pada awalnya gejala terdapat pada tepi daun atau bagian daun yang luka berupa garis bercak kebasahan, bercak tersebut meluas berwarna hijau keabu-abuan, selanjutnya seluruh daun menjadi keriput dan akhirnya layu seperti tersiram air panas. Seringkali bila air irigasi tinggi, tanaman yang layu terkulai ke permukaan air dan menjadi busuk (Anonim, 1989).
 
Menurut Machmud (1991), pada tanaman yang peka terhadap penyakit ini, gejala terus berkembang hingga seluruh permukaan daun, bahkan kadang-kadang pelepah padi sampai mengering. Pada pagi hari atau cuaca lembab, eksudat bakteri sering keluar ke permukaan bercak berupa cairan berwarna kuning menempel pada permukaan daun dan mudah jatuh oleh hembusan angin, gesekan daun atau percikan air hujan. Eksudat ini merupakan sumber penularan yang efektif.
 
Foto Gejala Serangan Xanthomonas pada Tanaman Padi
(Sumber : Anonim, 1989 dan www.hartanto.wordpress.com)
 
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit Hawar Daun Bakteri
Kultivar padi mempunyai tingkat ketahanan yang berbeda terhadap Xanthomonas. Ketahanan disebabkan karena : 
  1. Bakteri terhambat penetrasinya, 
  2. Bakteri tidak dapat meluas secara sistemik, dan 
  3. Tanaman bereaksi langsung terhadap bakteri (Lozano dan Sequeira, 1974 dalam Semangun, 2001). Menurut Maraite dan Weyns (1979) dalam Semangun (2001), penyebaran penyakit yang disebabkan oleh Xanthomonas dibantu juga oleh hujan, karena hujan akan meningkatkan kelembaban dan membantu pemencaran bakteri. Intensitas penyakit yang tertinggi terjadi pada akhir musim hujan, menjelang musim kemarau. Suhu optimum untuk perkembangan Xanthomonas adalah sekitar 300C.
 
Kerugian Akibat Penyakit Hawar Daun Bakteri
Kerugian hasil padi di Jepang yang diakibatkan oleh penyakit hawar daun bakteri setiap tahunnya mencapai 30% bahkan lebih. Di India penyakit ini juga merupakan kendala utama produksi padi, berjuta-juta hektar sawah tiap tahun terserang penyakit tersebut dengan kerugian bervariasi antara 20-60% (Singh, 1980).
 
Di daerah tropis seperti Indonesia dan Filipina, penyakit ini juga sangat merugikan meskipun besar kerugian kurang diketahui secara pasti. Di Indonesia kerugian akibat penyakit ini diperkirakan berkisar antara 15-25% tiap tahun. Kerusakan berat terjadi bila penyakit ini menyerang tanaman muda yang peka, sehingga menimbulkan gejala kresek dan kemudian tanaman mati (Machmud, 1991).
 
Pengendalian Penyakit Hawar Daun Bakteri
Pengendalian penyakit hawar daun bakteri akan lebih berhasil bila dilaksanakan secara terpadu, mengingat berbagai faktor dapat mempengaruhi penyakit ini di lapangan, misalnya keadaan tanah, pengairan, pemupukan, kelembaban, suhu dan ketahanan varietas padi yang ditanam. Usaha terpadu yang dapat dilaksanakan mencakup penanaman varietas yang tahan, pembuatan persemaian kering atau tidak terendam air, jarak tanam tidak terlalu rapat, tidak memotong akar dan daun bibit yang akan ditanam, air tidak terlalu tinggi pada waktu tanaman baru ditanam dan menghindari pemberian pupuk N yang terlalu tinggi.
 
Upaya pengendalian untuk mengatasi penyakit ini yaitu dengan melakukan beberapa hal :
  1. Perbaikan cara bercocok tanam, melalui
  2. Pengolahan tanah secara optimal
  3. Pengaturan pola tanam dan waktu tanam serempak dalam satu hamparan
  4. Pergiliran tanam dan varietas tahan
  5. Penanaman varietas unggul dari benih yang sehat
  6. Pengaturan jarak tanam
  7. Pemupukan berimbang (N,P, K dan unsur mikro) sesuai dengan fase pertumbuhan dan musim
  8. Pengaturan sistem pengairan sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman.
  9. Sanitasi lingkungan
  10. Pemanfaatan agensia hayati Corynebacterium
  11. Penyemprotan bakterisida anjuran yang efektif dan diizinkan secara bijaksana berdasarkan hasil pengamatan.
Demikian ulasan mengenai penyakit Hawar Daun dan cara menanggulangi.
Semoga bermanfaat.

