Agriculture Farming Service

Agriculture Farming Service – Layanan pertanian modern yang membantu petani meningkatkan hasil panen melalui teknologi, manajemen lahan, dan solusi berkelanjutan

Breaking News

Breaking News! Simak kabar terbaru dan paling update hanya di sini. Kami hadir menyajikan informasi tercepat, akurat, dan terpercaya langsung dari lapangan. Jangan lewatkan momen penting yang sedang terjadi sekarang juga!

Seputar Olah Raga

Breaking News Olahraga! ⚽🏀🏸

Update tercepat tentang kabar olahraga terkini dari dalam dan luar negeri. Mulai dari sepak bola, bulu tangkis, basket, hingga olahraga trending lainnya. Simak informasi paling fresh dan jangan lewatkan momen bersejarah di dunia olahraga!

📌 Subscribe dan aktifkan notifikasi 🔔 biar nggak ketinggalan kabar terbaru.

Channel Katebat

KATEBAD ala kocak! 🤣🎥

Film pendek parodi yang menggabungkan berita terkini dengan sentuhan humor segar. Dijamin bikin ngakak tapi tetap ada pesan yang bisa dipetik. Tonton sampai habis, karena ending-nya bikin kaget!

📌 Jangan lupa Subscribe, kasih like 👍, dan share ke teman biar ikut ketawa bareng.

Info Seputar Megawati

Arabica Coffee House Kadınlar 1. Ligi, adalah nama resmi dari kompetisi Voleybol Kadınlar 1. Ligi di bawah naungan Türkiye Voleybol Federasyonu (TVF), yang kini menjadi penyelenggara utama dengan status nama sponsor

Tampilkan postingan dengan label BACTERIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BACTERIA. Tampilkan semua postingan

22 Jan 2023

PERANAN ELISYTOR SEBAGAI PEMICU PERTAHAN TANAMAN DARI SERANGAN PATHOGEN

PERANAN ELISYTOR SEBAGAI PEMICU PERTAHAN TANAMAN DARI SERANGAN PATHOGEN


Peningkatan produksi pertanian selalu diharapkan oleh patani baik dari segi kualitas dan kuantitasnya. Namun, peningkatan produksi tidaklah mudah untuk dicapai. Banyak kendala yang dihadapi, salah satunya adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Serangan OPT dilaporkan banyak menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, bahkan dapat menyebabkan gagal panen. Oleh karena itu, dibutuhkan tidandakan pengendalian. Saat ini para petani lebih banyak menggunakan pestisida sintetik/kimia, dibanding dengan pestisida nabati, karena pestisida sintetik pembuatannya masal dan murah, serta mempunyai daya bunuh yang cepat.

Banyak pakar menyarankan, penggunaan pestisida harus tepat. Artinya, pestisida yang diaplikasikan efektif dan ampuh. Selain itu, pengginaan pestisida kimia juga harus bijaksana, artinya dapat menekan dampak negatif pestisida terhadap pengguna, konsumen dan lingkungan serta bersifat ekonomis dan efisien. Penggunaan pestisida yang berlebihan dan cara aplikasi yang tidak bijaksana memberikan dampak negatif, seperti pencemaran lingkungan, kematian hewan non-target, penyederhanaan rantai makanan alami dan keragaman hayati, Bioakumulasi/Biomagnifikasi, resistensi hama dan terbunuhnya musuh alami.

Perlu diingat bahwa pengembangan pertanian saat ini, mengsyaratkan jaminan produk pertanian yang aman dikonsumsi (food safety attributes), punya kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (Eco Labelling Attributes). Maka untuk merealisasi jaminan produk pangan, beberapa program yang dilakukan antara lain: 1) Program peningkatan ketahanan pangan, 2) Program pengembangan agribisnis, dan 3) Program pengembangan pertanian organik dan penggunaan pestisida. Oleh karena itu, perlu terobosan baru dalam tindakan pengendalian OPT yang aman, murah, dan ramah lingkungan.

Pertanian Ramah Lingkungan

Konsep pertanian ramah lingkungan adalah konsep pertanian yang mengedepankan keamanan seluruh komponen agroekosistem. Pertanian ramah lingkungan mengutamakan untuk menekan dampak negatif penggunana pestisida bagi lingkungan. Saat ini, telah banyak dikembangkan pestisida alternatif sebagai pengganti pestisida kimia, yaitu pestisida nabati. Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tanaman atau tumbuhan dan bahan organik lainya yang berkhasiat mengendalikan serangan hama dan patogen pada tanaman. Pestisida nabati saat diaplikasikan dapat mengendalikan serangan hama dan patogen. Nilai lebih dibandingkan dengan pestisida kimia adalah  residu pestisida nabati akan hilang di alam. Dengan demikian produk terbebas dari residu pestisda sehingga aman dikonsumsi manusia. Pestisida nabati dapat menjadi alternatif pengendalian hama yang aman dibanding pestisida sintetik.

Selain digunakan sebagai bahan untuk membuat pestisida nabati, berbagai tumbuhan telah diteliti berpotensi sebagai elisitor yaitu antara lain :

  1. Daun Bayam Duri (Amaranthus Spinosus), 
  2. Daun Iler/Jawer Kotok (Coleus Scutellarioides), 
  3. Daun Kenikir (Tagetes Erecta), 
  4. Daun Nimba (Azadirachta Indica), 
  5. Daun Sirsak (Annona Mucicata) 
  6. Daun Tapak Dara (Cataranthus Roseus). 

Tetumbuhan tersebut ternyata dapat  menghasilkan senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, steroid dan terpenoid, senyawa metabolit sekunder berpotensi dijadikan sumber gen resisten terhadap hama dan patogen.

Tanaman Sebagai Elisitor

Tanaman elisitor adalah suatu tanaman yang mengandung senyawa biologis yang dapat menyebabkan peningkatan produksi fitoaleksin apabila diaplikasikan pada tumbuhan atau kultur sel tumbuhan. Elisitor dapat berasal dari bakteri, jamur, virus, senyawa polimer karbohidrat, protein, lemak dan mikotoksin sebagai elisitor biotik, dan elisitor abiotik seperti sinar UV, ion-ion logam dan hormon dan molekul-molekul pengkode resistensi tanaman. Elisitor dapat memicu respon fisiologis, morfologis dan akumulasi fitoaleksin, sebagai molekul yang mengaktifkan sinyal transduksi dan menyebabkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosisntesis metabolit sekunder. Kemudian pada tahun 2005 Sampai 2006 ada penemuan Tanaman akan mendapatkan aktivator alami misalnya, Glikosida Benzoxazinoid dari Zea Mays dan Glikosiada Isoflavonoid dari tanaman kacang - kacangan.

