Agriculture Farming Service

Agriculture Farming Service – Layanan pertanian modern yang membantu petani meningkatkan hasil panen melalui teknologi, manajemen lahan, dan solusi berkelanjutan

Breaking News

Breaking News! Simak kabar terbaru dan paling update hanya di sini. Kami hadir menyajikan informasi tercepat, akurat, dan terpercaya langsung dari lapangan. Jangan lewatkan momen penting yang sedang terjadi sekarang juga!

Seputar Olah Raga

Breaking News Olahraga! ⚽🏀🏸

Update tercepat tentang kabar olahraga terkini dari dalam dan luar negeri. Mulai dari sepak bola, bulu tangkis, basket, hingga olahraga trending lainnya. Simak informasi paling fresh dan jangan lewatkan momen bersejarah di dunia olahraga!

📌 Subscribe dan aktifkan notifikasi 🔔 biar nggak ketinggalan kabar terbaru.

Channel Katebat

KATEBAD ala kocak! 🤣🎥

Film pendek parodi yang menggabungkan berita terkini dengan sentuhan humor segar. Dijamin bikin ngakak tapi tetap ada pesan yang bisa dipetik. Tonton sampai habis, karena ending-nya bikin kaget!

📌 Jangan lupa Subscribe, kasih like 👍, dan share ke teman biar ikut ketawa bareng.

Info Seputar Megawati

Arabica Coffee House Kadınlar 1. Ligi, adalah nama resmi dari kompetisi Voleybol Kadınlar 1. Ligi di bawah naungan Türkiye Voleybol Federasyonu (TVF), yang kini menjadi penyelenggara utama dengan status nama sponsor

Tampilkan postingan dengan label BEUAVERIA SP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BEUAVERIA SP. Tampilkan semua postingan

22 Jan 2023

PERANAN ELISYTOR SEBAGAI PEMICU PERTAHAN TANAMAN DARI SERANGAN PATHOGEN

PERANAN ELISYTOR SEBAGAI PEMICU PERTAHAN TANAMAN DARI SERANGAN PATHOGEN


Peningkatan produksi pertanian selalu diharapkan oleh patani baik dari segi kualitas dan kuantitasnya. Namun, peningkatan produksi tidaklah mudah untuk dicapai. Banyak kendala yang dihadapi, salah satunya adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Serangan OPT dilaporkan banyak menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, bahkan dapat menyebabkan gagal panen. Oleh karena itu, dibutuhkan tidandakan pengendalian. Saat ini para petani lebih banyak menggunakan pestisida sintetik/kimia, dibanding dengan pestisida nabati, karena pestisida sintetik pembuatannya masal dan murah, serta mempunyai daya bunuh yang cepat.

Banyak pakar menyarankan, penggunaan pestisida harus tepat. Artinya, pestisida yang diaplikasikan efektif dan ampuh. Selain itu, pengginaan pestisida kimia juga harus bijaksana, artinya dapat menekan dampak negatif pestisida terhadap pengguna, konsumen dan lingkungan serta bersifat ekonomis dan efisien. Penggunaan pestisida yang berlebihan dan cara aplikasi yang tidak bijaksana memberikan dampak negatif, seperti pencemaran lingkungan, kematian hewan non-target, penyederhanaan rantai makanan alami dan keragaman hayati, Bioakumulasi/Biomagnifikasi, resistensi hama dan terbunuhnya musuh alami.

Perlu diingat bahwa pengembangan pertanian saat ini, mengsyaratkan jaminan produk pertanian yang aman dikonsumsi (food safety attributes), punya kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (Eco Labelling Attributes). Maka untuk merealisasi jaminan produk pangan, beberapa program yang dilakukan antara lain: 1) Program peningkatan ketahanan pangan, 2) Program pengembangan agribisnis, dan 3) Program pengembangan pertanian organik dan penggunaan pestisida. Oleh karena itu, perlu terobosan baru dalam tindakan pengendalian OPT yang aman, murah, dan ramah lingkungan.