Produk Pertanian :
  • PGPR  Harga Rp. 25.000/Liter
  • Fish Amino Acids Rp. 25.000/½Liter
  • Brown Rice Vinegar Rp. 50.000/Liter
  • Coryn Bacteria Harga Rp. 30.000/½Liter
  • Bio-Pestisida Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Polymixa Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Tricoderma Harga Rp. 50.000/Kg
  • Mikoriza Harga Rp. 50.000/Kg
  • Waiting Agen Rp. 30.000/Liter
  • Madam Sulfur Rp. 30.000/Liter
Peternakan :
  • Probiotik EXTRA 99 PLUS Rp. 20.000/Liter
  • Oriental Herbal Nutrien Rp. 25.000/Liter
  • Dekomposer EXTRA 88 Rp. 25.000/liter
  • Enzim Rp. 30.000/Liter
  • Desinfektan Rp. 20.000/Liter
CV. Griya Tani Indonesia
Office Address :
D/a : Jl. K Mustajib RT 001/002 Kel Kunir Kec Dempet Kab Demak Jawa Tengah 59573 

Kontak Person

Copyright © 2020 CV. Griya Tani
All right NATURAL FARMING Indonesia

24 Jan 2021

BAHAN MEMBUAT PESTISIDA NABATI (PESNAB)

BAHAN MEMBUAT PESTISIDA NABATI
(PESNAB)
Bawang Putih (Allium sativum L)
Senyawa kimia lain yang dapat merusak membran jamur adalah saponin. Saponin mempunyai kerja merusak membran plasma dari jamur. 
Senyawa saponin dapat merusak sel membran sitoplasma jamur dengan cara meningkatkan permeabilitas membran sel jamur. Saponin dapat terkondensasi pada permukaan suatu benda atau cairan dikarenakan memiliki gugus hidrokarbon yang larut lemak (berada pada membran sel), sehingga dapat menyebabkan sel-sel pada membran sitoplasma Senyawa kimia flavoniod pada bawang putih juga memiliki aktivitas antijamur. 
Flavonoid yang berada di dalam sel jamur akan mengendapkan protein yang tersusun atas asam amino sebagai hasil translasi dari RNA. Gangguan pada pembentukan partikel protein dapat mencegah proses sintesis protein di dalam inti sel sehingga menyebabkan kematian pada sel jamur.
Cara Membuat :
Hancurkan 2 Siung Bawang Putih, rendam dalam 4 cangkir air selama 24 jam.
Tambahkan 14 Liter Air semprotkan ke tanaman.
Kunyit (Curcuma domestica)
Kandungan utama kunyit adalah minyak Atsiri dan Kurkuminoid.
kunyit mengandung minyak atsiri keton sesquiterpena yaitu turmeron dan artumeron. Senyawa-senyawa ini yang terkandung dalam kunyit memiliki aktifitas biologis sebagai anti bakteri, antioksidan dan anti hepatotoksik.
Penggunaan kunyit sebagai anti fungi telah dilakukan terhadap beberapa jenis jamur diantaranya Fusarium Udum ,
Coletotrichum Falcatum Went, Fusarium moniliforme J. Xanthomonas axonopodis pv. Manihotis dan Alternaria solani .
Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam kunyit dapat menghambat pertumbuhan miselium jamur, sehingga kunyit dapat dijadikan sebagai pengendali penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur.
Cara Membuatnya :
200 gram Kunyit dihaluskan lalu ditambah dengan 1 liter air dan direndam selama 24 jam. Tambahkan 14 Liter air
Lengkuas (Alpinia galanga (L) Wild)
Rimpang lengkuas mengandung lebih kurang 1% minyak essensial terdiri dari : 
Metil–Sinamat 48%, 
Sineol 20–30%, 
Eugenol, Kamfer 1%, 
Seskuiterpen– Pinen, Galangin, Galanganol dan beberapa senyawa Flavonoid.
Cara Membuat :
200 gram Lengkuas dihaluskan lalu ditambah dengan 1 liter air dan direndam (maserasi) selama 24 jam. Penggunaan untuk 14 Liter

Cengkeh (Syzygium Aromaticum)
Cengkeh  mengandung  Eugenol,  Eugenol  Asetat,  Kariofilen,  Sesquiterpenol  dan Naftalen. Bagian tanaman yang digunakan adalah daun.
Tumbuk halus 50-100 gram daun cengkeh kering, tambahkan air 500 ml. Rendam selama 24 jam
Dosis Penggunaan : 500 ml/tangki

Lidah Buaya (Aloe Barbadensis Milleer)
Bahan  kimia  yang  terkandung  dalam  tumbuhan Lidah Buaya ini antara     lain :
Saponin,  Flavonoida,  Polifenol  dan  Tanin.  
Bagian  tanaman  yang digunakan adalah daging.
Haluskan 4 Ruas Lidah Buaya lengkap dengan kulitnya, tambahkan air 1 Liter dan rendam selama 24 jam. Lidah buaya juga bisa dijadikan perekat alami pestisida nabati pengganti sabun.
Dosis Penggunaan : 500 ml/Tangki

Daun Mindi (Melia Azedarach)
Daun, buah dan biji Mindi Azedarach mengandung Saponin, Flavonoida dan Polifenol. Selain itu daun dan buahnya mengandung Alkaloida.