Penelitian elisitor alami telah dilakukan pada tahun 2000, Dengan mengekstrak Tanaman Beluntas (Plucea Indica) berpotensi sebagai penginduksi resistensi tanaman cabai merah terhadap penyakit Antraknos Colletotrichum Gloesporioides. Selanjutnya pada tahun 2001 menunjukkan penggunaan ekstrak tanaman sebagi elisitor dari daun Bunga Pukul Empat (Mirabilis jalapa), daun Bunga Pagoda (Clerodendrum Japonicum) dapat menginduksi resistensi tanaman cabai terhadap Virus Gemini. Tumbuhan sambiloto (Andrographis Paniculata) berpotensi elisitor tanaman jahe terhadap penyakit Layu Bakteri Ralstonia Solanacearum.

Sementara itu, Penelitian yang dilaksanakan pada tahunn 2019 mendefinisikan,  tanaman elisitor adalah suatu tanaman yang mengandung senyawa kimia yang dapat memicu respon fisiologi, morfologi dan akumulasi fitoaleksin, meningkatkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosintesis metabolit sekunder. Lebih lanjut dikatakan bahwa elisitor dapat menginduksi resistensi tumbuhan. Elisitor terdiri atas dua jenis yaitu ada elisitor biotik dan abiotik. Elisitor  biotik adalah elisitor yang berasal dari bahan hayati meliputi polisakarida, protein, glikoprotein atau fragmen dinding sel yang berasal dari fungi, bakteri, dan tanaman. Elisitor abiotik adalah zat yang dihasilkan dari bahan non hayati berupa logam berat, garam anorganik, pH, stress suhu, cahaya, dan sebagainya. 

Peran Elisitor Untuk Memacu Resistensi Tanaman

Resistensi tanaman terhadap patogen sering didefinisikan  sebagai kemampuan tanaman untuk mengurangi, menghambat atau membatasi serangan patogen. Secara umum tumbuhan akan memberikan respon terhadap serangan patogen dan respon tersebut akan bertanggung jawab terhadap resistensi tanaman terhadap patogen. Akibat adanya serangan patogen akan memberikan reaksi pertahanan untuk melindunginya. Tanaman akan mempertahankan diri dengan dua cara, yaitu :

  1. Adanya sifat-sifat struktural pada tanaman yang berfungsi sebagai penghalang fisik dan akan menghambat patogen untuk masuk dan menyebar di dalam tanaman, dan 
  2. Respon biokimia yang berupa reaksi kimia yang terjadi di dalam sel dan jaringan tanaman sehingga patogen dapat mati atau terhambat pertumbuhannya.

Tanaman akan memberikan respon terhadap patogen dengan cara berbeda. Respon tersebut ada yang berinteraksi dan ada yang tidak berinteraksi. Pada kasus tertentu terjadi hubungan yang inkompatibel antara tanaman dan patogen (tanaman adalah resisten) atau hubungan yang kompafibel (tanaman adalah rentan). Namun interaksi yang terjadi antara tanaman dan patogen yang menyerangnya sangatlah rumit dan banyak melibatkan reaksi biokimia. Pada kondisi yang normal, tanaman resisten terhadap kebanyakan mikroorganisme patogen. Hanya relatif sedikit terdapat kombinasi hubungan patogen-inang yang terjadi. Kejadian biokimia yang terdapat pada interaksi tanaman inang dan bukan inang dengan suatu patogen adalah sama, tetapi intensitasnya dan bentuk penampilannya tergantung pada kondisi lingkungan dan fisiologinya. Kombinasi antara sifat struktural dan reaksi biokimia yang digunakan untuk pertahanan bagi tanaman berbeda antara setiap sistem kombinasi inang-patogen. Dapat terjadi pada hubungan inang-patogen yang sama, kornbinasi tersebut dapat berbeda tergantung pada umur tanaman, jenis organ, jaringan tumbuhan yang diserang, keadaan hara tumbuhan, dan kondisi cuaca.

Telah banyak penelitian diarahkan pada upaya pengaktifan gen ketahanan tanaman terhadap infeksi mikroba lain atau senyawa kimia. Ketahanan seperti ini disebut ketahanan yang diinduksi (Induced Iesistance). Induksi resistensi atau imunisasi atau resistensi buatan ialah suatu proses stimulasi resistensi tanaman inang tanpa introduksi gen-gen baru. Induksi resistensi menyebabkan kondisi fisiologis yang mengatur sistem ketahanan menjadi aktif dan atau menstimulasi mekanisme resistensi alami pada tanaman inang.

Dua bentuk ketahanan terinduksi yang umum diteliti, yaitu Systemic Acquired Resistance (SAR) dan Induced Systemic Resistance (ISR). Ketahanan tanaman terinduksi dapat dipicu dengan penambahan bahan-bahan kimia tertentu (misalnya tanaman elisitor), mikrob nonpatogen, patogen avirulen, ras patogen inkompatibel, dan patogen virulen yang infeksinya gagal karena kondisi lingkungan tidak mendukung.

Ketahanan tanaman yang terinduksi oleh penambahan senyawa kimia atau senyawa elisitor diistilahkan dengan induksi SAR. Induksi SAR dicirikan dengan terbentuknya akumulasi asam salisilat (Salicylic Acid/SA) dan Protein PR (Pathogenesisrelated Proteins/PR), sedangkan ketahanan terinduksi karena agen biotik nonpatogenik sering dikenal dengan ISR.

Menurut penelitian yang dilakukan pada tahunn 2013, bahwa induksi resistensi dapat dilakukan melalui aplikasi agens hayati (seperti rizobakteria nonpatogen) dan senyawa kimia (sintetik dan nabati). Keberhasilan senyawa penginduksi dalam mengendalikan serangan patogen tanaman berkisar antara 20–89%, bergantung pada jenis tanaman, kondisi fisiologis, dan faktor abiotik seperti kelembaban dan suhu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak tanaman sebagai elisitor berupa daun bunga pukul empat (Mirabilis Jalapa) dan daun bunga pagoda (Clerodendrum japonicum) paling efektif menginduksi ketahanan tanaman cabai terhadap virus Gemini. Selanjutnya ada laporan bahwa ekstrak tanaman Sambiloto mengandung elisitor pemicu ketahanan tanaman terhadap penyakit layu bakteri, dengan tingkat keefektifan sebanding dengan perlakuan senyawa kimia asam salisilat+Ca.

Mekanisme induksi resistensi berkaitan dengan peningkatan produksi beberapa jenis protein pathogenesis related-proteins (PRP), antara lain kitinase, b-1,3 glutanase, proksidase, endoproteinase, dan oxalate oksidase. Mayoritas protein tersebut bekerja melalui sintesis senyawa penyandi ketahanan seperti asam salisilat, asam jasmonat, dan etilen, serta aktivitas anti mikrob melalui hidrolisis dinding sel, toksik, dan signal ketahanan. Senyawa elisitor tersebut terekspresi pada kondisi tanaman senesen, terluka, stress dingin, tetapi ada yang juga terekspresi pada setiap saat dalam jaringan bunga, pollen, buah dan bagian vegetatif yang mekanisme kerjanya menyerupai kerja imunitas pada manusia.