Pertanian Ramah Lingkungan

Konsep pertanian ramah lingkungan adalah konsep pertanian yang mengedepankan keamanan seluruh komponen agroekosistem. Pertanian ramah lingkungan mengutamakan untuk menekan dampak negatif penggunana pestisida bagi lingkungan. Saat ini, telah banyak dikembangkan pestisida alternatif sebagai pengganti pestisida kimia, yaitu pestisida nabati. Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tanaman atau tumbuhan dan bahan organik lainya yang berkhasiat mengendalikan serangan hama dan patogen pada tanaman. Pestisida nabati saat diaplikasikan dapat mengendalikan serangan hama dan patogen. Nilai lebih dibandingkan dengan pestisida kimia adalah  residu pestisida nabati akan hilang di alam. Dengan demikian produk terbebas dari residu pestisda sehingga aman dikonsumsi manusia. Pestisida nabati dapat menjadi alternatif pengendalian hama yang aman dibanding pestisida sintetik.

Selain digunakan sebagai bahan untuk membuat pestisida nabati, berbagai tumbuhan telah diteliti berpotensi sebagai elisitor yaitu antara lain :

  1. Daun Bayam Duri (Amaranthus Spinosus), 
  2. Daun Iler/Jawer Kotok (Coleus Scutellarioides), 
  3. Daun Kenikir (Tagetes Erecta), 
  4. Daun Nimba (Azadirachta Indica), 
  5. Daun Sirsak (Annona Mucicata) 
  6. Daun Tapak Dara (Cataranthus Roseus). 

Tetumbuhan tersebut ternyata dapat  menghasilkan senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, steroid dan terpenoid, senyawa metabolit sekunder berpotensi dijadikan sumber gen resisten terhadap hama dan patogen.

Tanaman Sebagai Elisitor

Tanaman elisitor adalah suatu tanaman yang mengandung senyawa biologis yang dapat menyebabkan peningkatan produksi fitoaleksin apabila diaplikasikan pada tumbuhan atau kultur sel tumbuhan. Elisitor dapat berasal dari bakteri, jamur, virus, senyawa polimer karbohidrat, protein, lemak dan mikotoksin sebagai elisitor biotik, dan elisitor abiotik seperti sinar UV, ion-ion logam dan hormon dan molekul-molekul pengkode resistensi tanaman. Elisitor dapat memicu respon fisiologis, morfologis dan akumulasi fitoaleksin, sebagai molekul yang mengaktifkan sinyal transduksi dan menyebabkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosisntesis metabolit sekunder. Kemudian pada tahun 2005 Sampai 2006 ada penemuan Tanaman akan mendapatkan aktivator alami misalnya, Glikosida Benzoxazinoid dari Zea Mays dan Glikosiada Isoflavonoid dari tanaman kacang - kacangan.

Penelitian elisitor alami telah dilakukan pada tahun 2000, Dengan mengekstrak Tanaman Beluntas (Plucea Indica) berpotensi sebagai penginduksi resistensi tanaman cabai merah terhadap penyakit Antraknos Colletotrichum Gloesporioides. Selanjutnya pada tahun 2001 menunjukkan penggunaan ekstrak tanaman sebagi elisitor dari daun Bunga Pukul Empat (Mirabilis jalapa), daun Bunga Pagoda (Clerodendrum Japonicum) dapat menginduksi resistensi tanaman cabai terhadap Virus Gemini. Tumbuhan sambiloto (Andrographis Paniculata) berpotensi elisitor tanaman jahe terhadap penyakit Layu Bakteri Ralstonia Solanacearum.

Sementara itu, Penelitian yang dilaksanakan pada tahunn 2019 mendefinisikan,  tanaman elisitor adalah suatu tanaman yang mengandung senyawa kimia yang dapat memicu respon fisiologi, morfologi dan akumulasi fitoaleksin, meningkatkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosintesis metabolit sekunder. Lebih lanjut dikatakan bahwa elisitor dapat menginduksi resistensi tumbuhan. Elisitor terdiri atas dua jenis yaitu ada elisitor biotik dan abiotik. Elisitor  biotik adalah elisitor yang berasal dari bahan hayati meliputi polisakarida, protein, glikoprotein atau fragmen dinding sel yang berasal dari fungi, bakteri, dan tanaman. Elisitor abiotik adalah zat yang dihasilkan dari bahan non hayati berupa logam berat, garam anorganik, pH, stress suhu, cahaya, dan sebagainya. 