Sebanyak 1Kg Daun dan Biji Mindi ditumbuk dan dicampur dengan 10 liter air dan direndam selama 24 jam.
Dosis 250ml/Tangki

Pepaya (Carica Papaya)
Pepaya mengandung enzim papain, alkaloid karpaina, psudo karpaina, glikosid, karposid, saponin, beta karotene, pectin, d- galaktosa, L- arabinosa,  papain,  papayotimin  papain,  vitokinose,  glucoside  cacirin,  karpain, papain, kemokapain, lisosim, lipase, glutamin, dan siklotransferase. Bagian tanaman yang digunakan : daun
Sebanyak 1 kg daun pepaya ditumbuk dan dicampur dengan 10 liter air dan direndam selama 2 hari. Kemudian, larutan tersebut disaring dan siap digunakan.
Dosis 500ml/Tangki.

Putri Malu (Mimosa Pudica)
Putri  malu  mengandung  senyawa  mimosin,  asam  pipekolinat, tannin, alkaloid, dan  saponin.  Selain  itu,  juga  mengandung  triterpenoid,  sterol,  polifenol  dan flavonoid. Bagian  tanaman  yang  digunakan adalah daun, akar, seluruh bagian tanaman.
Tanaman sebanyak 1 kg dicuci  hingga bersih  kemudian dicacah,  dicampur dan  digiling sampai  halus. Rendam dalam 5 liter air selama 24 jam

Catatan : 
Cara Aplikasi Fungisida Nabati
Berbeda dengan pestisida kimia, pestisida nabati dalam pembuatan dan aplikasi bisa menggunakan lebih dari 1 bahan (bisa dicampur) karena sifatnya yang saling menguatkan dan melengkapi khasiat kandungan senyawa yang terkandung didalamnya.
Aplikasi dilakukan dengan cara : Saring dan tambahkan larutan pestisida nabati dengan air dengan  perbandingan 1 : 9 . Tambahkan sedikit sabun atau lidah buaya sebagai perekat. Semprotkan Pada sore hari .
Demikian Pembuatan Pestisida Nabati semoga bermanfaat bagi teman teman.
Wassalam.

Produk Pertanian :
  • PGPR  Harga Rp. 25.000/Liter
  • Fish Amino Acids Rp. 25.000/½Liter
  • Brown Rice Vinegar Rp. 50.000/Liter
  • Coryn Bacteria Harga Rp. 30.000/½Liter
  • Bio-Pestisida Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Polymixa Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Tricoderma Harga Rp. 50.000/Kg
  • Mikoriza Harga Rp. 50.000/Kg
  • Waiting Agen Rp. 30.000
Peternakan :
  • Probiotik EXTRA 99 PLUS Rp. 20.000/Liter
  • Oriental Herbal Nutrien Rp. 25.000/Liter
  • Dekomposer EXTRA 88 Rp. 25.000/liter
  • Enzim Rp. 30.000/Liter
  • Desinfektan Rp. 20.000/Liter
CV. Griya Tani
Office Address :
D/a : Jl. K Mustajib RT 001/002 Kel Kunir Kec Dempet Kab Demak Jawa Tengah 59573 

Kontak Person

Copyright © 2020 CV. Griya Tani
All right NATURAL FARMING Indonesia

2 Sep 2020

CARA MEMBUAT FUNGISIDA JADAM SULFUR

CARA MEMBUAT FUNGISIDA JADAM SULFUR


Jadam Sulfur - Fungisida Alami yang bisa kita buat Sendiri. Pengendalian Kutu Daun dan Jamur Tepung, Fungisida  kimia yang harganya melambung tinggi dan di prediksi akan terus naik. Problem terbesar Petani dalam melakukan usaha Pertanian adalah mahalnya harga pestisida kimia. Ketika pengiriman dan perdagangan produk pertanian menjadi lebih umum, persaingan akan menjadi lebih ketat. Biaya produksi harus lebih rendah agar pertanian dapat bertahan. Pestisida alami metode ini kami dari Petani Organic dari Korea "Youngsang Co" salah satunya adalah : 

Jadam Sulfur disebut juga belerang tanah liat merah. Ini efektif melawan hampir semua patogen. Dan tidak mengembangkan resistensi hama terhadap Jadam Sulfur.  Sangat efektif melawan penyakit embun tepung, jamur berbulu halus, dan jamur pada buah  Kesemek, anggur, labu, bawang merah, bawang putih, dan tanaman holtikultura lainnya, berhati-hatilah saat menggunakannya. Lakukan test konsentrasi sebelum Aplikasi. Oke langsung ke cara pembuatan ya lurr......!!