Ekstrak tanaman Salix sp., telah digunakan di beberapa negara dan terbukti efektif sebagai induser ketahanan yang dapat mengendalikan beberapa patogen tanaman, di antaranya adalah untuk mengendalikan penyakit bercak ungu yang disebabkan oleh Alternaria porii pada bawang merah, dan penyakit Virus Kuning (Bean Yellow Mosaic Virus) pada Cabe Merah Keriting, bahwa beberapa Spesies Salix (seperti : Salix Alba, S. Daphnoides, S. Purpurea, S. Matsudana), umumnya mengandung senyawa Glikosida, seperti Salicin, dan diidentifikasi juga beberapa senyawa Terpen, Flavonoid, dan beberapa jenis Steroid yang berperan menghambat perkembangan patogen.

Kesimpulan

Elisitor asal tetumbuhan merupakan senyawa kimia yang dapat memicu respon fisiologi, morfologi dan akumulasi fitoaleksin, meningkatkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosintesis metabolit sekunder. Ketahanan tanaman terinduksi dapat dipicu dengan penambahan elisitor.  Induksi SAR dicirikan dengan terbentuknya akumulasi asam salisilat (Salicylic Acid/SA) dan protein PR (Pathogenesis Related Proteins/PR)

Demikian Penjelasan tentang extrak tanaman sebagai elisitor, ternyata mampu memicu resistensi tanaman dari berbagai serangan patogen. semoga bermanfaat sampai jumpa.

3 Jan 2023

CARA DAN PROSES PEMBUATAN BACTERI CAIR UNTUK PENGURAI

CARA DAN PROSES PEMBUATAN BACTERI CAIR UNTUK PENGURAI


Pengurai sampah dan limbah organik bagi proses dekomposisi atau biodegradasi disajikan dalam produk Activator Kompos ( @ 250 gr/ Pack ) adalah konsorsium mikroba unggulan terdiri dari 5 bakteri, fungi dan ragi disajikan berupa serbuk ( powder ).

Mikroba unggulan terdiri bakteri aktinomycetes- spesies aktinomyces naeslundii, Lactobacillus spesies delbrueckii, Bacillus Brevis, Saccharomyces Cerevisiae, ragi, dan jamur serta Cellulolytic Bacillus Sp) pengurai bahan organik ( limbah kota, pertanian, peternakan dan lain-lainnya) . Bermanfaat untuk mempercepat proses dekomposisi ( menghancurkan bahan organik) , menghilangkan bau busuk dan menekan pertumbuhan ( antagonis) mikroba penyebab bau, penyebab penyakit akar dan merugikan tanaman ( patogen) .

Bacillus SP

Bakteri yang bersifat proteolitik pemecah pati ini merupakan bakteri probiotic aktif pengurai lignin dan selulosa, karbohidrat, bahan organik, maupun lemak secara biologis. Mengurai NO dan NH3 sekaligus menekan berkembangnya bakteri pathogenik pada materi organik seperti sampah dan tinja, guna mencegah sumber air dan badan lingkungan terkontaminasi.

Lactobacillus, Saccharomycess, Aktinomycetes

Bakteri pengurai limbah kota, limbah pertanian dan peternakan. Konsorsium ketiganya akan menghancurkan dengan menguraikannya serta menghilangkan bau busuk dari timbulan gas H2S maupun methan CH4. 

Bakteri ini akan bekerja aktif dan berkembang populasinya pada kondisi PH netral 6-7, suhu mesofilik ( 35-55 derajat Celcius), kelembaban atau kadar air material 60%, materi berporositas bagi optimalnya oksigen (aerasi) dan keseimbangan material organik pada nisbah C/N ( Carbon/ Nitrogen) 25-30.

Dari sifat dan karakternya itulah aktivator EXTRA 88 efektif digunakan dalam penguraian materi dengan kandungan heterogen ( karbohidrat, lemak, protein) seperti terdapat dalam sampah kota maupun limbah industri makanan.  

Pengkondisian bagi aktif dan berkembangnya populasi bakteri ini dilakukan dengan mekanisasi seperti alat mesin produksi kompos ARKRKM 1000 L maupun mesin kompos lainnya yang ketika dipadukan dengan material penggembur GP2 akan menjamin stabilisasi suhu, PH, kadar air maupun asupan oksigen ( aerasi).

Penggembur Green Phoskko (GP2) merupakan campuran aneka bahan hasil tambang ( zeolit, dolomit), material karbon (C) seperti serbuk gergaji dan arang sekam pada komposisi tertentu. Penggembur GP2 berfungsu sebagai starter bagi kenaikan suhu dan PH sampah kota dan sampah dapur, yang umumnya bersifat asam ( PH dibawah 7) dengan suhu dibawah 20 derajat Celcius.

Bahan Peralatan
  1. Tempe ¼ kg Galon 1 buah
  2. Tape singkong 0.5-1 Kg Baskom 1 buah, blender
  3. Air tebu 1 ½ lt/Gula Pasir/Gula merah 1 kg/ molase 5-10 sdm Plastik 1 buah
  4. Air ¾ galon (air isi ulang/air sumur) Karet gelang 1 buah
  5. Susu fermentasi (Yakult,Yoghurt , dll): 3 sdm atau setengah botol Sendok makan

Tahapan kerja :

  1. Campurkan tempe dan tape hingga menyatu di dalam baskom
  2. Buat kepalan dari campuran tempe dan tape, lalu masukkan ke dalam galon yang telah terisi air (sebaiknya air mineral isi ulang atau air sumur, bukan air PDAM)
  3. Masukkan air tebu/gula/molase ke dalam galon, lalu tambahkan 3sdm yoghurt
  4. Kocok galon agar kepalan campuran tempe dan tape dapat menyebar rata
  5. Tutup galon dengan plastik yang dimasukkan ke dalam mulut galon, palstik ini akan menggelembung bila bakteri di dalam galon telah bekerja aktif (biasanya 3-4 hari)
Catatan : Cara pembuatan bisa juga dengan cara tempe, tape, susu fermentasi dan gula diblender dengan tujuan agar bahan mudah diaduk dan tercampur merata tanpa harus melakukan pengocokan ketika sudah dimasukkan dalam galon.

Cara penggunaan :
Siramkan bakteri cair 2 tutup botol minuman mineral ke saluran drainase (selokan, sumur, kamar mandi, kloset, wastafel) setiap hari

Manfaat :

  1. Meningkatkan kualitas air (bakteri menguraikan kandungan di dalam limbah yang merugikan)
  2. Dapat sebagai pupuk cair (1 liter bakteri cair + 10 liter air sumur)
  3. Pestisida Organik
  4. Menghancurkan padatan kotoran pada septic tank jika sudah penuh
  5. Mengatasi bau pada saluran

Catatan :

  1. Ciri-ciri bila bakteri ini masih bagus adalah aromanya menyerupai tape
  2. Untuk pembuatan bakteri cair berikutnya, ambil 1 gelas bakteri cair sebagai starter, lalu
  3. Lakukan tahapan kerja yang ke-3 dan ke-4
  4. Sudah diaplikasikan sejak tahun 2005 dan digunakan oleh petani alami untuk pupuk cair ketika padi mulai meteng, mrantak dan padi mulai menguning (berfungsi sebagai SCOR alami). Terima kasih
Saya pribadi sudah membuat bakteri cair ini, cuma ada bahan yang saya tambahkan dan atau saya ganti.