Peran Elisitor Untuk Memacu Resistensi Tanaman

Resistensi tanaman terhadap patogen sering didefinisikan  sebagai kemampuan tanaman untuk mengurangi, menghambat atau membatasi serangan patogen. Secara umum tumbuhan akan memberikan respon terhadap serangan patogen dan respon tersebut akan bertanggung jawab terhadap resistensi tanaman terhadap patogen. Akibat adanya serangan patogen akan memberikan reaksi pertahanan untuk melindunginya. Tanaman akan mempertahankan diri dengan dua cara, yaitu :

  1. Adanya sifat-sifat struktural pada tanaman yang berfungsi sebagai penghalang fisik dan akan menghambat patogen untuk masuk dan menyebar di dalam tanaman, dan 
  2. Respon biokimia yang berupa reaksi kimia yang terjadi di dalam sel dan jaringan tanaman sehingga patogen dapat mati atau terhambat pertumbuhannya.

Tanaman akan memberikan respon terhadap patogen dengan cara berbeda. Respon tersebut ada yang berinteraksi dan ada yang tidak berinteraksi. Pada kasus tertentu terjadi hubungan yang inkompatibel antara tanaman dan patogen (tanaman adalah resisten) atau hubungan yang kompafibel (tanaman adalah rentan). Namun interaksi yang terjadi antara tanaman dan patogen yang menyerangnya sangatlah rumit dan banyak melibatkan reaksi biokimia. Pada kondisi yang normal, tanaman resisten terhadap kebanyakan mikroorganisme patogen. Hanya relatif sedikit terdapat kombinasi hubungan patogen-inang yang terjadi. Kejadian biokimia yang terdapat pada interaksi tanaman inang dan bukan inang dengan suatu patogen adalah sama, tetapi intensitasnya dan bentuk penampilannya tergantung pada kondisi lingkungan dan fisiologinya. Kombinasi antara sifat struktural dan reaksi biokimia yang digunakan untuk pertahanan bagi tanaman berbeda antara setiap sistem kombinasi inang-patogen. Dapat terjadi pada hubungan inang-patogen yang sama, kornbinasi tersebut dapat berbeda tergantung pada umur tanaman, jenis organ, jaringan tumbuhan yang diserang, keadaan hara tumbuhan, dan kondisi cuaca.

Telah banyak penelitian diarahkan pada upaya pengaktifan gen ketahanan tanaman terhadap infeksi mikroba lain atau senyawa kimia. Ketahanan seperti ini disebut ketahanan yang diinduksi (Induced Iesistance). Induksi resistensi atau imunisasi atau resistensi buatan ialah suatu proses stimulasi resistensi tanaman inang tanpa introduksi gen-gen baru. Induksi resistensi menyebabkan kondisi fisiologis yang mengatur sistem ketahanan menjadi aktif dan atau menstimulasi mekanisme resistensi alami pada tanaman inang.

Dua bentuk ketahanan terinduksi yang umum diteliti, yaitu Systemic Acquired Resistance (SAR) dan Induced Systemic Resistance (ISR). Ketahanan tanaman terinduksi dapat dipicu dengan penambahan bahan-bahan kimia tertentu (misalnya tanaman elisitor), mikrob nonpatogen, patogen avirulen, ras patogen inkompatibel, dan patogen virulen yang infeksinya gagal karena kondisi lingkungan tidak mendukung.

Ketahanan tanaman yang terinduksi oleh penambahan senyawa kimia atau senyawa elisitor diistilahkan dengan induksi SAR. Induksi SAR dicirikan dengan terbentuknya akumulasi asam salisilat (Salicylic Acid/SA) dan Protein PR (Pathogenesisrelated Proteins/PR), sedangkan ketahanan terinduksi karena agen biotik nonpatogenik sering dikenal dengan ISR.