Berikut Adalah Cara Membuat  Jadam Sulfur 
Bahan Yang Dibutuhkan :
  • Ember Plastik (PE) 60 Liter ( yang tahan panas).
  • Sulfur 25㎏
  • Natrium Hidroksida 20 Kg
  • Bubuk Fillit, 0,5㎏,
  • Bubuk Tanah Liat Merah 0,5㎏,
  • Garam Laut 1,5㎏.

Sebelum memulai proses pembuatan untuk keamanan jangan gunakan wadah yang tidak tahan panas. Kenakan kacamata pelindung, sarung tangan, sepatu bot, dan jaket. Ikuti instruksi. 

Cara Pembuatan :
  1. Rebus Air sebanyak 50 Liter menggunakan Natrium Hidroksida dengan ember yang tahan Panas.
  2. Masukkan 20㎏ Natrium Hidroksida ke dalam ember. Atur suhu air yang kita rebus tadi jangan lebih dari 27 ℃ dengan cara menambahkan 4 liter. Sehingga total air 54 liter Tuang sekaligus. 
  3. Masukkan Sulfur 25㎏
Catatan :
Jika air terlalu kecil atau suhu terlalu panas, cairan bisa mendidih dan tumpah. Hati-hati.
Aduk dengan tongkat kayu sepanjang 1-2meter. Aduk sampai benar-benar rata dan pelan pelan kikis sampai bagian bawahnya.

Saat panas naik di atas 80 derajat Celcius, belerang mulai mencair. Selalu siapkan 1-2liter air. Jika cairan terlalu mendidih, segera tuangkan untuk mengurangi suhu. Periksa dengan tongkat untuk memastikan tidak ada sisa gumpalan yang belum larut di bagian bawah. Aduk rata. Setelah sekitar 20 menit dipanaskan, semuanya akan meleleh. 

Biarkan selama satu atau dua hari. Tuang cairan bening di atasnya ke dalam wadah plastik berdinding tebal. Segel rapat dan simpan. Gunakan kain untuk menyaring saat menuangkan bagian sedimen. Pestisida Tidak ada kadaluwarsanya. 

Cara Aplikasi :
0,5 - 2Liter untuk 5000 liter 
0,5 Liter  Untu 5000 air untuk lahan terbuka, mulai dari 1liter. Untuk Pengobatan 2 liter saat dibutuhkan. Gunakan JS hanya setelah penyakit muncul. Jangan digunakan terus menerus karena dapat merusak pertumbuhan.

Demikian Penjelasan singkat dan cara Membuat Pestisida Sulfur semoga bermanfaat dan bisa merungangi biaya operasional, sebagai petani harus jeli dan mau sedikit bekerja lebih keras mempersiapkan segala amunisi yang dibutuhkan. Jadikan lahan pertanian yang kita miliki sebagai laboratorium kita sendiri.

Wassalam....

Untuk lebih jelasnya tonton video di bawah ini :
Video Membuat Jadam Sulfur

Produk Pertanian :
  • PGPR  Harga Rp. 25.000/Liter
  • Fish Amino Acids Rp. 25.000/½Liter
  • Brown Rice Vinegar Rp. 50.000/Liter
  • Coryn Bacteria Harga Rp. 30.000/½Liter
  • Bio-Pestisida Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Polymixa Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Tricoderma Harga Rp. 50.000/Kg
  • Mikoriza Harga Rp. 50.000/Kg
  • Waiting Agen Rp. 30.000
Peternakan :
  • Probiotik EXTRA 99 PLUS Rp. 20.000/Liter
  • Oriental Herbal Nutrien Rp. 25.000/Liter
  • Dekomposer EXTRA 88 Rp. 25.000/liter
  • Enzim Rp. 30.000/Liter
  • Desinfektan Rp. 20.000/Liter
CV. Griya Tani
Office Address :
D/a : Jl. K Mustajib RT 001/002 Kel Kunir Kec Dempet Kab Demak Jawa Tengah 59573 

Kontak Person


Copyright © 2020 CV. Griya Tani
All right NATURAL FARMING Indonesia