Bahan yang saya tambahkan adalah isi buah maja 1-2 butir. Lebih bagus lagi, isi buah maja yang sudah berwarna hitam, kemudian  diblender. Dengan demikian, gula pasir/gula jawa akan berkurang 1/2 dari dosisnya.

ECO SYSTEM ENZIM ( Enzim Lingkungan )
Enzim lingkungan adalah solusi kompleks yang dihasilkan dari fermentasi limbah dapur segar (ampas buah dan sayuran),+Gula (gula merah, gula merah atau gula molase) dan air. Warnanya coklat tua dan memiliki aroma fermentasi asam manis yang kuat. Enzim ramah lingkungan adalah cairan multiguna dan aplikasinya mencakup rumah tangga, pertanian, peternakan, dll.

Aktivitas enzim di dalam Eco System Enzim  ​​juga dapat dimanfaatkan. Selama proses fermentasi, enzim mikroorganisme aktif memproses sumber energi. Eco System Enzim mengandung aktivitas :
Amilase, lipase  dll yang dapat digunakan untuk mengolah limbah susu, di mana ia mengandung karbohidrat, protein, dan lemak untuk dipecah oleh enzim-enzim tersebut.
Berikut ini adalah beberapa manfaat dari enzim ramah lingkungan
  1. Pembersih lantai
  2. Pembersih toilet
  3. Pembersih dapur Cairan pencuci piring
  4. Pembersih udara Deterjen pakaian
  5. Pengolahan limbah
  6. Anti-Bakteri,
  7. Jamur dan Virus
  8. Antiseptik alami untuk rumah Anda. Memurnikan Air Bawah Tanah
  9. Residu enzim yang mengalir di bawah tanah pada akhirnya akan memurnikan sungai dan laut.
  10. Purify Air atau penghilang bau Air
  11. Udara atoxic yang dilepaskan dari rokok, knalpot mobil, residu kimia dari produk rumah tangga, dll.
  12. Obat nyamuk
  13. Pestisida
  14. Pupuk

Bahan dan peralatan
  • Potongan sayur dan buah (mentah)
  • Gula merah
  • Air bersih
  • Wadah kedap udara
Cara Membuat :
Perbandingan antara air, potongan buah atau sayuran dan gula merah masing-masing 10 : 30 : 1 ( mis. 10 gram gula merah, 30 gram potongan buah / sayuran, 1000gram airv). Sesuaikan dengan limbah atau wadah yang tersedia.

Potong buah atau sayuran menjadi potongan-potongan kecil. Campur semua bahan ke dalam wadah plastik dan aduk. Bahan plastik lebih disukai untuk menghindari wadah meledak ketika gas menumpuk.

Tutup wadah sampai kedap udara. Biarkan selama 3 bulan di ruang terlindung. Selama tahap awal fermentasi, buka wadah kira-kira setiap seminggu sekali untuk melepaskan gas yang terperangkap dan mencegah wadah agar tidak meledak.

Setelah 3 bulan, enzim eko ​​yang berhasil akan memiliki warna cokelat gelap dengan bau cuka. Jika cairan berwarna hitam, tambahkan lebih banyak gula untuk melanjutkan proses fermentasi. Abaikan saja jika ada cacing dan serangga karena akan dipecah melalui proses. Saring cairan dari sisa limbah organik dan simpan dalam wadah apa pun untuk digunakan nanti. Residu limbah organik dapat digunakan sebagai pupuk.

Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pembuatan ENZYME ECO SYSTEM
Jangan gunakan wadah kaca atau logam karena tidak bisa mengembang (karena akan ada gas yang dihasilkan sehingga volume gas dan tekanan akan bertambah)
Warna ideal eco enzyme adalah coklat tua, jika berwarna hitam tambahkan gula untuk mengulang proses fermentasinya

Sisa atau residu organik eco enzyme dapat digunakan kembali, tambahkan saja sampah dapur segar. Atau bisa dibuat sebagai pupuk dengan mengeringkannya, kemudian kubur dalam tanah. Bisa juga digiling lalu masukkan ke toilet, tambahkan gula coklat lalu siram. Cara ini bermanfaat untuk membersihkan toilet.

Jika tidak memiliki sampah dapur yang cukup, kita bisa memasukkannya sedikit-sedikit. Fermentasi 3 bulan dimulai ketika sampah dapur terakhir ditambahkan.
Semakin lama difermentasikan akan semakin baik, eco enzyme tidak memiliki tanggal kadaluarsa. Jangan disimpan dalam kulkas, letakkan di suhu ruangan.

PENGGUNAAN ENZYME ECO SYSTEM

Berikut takaran pemakaian menggunakan perbandingan antara larutan ecoenzym dengan air (dalam satuan ml) :

  1. M‌encucipiring, peralatan dapur berminyak 1:10-50
  2. Penyegar udara ruangan 1:200
  3. Menyiram tanaman 1:500
  4. Disinfektan 1:500
  5. Mengepel lantai dengan perbandingan 1:1.000.
  6. Mencuci baju (mesin cuci) konsentrat (tidak perlu dicairkan dengan air lagi, langsung dimasukkan ke mesin cuci saja)
Produk Peternakan :
  1. Probiotik EXTRA 99 PLUS      Harga Rp. 20.000/Liter
  2. Oriental Herbal Nutrien             Harga Rp. 25.000/Liter
  3. Dekomposer EXTRA 88            Harga Rp. 25.000/liter
  4. Enzim                                         Harga Rp. 30.000/Liter
  5. Desinfektan                                 Harga Rp. 25.000/Liter

CV. Griya Tani Indonesia
Office Address :
D/a : Jl. K Mustajib RT 001/002 Kel Kunir Kec Dempet Kab Demak Jawa Tengah 59573 
Kontak Person



9 Mei 2022

CARA MEMBUAT PUPUK HAYATI MIKORIZA CAIR

CARA MEMBUAT PUPUK HAYATI MIKORIZA CAIR

Assalamu'alaikum sedulur tani... Apa Kabar semuanya, berjumpa kembali dengan kami team griyo tani indonesia. masih dalam suasana lebaran, kami seluruh team griyo tani mengucapkan, selamat hari raya idul fitri mohon maaf lahir batin. pada kesempatan yang penuh dengan keberkahan ini, kami akan mencoba menyampaikan hasil uji coba  yang kami lakukan beberapa waktu yang lalu.