Menurut penelitian yang dilakukan pada tahunn 2013, bahwa induksi resistensi dapat dilakukan melalui aplikasi agens hayati (seperti rizobakteria nonpatogen) dan senyawa kimia (sintetik dan nabati). Keberhasilan senyawa penginduksi dalam mengendalikan serangan patogen tanaman berkisar antara 20–89%, bergantung pada jenis tanaman, kondisi fisiologis, dan faktor abiotik seperti kelembaban dan suhu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak tanaman sebagai elisitor berupa daun bunga pukul empat (Mirabilis Jalapa) dan daun bunga pagoda (Clerodendrum japonicum) paling efektif menginduksi ketahanan tanaman cabai terhadap virus Gemini. Selanjutnya ada laporan bahwa ekstrak tanaman Sambiloto mengandung elisitor pemicu ketahanan tanaman terhadap penyakit layu bakteri, dengan tingkat keefektifan sebanding dengan perlakuan senyawa kimia asam salisilat+Ca.

Mekanisme induksi resistensi berkaitan dengan peningkatan produksi beberapa jenis protein pathogenesis related-proteins (PRP), antara lain kitinase, b-1,3 glutanase, proksidase, endoproteinase, dan oxalate oksidase. Mayoritas protein tersebut bekerja melalui sintesis senyawa penyandi ketahanan seperti asam salisilat, asam jasmonat, dan etilen, serta aktivitas anti mikrob melalui hidrolisis dinding sel, toksik, dan signal ketahanan. Senyawa elisitor tersebut terekspresi pada kondisi tanaman senesen, terluka, stress dingin, tetapi ada yang juga terekspresi pada setiap saat dalam jaringan bunga, pollen, buah dan bagian vegetatif yang mekanisme kerjanya menyerupai kerja imunitas pada manusia.

Ekstrak tanaman Salix sp., telah digunakan di beberapa negara dan terbukti efektif sebagai induser ketahanan yang dapat mengendalikan beberapa patogen tanaman, di antaranya adalah untuk mengendalikan penyakit bercak ungu yang disebabkan oleh Alternaria porii pada bawang merah, dan penyakit Virus Kuning (Bean Yellow Mosaic Virus) pada Cabe Merah Keriting, bahwa beberapa Spesies Salix (seperti : Salix Alba, S. Daphnoides, S. Purpurea, S. Matsudana), umumnya mengandung senyawa Glikosida, seperti Salicin, dan diidentifikasi juga beberapa senyawa Terpen, Flavonoid, dan beberapa jenis Steroid yang berperan menghambat perkembangan patogen.

Kesimpulan

Elisitor asal tetumbuhan merupakan senyawa kimia yang dapat memicu respon fisiologi, morfologi dan akumulasi fitoaleksin, meningkatkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosintesis metabolit sekunder. Ketahanan tanaman terinduksi dapat dipicu dengan penambahan elisitor.  Induksi SAR dicirikan dengan terbentuknya akumulasi asam salisilat (Salicylic Acid/SA) dan protein PR (Pathogenesis Related Proteins/PR)

Demikian Penjelasan tentang extrak tanaman sebagai elisitor, ternyata mampu memicu resistensi tanaman dari berbagai serangan patogen. semoga bermanfaat sampai jumpa.

2 Agu 2021

MANFAAT BEAUVERIA BASSIANA DALAM PENGENDALIAN WBC

MANFAAT BEAUVERIA BASSIANA UNTUK PENGENDALIAN PADA TANAMAN PADI

Beauveria Bassiana Sebagai Insektisida Organik

Beauveria bassiana adalah salah satu jenis jamur entomopatogen yang sering digunakan sebagai agen pengendalian hayati terhadap berbagai jenis serangga, termasuk whitefly (WBC). Berikut adalah beberapa manfaat Beauveria bassiana dalam pengendalian WBC :

Tidak Beracun Bagi Manusia dan Hewan Lainnya

Beauveria bassiana merupakan agen pengendalian hayati yang aman untuk digunakan karena tidak mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat membahayakan manusia dan hewan lainnya. Hal ini menjadikan Beauveria bassiana sebagai alternatif yang aman untuk digunakan dalam pengendalian WBC.

Efektif Dalam Mengendalikan WBC

Beauveria bassiana dapat efektif dalam mengendalikan WBC, baik pada tahap larva maupun dewasa. Jamur ini bekerja dengan cara menginfeksi tubuh WBC dan membunuhnya secara perlahan-lahan. Selain itu, Beauveria bassiana juga dapat menyebar secara alami di lingkungan yang terkontaminasi oleh WBC.
  1. Ramah lingkungan : Penggunaan Beauveria bassiana sebagai agen pengendalian hayati sangat ramah lingkungan karena jamur ini bersifat alami dan tidak merusak lingkungan. Beauveria bassiana juga tidak mempengaruhi tanaman yang dijadikan inang oleh WBC.
  2. Mudah diaplikasikan : Beauveria bassiana dapat diaplikasikan dengan mudah pada tanaman yang terinfestasi oleh WBC. Aplikasi Beauveria bassiana dapat dilakukan dengan cara penyemprotan atau pengolesan pada tanaman yang terinfestasi.
  3. Biaya yang lebih murah : Penggunaan Beauveria bassiana sebagai agen pengendalian hayati relatif lebih murah dibandingkan dengan penggunaan insektisida kimia. Hal ini dapat membantu petani untuk menghemat biaya produksi tanaman.

Efektivitas Beauveria Bassiana Dalam Mengendalikan Hama

Beauveria bassiana adalah jamur entomopatogen yang dapat digunakan sebagai agen pengendalian hayati untuk mengurangi populasi hama tanaman yang merugikan seperti kutu daun, ulat grayak, ulat bulu, ulat kantung, wereng, dan pengorok daun.

Jamur ini bekerja dengan cara menginfeksi hama melalui kulitnya dan kemudian tumbuh dan berkembang biak di dalam tubuh hama tersebut, sehingga menyebabkan kematian hama. Beauveria bassiana memiliki keunggulan dalam hal keamanan lingkungan, karena tidak merusak ekosistem dan tidak berbahaya bagi manusia dan hewan. Selain itu, jamur ini juga memiliki kemampuan untuk menghambat perkembangan hama yang selamat dari infeksi.

Beauveria bassiana dapat diaplikasikan dalam bentuk bubuk, larutan, atau granulat, tergantung pada jenis hama yang ingin dikendalikan dan kondisi lingkungan di mana aplikasi akan dilakukan. Pemberian Beauveria bassiana secara teratur dan tepat waktu dapat meningkatkan efektivitasnya dalam mengendalikan populasi hama secara alami dan berkelanjutan.

Meskipun Beauveria bassiana telah terbukti efektif dalam mengendalikan hama, namun penggunaannya masih terbatas. Hal ini karena keterbatasan dalam teknologi produksi dan distribusi, serta masih kurangnya kesadaran dan pemahaman petani tentang keuntungan dan cara penggunaannya. Oleh karena itu, perlu adanya edukasi dan pelatihan tentang pengendalian hayati dengan Beauveria bassiana, sehingga penggunaannya dapat meningkat dan menjadi alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan dalam mengendalikan hama tanaman.

Habitat Beauveria Bassiana dan Proses Infeksi

Beauveria Bassiana adalah jamur entomopatogen yang terdapat di berbagai tempat, seperti di tanah, tanaman, serangga, dan bahkan di lingkungan air. Jamur ini sering ditemukan di habitat alamiah seperti hutan, ladang, kebun, dan lahan pertanian.

Proses infeksi Beauveria Bassiana dimulai ketika spora jamur melekat pada tubuh serangga inang, kemudian spora menembus kulit serangga dan menyebar ke dalam tubuh. Setelah itu, jamur akan tumbuh dan berkembang dalam tubuh serangga, menghasilkan enzim dan toksin yang merusak jaringan tubuh inang. Akhirnya, serangga akan mati dan jamur akan keluar dari tubuh serangga mati, memulai siklus infeksi baru.