Beberapa waktu yang lalu kami mencoba memebuat mol mikoriza, atau pupuk mikoriza cair. Namun sebelumnya dukung Channel Griyo Tani dengan klik tombol SUBSCRIBE, LIKE, SHARE, DAN BERKOMENTAR, jangan lupa Notifikasi di aktifkan. Selamat menyaksikan.
Seperti yang kita ketahui, Mikoriza memerlukan akar tumbuhan untuk menunjang proses daur hidupnya. Sebaliknya, beberapa jenis tumbuhan pertumbuhannya bergantung dengan mikoriza. Beberapa jenis tumbuhan tidak tumbuh, atau terhambat pertumbuhannya tanpa kehadiran mikoriza di akarnya. Misalnya, semaian pinus biasanya gagal tumbuh setelah pemindahan apabila tidak terbentuk jaringan mikoriza di sekitar akarnya. Hanya sedikit kelompok tumbuhan yang tidak menjadi simbion, seperti dari Suku kubis-kubisan, dari keluarga Brassicaceae, bunga mawar, dari keluarga Resedaceae, jelatang, dari keluarga  Urticaceae, dan Bunga Kertas dari keluarga Caryophyllales.

Dua kelompok mikoriza terbesar adalah, ektomikoriza, dan endomikoriza. Endomikoriza terutama didominasi oleh mikoriza arbuskular, ditambah dengan sekelompok mikoriza erikoid dan mikoriza arbutoid yang menginfeksi tumbuhan kelompok Erikoidae yaitu, jenis tanaman pinus.
Semua jenis endomikoriza termasuk ke dalam filum Glomeromykota, misalnya genus Gigaspora, Skultellospora,  Akaulospora, Entrophospora, dan Sklerocystis. Terdapat sekitar 150 jenis spora atau cendawan Arbuskular Mikoriza, yang telah dideskripsikan. Arbuskular Mikoriza tergolong dalam kelompok khusus dari populasi mikoriza yang sangat banyak mengkolonisasi rizosfer, yaitu di dalam akar, permukaan akar, dan di daerah sekitar akar. Hifa eksternal yang berhubungan dengan tanah dan struktur infeksi seperti arbuskula di dalam akar menjamin adanya perluasan penyerapan unsur unsur hara dari tanah dan peningkatan transfer hara (khususnya fosfor) ke tumbuhan, sedangkan cendawan memperoleh karbon organik dari tumbuhan inangnya.
Sedangkan maanfaat mikoriza pada tanamanan adalah.

Membantu Kinerja Akar Menyerap Unsur Hara.
Akar tanaman memiliki keterbatasan untuk menyerap unsur hara yang terkandung di dalam tanah, Di sinilah mikoriza berperan. Infeksi akar oleh mikoriza akan meningkatkan kinerja pembuluh akar hingga berkali kali lipat. Dengan demikian, penyerapan nutrisi oleh tanaman pun semakin baik. Pertumbuhan tanaman juga otomatis semakin tinggi dan berpengaruh positif pula pada produktivitasnya.

Membantu Tanaman Mendapatkan Air di Musim Kemarau
Musim kemarau dapat menyebabkan kekeringan karena persediaan air tanah semakin sedikit. Lebih-lebih penguapan terus terjadi. Pengairan ekstra pun dibutuhkan oleh tanaman agar tetap dapat hidup dengan baik. Dengan adanya mikoriza, akar tanaman dapat terus menyerap air dengan optimal pada cakupan wilayah yang lebih luas.

Melindungi Akar dari Serangan Mikroorganisme Patogen
Selain mikoriza, terdapat jenis-jenis jamur lain dalam tanah. Jamur tersebut bisa saja bersifat patogen yang menyebabkan penyakit bagi tanaman. Selain jamur, bakteri dan organisme lain dalam tanah juga dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Hifa mikoriza yang menyelubungi akar dapat melindungi tanaman dari infeksi tersebut.

Memacu Induksi Ketahanan Tanaman
Asam salisilat merupakan senyawa yang membantu tanaman untuk menangkal hama dan penyakit. Senyawa tersebut memicu munculnya antibodi pada sel tanaman. Studi terbaru menyebutkan bahwa mikoriza dapat menginduksi terbentuknya asam salisilat pada daun tanaman. Hal ini membuat tanaman lebih tahan terhadap infeksi jamur, bakteri, maupun virus. Beberapa jenis mikoriza saat ini telah diproduksi sebagai pupuk hayati untuk membantu budidaya tanaman. Pupuk tersebut dapat diaplikasikan dengan mudah pada lahan budidaya.
Banyak orang bilang bahwa mikoriza tiidak akan tumbuh pada media Cair, dan ini membuat kami penasaran untuk mengujinya. Kami mencoba mengembangkan Jamur Mikoriza pada media cair dengan bahan sebagai berikut :

Starter Mikoriza 50 gram,
Sumber Karbohidrat 100 gram,
Vitamin B komplek 2 butir,
Air No klorin secukupnya,
Gula Jawa atau Molase 1 Liter,
Alat yang dibutuhkan.
Toples Kaca atau Plastik kapasitas 5 Liter.
Slang dan Botol kecil sebagai Kontrol,

Langkah Pembuatan :
Langkah Pertama, kita siapkan dulu toples, slang, dan botolnya sebagai digester, untuk lebih jelasnya amati skema berikut.
Langkah Kedua, Tuangkan Molase atau air gula jawa sebanyak 1 liter, tambahkan air non klorin sebanyak 1 liter, aduk hingga homogen, masukkan Starter Mikoriza 50 sampai 100 gram, dan ttambahkan Vitamin B komplek 2 butir, aduk sampai merata, selanjutnya tutup toples dengan rapat. Dan simpan di tempat yang teduh. Untuk lamanya fermentasi minimal 1 minggu.
Pada video berikut adalah saat usia fermentas baru berjalan selama 3 hari.
Demikian Tutorial tentang cara membuat Pupuk Hayati Mikoriza cair, sedulur tani Menyukai-nya...
Silahkan Subscribe, Like, share, dan Komen-nya kami tunggu, Gratis! Salam Sukses Petani Indonesia.
Wassalamu’alaikum, dan sampai jumpa pada video berikutnya.
 

Produk Pertanian :

    PGPR  Harga Rp. 25.000/Liter
  • Fish Amino Acids Rp. 25.000/½Liter
  • Brown Rice Vinegar Rp. 50.000/Liter
  • Coryn Bacteria Harga Rp. 30.000/½Liter
  • Bio-Pestisida Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Polymixa Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Tricoderma Harga Rp. 50.000/Kg
  • Mikoriza Harga Rp. 50.000/Kg
  • Waiting Agen Rp. 30.000/Liter
  • Madam Sulfur Rp. 30.000/Liter

Peternakan :

  • Probiotik EXTRA 99 PLUS Rp. 20.000/Liter
  • Oriental Herbal Nutrien Rp. 25.000/Liter
  • Dekomposer EXTRA 88 Rp. 25.000/liter
  • Enzim Rp. 30.000/Liter
  • Desinfektan Rp. 20.000/Liter

CV. Griya Tani Indonesia

Office Address :

D/a : Jl. K Mustajib RT 001/002 Kel Kunir Kec Dempet Kab Demak Jawa Tengah 59573 

 

Kontak Person

 

Copyright © 2020 CV. Griya Tani
All right SAUNG TERNAK Mandiri

30 Apr 2022

MENGUNGKAP POTENSI MIMBA SEBAGAI PESTISIDA NABATI

 

MENGUNGKAP POTENSI MIMBA SEBAGAI
PESTISIDA NABATI


Assalamu’alaikum sedulur tani... Masih dalam suana ramadhan bulan yang penuh   dengan keberkahanini, berjumpa kembali dengan kami Team Griyo tani Indonesia. Jangan lupa Subscribe, Like, Share, jika ada pertanyaan atau kritik yang membangun silahkan tinggalkan komentar. Jangan lupa!! Aktifkan Loncengnya, agar tidak ketinggalan Video terbaru Dari griyo  tani.