Beauveria Bassiana memiliki kemampuan untuk menginfeksi berbagai jenis serangga, seperti kutu daun, ulat, belalang, jangkrik, lalat, dan masih banyak lagi. Karena itu, jamur ini sering digunakan sebagai agen pengendali hayati untuk mengurangi populasi serangga hama pada tanaman pertanian, kebun, dan perkebunan. Selain itu, Beauveria Bassiana juga dapat digunakan sebagai bahan aktif dalam produk insektisida organik yang ramah lingkungan.

Kendalikan Hama Secara Organik dengan Beauveria Bassiana

Beauveria Bassiana merupakan jamur entomopatogen yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama secara organik. Jamur ini biasanya hidup di lingkungan alamiah seperti tanah, daun, dan serasah.

Proses infeksi Beauveria Bassiana dimulai ketika spora jamur menempel pada kulit serangga. Spora kemudian akan menembus kulit serangga dan tumbuh ke dalam tubuh serangga. Di dalam tubuh serangga, jamur akan berkembang biak dan mengeluarkan enzim yang akan mencerna jaringan tubuh serangga. Setelah itu, jamur akan memproduksi spora baru dan menyebar ke serangga lain.

Beauveria Bassiana dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama seperti kutu putih, ulat, belalang, dan kutu daun. Cara penggunaannya cukup mudah, yaitu dengan menyemprotkan cairan Beauveria Bassiana ke tanaman yang terkena hama atau di sekitar area tempat hama berkembang biak. Cairan Beauveria Bassiana juga bisa dicampur dengan insektisida organik lain untuk meningkatkan efektivitasnya.

Penggunaan Beauveria Bassiana dalam pengendalian hama secara organik memiliki banyak manfaat, seperti tidak merusak lingkungan, aman bagi manusia dan hewan, serta tidak menimbulkan resistensi pada hama. Dengan menggunakan Beauveria Bassiana, kita dapat mengendalikan hama secara efektif dan tetap menjaga keseimbangan alam.

Kekuatan Beauveria Bassiana Pengendali Hama yang Efektif

Beauveria Bassiana adalah jamur entomopatogen yang efektif dalam pengendalian hama. Jamur ini terkenal karena kemampuannya untuk menginfeksi dan membunuh serangga secara alami. Beauveria Bassiana dapat ditemukan di banyak jenis habitat, termasuk tanah, air, dan serasah. Jamur ini juga ditemukan di dalam tubuh serangga dan biasanya tidak berbahaya bagi manusia dan hewan lainnya.

Proses infeksi Beauveria Bassiana dimulai ketika spora jamur menempel pada kutikula atau kulit luar serangga. Setelah menempel, spora akan menembus kulit dan tumbuh ke dalam tubuh serangga. Di dalam tubuh serangga, Beauveria Bassiana akan tumbuh dan berkembang biak, menghancurkan organ dan jaringan serangga sehingga menyebabkan kematian serangga. Setelah serangga mati, jamur akan tumbuh keluar dari tubuhnya dan menghasilkan spora yang akan menular ke serangga lain.

Pengendalian hama dengan menggunakan Beauveria Bassiana memiliki banyak keuntungan. Pertama, penggunaan jamur ini bersifat organik dan tidak merusak lingkungan. Kedua, Beauveria Bassiana tidak berbahaya bagi manusia dan hewan lainnya, sehingga aman digunakan di lingkungan yang terdapat hewan dan manusia. Ketiga, Beauveria Bassiana memiliki spektrum yang luas dalam pengendalian hama, artinya dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis serangga hama.

Untuk mengendalikan hama dengan menggunakan Beauveria Bassiana, spora jamur harus diterapkan pada area yang terinfeksi atau pada serangga yang menjadi sumber infeksi. Spora jamur dapat disemprotkan pada tanaman atau ditempatkan pada umpan seperti tanaman yang sudah mati atau serasah. Setelah spora jamur menempel pada serangga, proses infeksi akan dimulai dan Beauveria Bassiana akan secara alami membunuh hama tersebut.

Dalam pengendalian hama secara organik, Beauveria Bassiana adalah pilihan yang efektif dan aman. Dengan kekuatan dan kemampuannya dalam membunuh serangga hama, Beauveria Bassiana adalah alternatif yang baik untuk pengendalian hama yang ramah lingkungan.