Kali ini kita Akan mengulas tentang  Tanaman Mimba Sebagai Bahan Pestisida Nabati maupun sebagai bahan Herbal.

Selamat Membaca..

Sampai saat ini, pestisida kimia masih merupakan salah satu alternatif yang digunakan petani, untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman atau OPT di lahan pertanian, karena mudah didapat dan hasilnya dapat segera dilihat. Penggunaan pestisida oleh petani yang cenderung sangat berlebihan ini, akan berdampak negatif terhadap konsumen, maupun ekosistem pertanian. Salah satu cara alternatif untuk mengurangi pencemaran lingkungan ini adalah, dengan penggunaan pestisida nabati. Prinsip penggunaan pestisida nabati tersebut hanya untuk mengurangi ketergantungan petani, terhadap penggunaan pestisida kimia dan bukan untuk meninggalkan pestisida kimia.

Pestisida nabati adalah bahan aktif tunggal atau majemuk, yang berasal dari tumbuhan, daun, buah, biji, dan akar, yang berfungsi untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman, namun bersifat ramah terhadap lingkungan dan relatif aman dari segi kesehatan. Bahan dasar pestisida nabati bersifat mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia, dan hewan peliharaan, karena residunya yang mudah hilang. pestisida nabati merupakan kearifan lokal di Indonesia, yang sangat potensial untuk dimanfaatkan dalam pengendalian OPT, untuk mendukung terciptanya sistem pertanian organik.

Secara umum pestisida nabati diartikan sebagai, pestisida yang bahan dasarnya berasal dari bagian tumbuhan seperti akar, daun, batang, dan buah. Pestisida nabati relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas sekalippun, karena terbuat dari bahan alami atau nabati, maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai,

Salah satu tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai pestisida nabati adalah, tanaman mimba. Tanaman mimba tergolong dalam tanaman perdu. pertama kali ditemukan di daerah Hindustani Madhya Prades India, yang tumbuh di daerah tropis. Di Indonesia, tanaman ini tumbuh di daerah Jawa Barat, Jawa Timur, Jaawa Tengah, dan Madura pada ketinggian sampai dengan 300 meter dpl, tanaman mimba tumbuh di tempat kering, dan sering ditemukan di tepi jalan atau di hutan.

Mimba tergolong dalam Famili Meliaceae dengan tinggi pohon sampai 20 meter, daunnya majemuk, berbentuk lonjong bergigi, dan tumbuh didaerah tropis dan sub tropis. Daun mimba sangat pahit dan bijinya mengeluarkan bau seperti bawang putih. Buah mimba berbentuk elips, berdaging tebal, panjang 1,2 sampai 2 cm, hijau atau kuning ketika masak.

Mimba merupakan tanaman yang memenuhi persyaratan untuk dikembangkan menjadi sumber bahan dasar pembuatan pestisida nabati. Adapun persyaratan tersebut asalah.

1. Merupakan tanaman tahunan.
2. Tidak perlu dimusnahkan apabila suatu saat bagian tanamannya diperlukan.
3. Mudah dibudidayakan.
4. Tidak menjadi gulma atau inang bagi organisme pengganggu tanaman atau OPT.
5. Mempunyai nilai tambah.
6. Mudah diproses, sesuai dengan kemampuan petani.


Berdasarkan kandungan bahan aktifnya, biji dan daun mimba mengandung azadirakhtin meliantriol, salanin, dan nimbin, yang merupakan hasil metabolit sekunder dari tanaman mimba. Senyawa aktif tanaman mimba tidak membunuh hama secara cepat, tapi berpengaruh terhadap daya makan, pertumbuhan, daya reproduksi, proses ganti kulit, menghambat perkawinan, penurunan daya tetas telur, dan menghambat pembentukan kitin.

Selain itu, tanaman mimba  juga berperan sebagai pemandul. Pengendalian hama dengan menggunakan mimba sebagai pestisida nabati dapat membunuh atau mengganggu serangan hama dan penyakit melalui cara kerja yang unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggal.

Cara kerja mimba sangat spesifik, yaitu mempengaruhi produksi dan perilaku, berupa penolak atau repellent, penarik atau attractant, dan anti makan atau antifeedant.

Di Indonesia sendiri, terdapat 1 merek pestisida terdaftar yang berbahan aktif azadirakhtin dan dipasarkan secara komersial yaitu, Agrineem.

Ekstrak dari daun mimba dilaporkan mampu mengendalikan sekitar 127 jenis hama, dan mampu berperan sebagai fungisida, bakterisida, antivirus, nematisida, serta moluskisida. Hasil penelitian menyatakan bahwa ekstrak daun mimba pada konsentrasi 40 gram perliter efektif mengendalikan, ngengat dan ulat penggerek daun sebesar 75%.

Yang menjadi sasaran pestisida daun mimba adalah, jenis hama menggigit mengunyah dan hama menusuk menghisap, nematoda serta jamur.

Berikut spesies yang dapat dikendalikan.

Helopeltis sp, Aphis gossypi, Agrotis ipsilon, Callosobruchus chinensis, Alternaria tenuis, Carpophilus hemipterus, kecoa, Crysptolestes pusillus, Corcyra cephalonica, Crocidolomia binotalis, Dysdercus cingulatus, Earias insulana, Epilachna varivestis, Fusarium oxyosporium, Helycotylenchus sp., Locusta migratoria, Meloidogyne sp., Musca domestica, Nephotenttix virescens, Nilapavarta lugens, Ophiomya reticulipennisI, Panonychus citri, Planococcus citri, Pratylenchus sp., Rhizoctonia solani, Sclerotium rolfsii, Sitophilus sp., Sogatella furcifera, Spodoptera litura, Tribolium sp., Tungro pada padi, Tylenchus filiformis.

Pengendalian hama dengan menggunakan mimba sebagai insektisida nabati mempunyai beberapa keunggulan diantaranya yaitu, di alam senyawa aktif mimba mudah terurai, sehingga kadar residu relatif kecil, peluang untuk membunuh serangga bukan sasaran rendah, dan dapat digunakan beberapa saat menjelang panen. Cara kerja mimba sebagai insektisida nabati juga spesifik, sehingga aman terhadap vertebrata (manusia dan ternak), dan tidak mudah menimbulkan resistensi, karena jumlah senyawa aktif lebih dari satu. Selain bersifat sebagai insektisida, tumbuhan mimba juga memiliki sifat sebagai fungisida, antivirus, nematisida, bakterisida, mitisida, akarisida , dan rodentisida. Koppenhöfer dan Kaya (2000) juga menyatakan bahwa azadirakhtin dapat dicampur dan mampu bersinergi dengan biopestisida lainnya, seperti minyak cengkeh, dan minyak serai wangi.

Ekstrak tanaman mimba ada kemungkinan memiliki efek beracun pada ikan, biota akuatik lain, dan serangga berguna lainnya. Oleh karena itu, diperlukan penanganan secara hati-hati pada sisa ekstrak mimba dengan cara menjemurnya pada sinar matahari untuk memecahkan bahan aktifnya.

Pembuatan Ekstrak Air Biji Mimba

  1. Kering anginkan biji mimba beserta kulit biji sampai kering agar tidak berjamur.
  2. Giling biji dan kulit biji mimba sampai halus, kemudian saring dengan ayakan (850 µm).
  3. Timbang 25-50 g serbuk biji mimba + l5 liter dan 15 ml alkohol aduk rata, kemudian rendam semalam (12 jam).
  4. Keesokan harinya rendaman bahan disaring dengan kain furing
  5. Larutan hasil penyaringan kemudian ditambah dengan 5 ml Jadam wetting agen dan 15 ml Jadam Sulfur, aduk rata dan larutan siap disemprotkan.
  6. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari, dengan volume semprot yang memadai 400-600 l air, tergantung umur tanaman yang akan disemprot

Pembuatan Ekstrak Daun Mimba Untuk kapasitas 14 sampai 16 lliter.

  1. Blender 500 gram daun mimba segar atau kering, tambahkan  l5 liter dan 15 ml alkohol aduk hingga homogen, kemudian diamkan semalam.
  2. Ke-esokan harinya rendaman disaring dengan kain furing.
  3. Larutan hasil penyaringan kemudian ditambah dengan 15 ml Jadam wetting agen dan 15 ml Jadam Sulffur, aduk rata dan larutan siap disemprotkan.
Demikian pembahasan kita kali ini semoga bermanfaat untuk sedulur kami semua.
Wassalam...

 

Produk Pertanian :

    PGPR  Harga Rp. 25.000/Liter
  • Fish Amino Acids Rp. 25.000/½Liter
  • Brown Rice Vinegar Rp. 50.000/Liter
  • Coryn Bacteria Harga Rp. 30.000/½Liter
  • Bio-Pestisida Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Polymixa Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Tricoderma Harga Rp. 50.000/Kg
  • Mikoriza Harga Rp. 50.000/Kg
  • Waiting Agen Rp. 30.000/Liter
  • Madam Sulfur Rp. 30.000/Liter

Peternakan :

  • Probiotik EXTRA 99 PLUS Rp. 20.000/Liter
  • Oriental Herbal Nutrien Rp. 25.000/Liter
  • Dekomposer EXTRA 88 Rp. 25.000/liter
  • Enzim Rp. 30.000/Liter
  • Desinfektan Rp. 20.000/Liter

CV. Griya Tani Indonesia

Office Address :

D/a : Jl. K Mustajib RT 001/002 Kel Kunir Kec Dempet Kab Demak Jawa Tengah 59573 

 

Kontak Person

 

Copyright © 2020 CV. Griya Tani
All right SAUNG TERNAK Mandiri

4 Mei 2021

BEGINI CARA MENGATASI PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI

PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI
Tanaman Padi
Terinfeksi Hawar Daun
Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai petani. Petani di Indonesia pada umumnya merupakan petani tradisional.
Teknologi yang mereka terapkan masih turun temurun, sehingga kesejahteraannya masih jauh bila dibandingkan dengan petani di Negara maju. Mayoritas komoditas yang ditanami oleh petani di Indonesia adalah padi (Oryza sativa L.).
Karena padi merupakan bahan pangan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Dalam budidayanya petani banyak menghadapi kendala. Salah satunya adalah adanya OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) baik berupa hama maupun penyakit. Penyakit yang sering menyerang tanaman padi diantaranya adalah hawar daun bakteri atau BLB (bacterial leaf blight) yang lebih populer dengan nama penyakit “kresek”.
Penyakit hawar daun bakteri merupakan penyakit yang tersebar luas di pertanaman padi sawah dan bisa menurunkan hasil sampai 36%. Penyakit ini pada umumnya terjadi pada musim hujan atau lembab >75%, terutama pada lahan sawah yang selalu tergenang dengan pemupukan N yang tinggi. Hawar daun bakteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv. Oryzae Dye. Yang dapat menginfeksi tanaman padi pada berbagai stadium pertumbuhan.
Klasifikasi Xanthomonas campestris pv. Oryzae Dye.
Menurut Ferdiaz (1992) dalam Triny S. Kadir, Satoto dan Inastuti A. Rumanti (2006), klasifikasi Xanthomonas adalah sebagai berikut :
justify;">Phylum     : Prokaryota
Kelas         : Schizomycetes
Ordo          : Pseudomonadales
Famili        : Pseudomonadaceae
Genus        Xanthomonas
SpesiesXanthomonas campestris pv. Oryzae
Morfologi Xanthomonas campestris pv. Oryzae Dye.
Bakteri Xanthomonas campestris pv. Oryzae Dye. Berbentuk batang pendek berukuran (1-2) x (0,8-1) mm, di ujungnya mempunyai satu flagela polar yang berukuran 6-8 mm dan berfungsi sebagai alat bergerak. Bakteri ini bersifat aerob, gram negatif dan tidak membentuk spora. Di atas media PDA bakteri ini membentuk koloni bulat cembung yang berwarna kuning keputihan sampai kuning kecoklatan dan mempunyai permukaan yang licin.
 
Foto Mikroskop Elektron Xanthomonas (30.000 x)
(Sumber: Koleksi PPOPT Bandung, 2008 dan Lozano, 1974 dalam Semangun, 2001)
 
Sejarah dan Sebaran Penyakit Hawar Daun Bakteri
Penyakit hawar daun bakteri pertama kali ditemukan di Fukuoka Jepang pada tahun 1884. Pada awal abad XX penyakit ini telah diketahui tersebar luas hampir di seluruh Jepang kecuali di pulau Hokkaido. Di Indonesia, penyakit ini mula-mula ditemukan oleh Reitsma dan Schure pada tanaman muda di daerah Bogor dengan gejala layu. Penyakit ini dinamai kresek dan patogennya dinamai xanthomonas kresek Schure. Terbukti bahwa penyakit ini sama dengan penyakit hawar daun bakteri yang terdapat di Jepang (Singh, 1980; Machmud, 1991).
Pengembangan varietas padi unggul dengan hasil tinggi tetapi peka terhadap penyakit menyebabkan semakin tersebar luasnya penyakit ini. Akhir-akhir ini penyakit hawar daun bakteri dilaporkan telah terdapat di negara-negara yang mewakili hampir seluruh benua, misalnya Bangladesh, India, Korea Malaysia, Filipina, Cina, Taiwan dan Vietnam. Penyakit ini bahkan telah dilaporkan dari Rusia, Afrika dan Amerika Latin (Machmud, 1991).
 