Menemukan Habitat Alami dan Proses Infeksi Beauveria Bassiana

Beauveria bassiana adalah jamur entomopatogen yang ditemukan di berbagai jenis habitat seperti tanah, air, dan tanaman. Jamur ini biasanya hidup sebagai saprofit dalam lingkungan alami. Namun, Beauveria bassiana juga dapat ditemukan di tanah yang telah terkontaminasi oleh hewan inang yang terinfeksi oleh jamur ini.

Proses infeksi Beauveria bassiana dimulai ketika spora jamur menempel pada tubuh hama inang. Spora kemudian akan menembus kutikula inang dan mulai tumbuh di dalam tubuh inang. Setelah itu, Beauveria bassiana akan memproduksi enzim-enzim yang memecah jaringan inang, yang kemudian digunakan sebagai sumber nutrisi oleh jamur tersebut. Infeksi Beauveria bassiana pada akhirnya akan menyebabkan kematian pada inang.

Namun, untuk memperoleh hasil yang optimal dalam pengendalian hama menggunakan Beauveria bassiana, penting untuk mengetahui kondisi lingkungan yang paling cocok untuk pertumbuhan dan infeksi jamur ini. Hal ini akan membantu meningkatkan efektivitas pengendalian hama menggunakan Beauveria bassiana.

Kesimpulan

Dalam kesimpulan, Beauveria bassiana adalah jamur entomopatogen yang sangat efektif dalam mengendalikan hama pada tanaman secara organik. Jamur ini memiliki habitat alami di tanah dan dapat menginfeksi berbagai jenis serangga hama, seperti kutu daun, wereng, thrips, ulat, dan ngengat. Proses infeksi Beauveria bassiana dimulai dengan adhesi spora pada kutikula serangga, lalu spora tumbuh dan menyebar ke dalam tubuh serangga, menghasilkan toksin yang menyebabkan kematian.


Beauveria bassiana memiliki beberapa keuntungan sebagai agen pengendalian hama, yaitu tidak merusak lingkungan, aman bagi manusia dan hewan, dan memiliki keefektifan yang tinggi dalam mengendalikan hama. Selain itu, penggunaan Beauveria bassiana dalam pengendalian hama dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman, serta meminimalkan biaya produksi.

Meskipun demikian, perlu diingat bahwa penggunaan Beauveria bassiana dalam pengendalian hama tidak selalu memberikan hasil yang maksimal dan dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti suhu dan kelembaban. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang baik mengenai karakteristik jamur dan kondisi lingkungan yang ideal untuk meningkatkan efektivitas pengendalian hama dengan Beauveria bassiana.

Demikian penjelasan tentang cara memperbanyak Beauveria sp. Semoga bermanfaat bagi teman-teman petani semua. Jika ada yang belum silahkan tinggalkan komentar anda pada kolom di bawah...  Okeee sobat tani 
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Produk Pertanian :
  • PGPR  Harga Rp. 25.000/Liter
  • Fish Amino Acids Rp. 25.000/½Liter
  • Brown Rice Vinegar Rp. 50.000/Liter
  • Coryn Bacteria Harga Rp. 30.000/½Liter
  • Bio-Pestisida Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Polymixa Harga Rp. 30.000/Liter
  • Bio-Tricoderma Harga Rp. 50.000/Kg
  • Mikoriza Harga Rp. 50.000/Kg
  • Waiting Agen Rp. 30.000/Liter
  • Madam Sulfur Rp. 30.000/Liter
Peternakan :
  • Probiotik EXTRA 99 PLUS Rp. 20.000/Liter
  • Oriental Herbal Nutrien Rp. 25.000/Liter
  • Dekomposer EXTRA 88 Rp. 25.000/liter
  • Enzim Rp. 30.000/Liter
  • Desinfektan Rp. 20.000/Liter
CV. Griya Tani Indonesia
Office Address :
D/a : Jl. K Mustajib RT 001/002 Kel Kunir Kec Dempet Kab Demak Jawa Tengah 59573 

Kontak Person

Copyright © 2020 CV. Griya Tani
All right NATURAL FARMING Indonesia