Gejala Serangan Penyakit Hawar Daun Bakteri
Penyakit hawar bakteri pada tanaman padi bersifat sistemik dan dapat menginfeksi tanaman pada berbagai stadium pertumbuhan. Gejala penyakit ini dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: (1). Gejala layu (kresek) pada tanaman muda atau tanaman dewasa yang peka, (2). Gejala hawar dan (3). Gejala daun kuning pucat (Singh, 1980; Machmud, 1991; Triny dkk., 2006).
 
Gejala layu yang kemudian dikenal dengan nama kresek umumnya terdapat pada tanaman muda berumur 1-2 minggu setelah tanam atau tanaman dewasa yang rentan. Pada awalnya gejala terdapat pada tepi daun atau bagian daun yang luka berupa garis bercak kebasahan, bercak tersebut meluas berwarna hijau keabu-abuan, selanjutnya seluruh daun menjadi keriput dan akhirnya layu seperti tersiram air panas. Seringkali bila air irigasi tinggi, tanaman yang layu terkulai ke permukaan air dan menjadi busuk (Anonim, 1989).
 
Menurut Machmud (1991), pada tanaman yang peka terhadap penyakit ini, gejala terus berkembang hingga seluruh permukaan daun, bahkan kadang-kadang pelepah padi sampai mengering. Pada pagi hari atau cuaca lembab, eksudat bakteri sering keluar ke permukaan bercak berupa cairan berwarna kuning menempel pada permukaan daun dan mudah jatuh oleh hembusan angin, gesekan daun atau percikan air hujan. Eksudat ini merupakan sumber penularan yang efektif.
 
Foto Gejala Serangan Xanthomonas pada Tanaman Padi
(Sumber : Anonim, 1989 dan www.hartanto.wordpress.com)
 
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit Hawar Daun Bakteri
Kultivar padi mempunyai tingkat ketahanan yang berbeda terhadap Xanthomonas. Ketahanan disebabkan karena : 
  1. Bakteri terhambat penetrasinya, 
  2. Bakteri tidak dapat meluas secara sistemik, dan 
  3. Tanaman bereaksi langsung terhadap bakteri (Lozano dan Sequeira, 1974 dalam Semangun, 2001). Menurut Maraite dan Weyns (1979) dalam Semangun (2001), penyebaran penyakit yang disebabkan oleh Xanthomonas dibantu juga oleh hujan, karena hujan akan meningkatkan kelembaban dan membantu pemencaran bakteri. Intensitas penyakit yang tertinggi terjadi pada akhir musim hujan, menjelang musim kemarau. Suhu optimum untuk perkembangan Xanthomonas adalah sekitar 300C.
 
Kerugian Akibat Penyakit Hawar Daun Bakteri
Kerugian hasil padi di Jepang yang diakibatkan oleh penyakit hawar daun bakteri setiap tahunnya mencapai 30% bahkan lebih. Di India penyakit ini juga merupakan kendala utama produksi padi, berjuta-juta hektar sawah tiap tahun terserang penyakit tersebut dengan kerugian bervariasi antara 20-60% (Singh, 1980).
 
Di daerah tropis seperti Indonesia dan Filipina, penyakit ini juga sangat merugikan meskipun besar kerugian kurang diketahui secara pasti. Di Indonesia kerugian akibat penyakit ini diperkirakan berkisar antara 15-25% tiap tahun. Kerusakan berat terjadi bila penyakit ini menyerang tanaman muda yang peka, sehingga menimbulkan gejala kresek dan kemudian tanaman mati (Machmud, 1991).
 
Pengendalian Penyakit Hawar Daun Bakteri
Pengendalian penyakit hawar daun bakteri akan lebih berhasil bila dilaksanakan secara terpadu, mengingat berbagai faktor dapat mempengaruhi penyakit ini di lapangan, misalnya keadaan tanah, pengairan, pemupukan, kelembaban, suhu dan ketahanan varietas padi yang ditanam. Usaha terpadu yang dapat dilaksanakan mencakup penanaman varietas yang tahan, pembuatan persemaian kering atau tidak terendam air, jarak tanam tidak terlalu rapat, tidak memotong akar dan daun bibit yang akan ditanam, air tidak terlalu tinggi pada waktu tanaman baru ditanam dan menghindari pemberian pupuk N yang terlalu tinggi.
 
Upaya pengendalian untuk mengatasi penyakit ini yaitu dengan melakukan beberapa hal :
  1. Perbaikan cara bercocok tanam, melalui
  2. Pengolahan tanah secara optimal
  3. Pengaturan pola tanam dan waktu tanam serempak dalam satu hamparan
  4. Pergiliran tanam dan varietas tahan
  5. Penanaman varietas unggul dari benih yang sehat
  6. Pengaturan jarak tanam
  7. Pemupukan berimbang (N,P, K dan unsur mikro) sesuai dengan fase pertumbuhan dan musim
  8. Pengaturan sistem pengairan sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman.
  9. Sanitasi lingkungan
  10. Pemanfaatan agensia hayati Corynebacterium
  11. Penyemprotan bakterisida anjuran yang efektif dan diizinkan secara bijaksana berdasarkan hasil pengamatan.
Demikian ulasan mengenai penyakit Hawar Daun dan cara menanggulangi.
Semoga bermanfaat.

Produk Pertanian :
  • PGPR  Harga Rp. 25.000/Liter
  • Fish Amino Acids Rp. 25.000/½Liter
  • Brown Rice Vinegar Rp. 50.000/Liter
  • Coryn Bacteria Harga Rp. 30.000/½Liter
  • Bio-Pestisida Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Polymixa Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Tricoderma Harga Rp. 50.000/Kg
  • Mikoriza Harga Rp. 50.000/Kg
  • Waiting Agen Rp. 30.000/Liter
  • Madam Sulfur Rp. 30.000/Liter
Peternakan :
  • Probiotik EXTRA 99 PLUS Rp. 20.000/Liter
  • Oriental Herbal Nutrien Rp. 25.000/Liter
  • Dekomposer EXTRA 88 Rp. 25.000/liter
  • Enzim Rp. 30.000/Liter
  • Desinfektan Rp. 20.000/Liter
CV. Griya Tani Indonesia
Office Address :
D/a : Jl. K Mustajib RT 001/002 Kel Kunir Kec Dempet Kab Demak Jawa Tengah 59573 

Kontak Person

Copyright © 2020 CV. Griya Tani
All right NATURAL FARMING Indonesia