Agriculture Farming Service

Agriculture Farming Service – Layanan pertanian modern yang membantu petani meningkatkan hasil panen melalui teknologi, manajemen lahan, dan solusi berkelanjutan

Breaking News

Breaking News! Simak kabar terbaru dan paling update hanya di sini. Kami hadir menyajikan informasi tercepat, akurat, dan terpercaya langsung dari lapangan. Jangan lewatkan momen penting yang sedang terjadi sekarang juga!

Seputar Olah Raga

Breaking News Olahraga! ⚽🏀🏸

Update tercepat tentang kabar olahraga terkini dari dalam dan luar negeri. Mulai dari sepak bola, bulu tangkis, basket, hingga olahraga trending lainnya. Simak informasi paling fresh dan jangan lewatkan momen bersejarah di dunia olahraga!

📌 Subscribe dan aktifkan notifikasi 🔔 biar nggak ketinggalan kabar terbaru.

Channel Katebat

KATEBAD ala kocak! 🤣🎥

Film pendek parodi yang menggabungkan berita terkini dengan sentuhan humor segar. Dijamin bikin ngakak tapi tetap ada pesan yang bisa dipetik. Tonton sampai habis, karena ending-nya bikin kaget!

📌 Jangan lupa Subscribe, kasih like 👍, dan share ke teman biar ikut ketawa bareng.

Info Seputar Megawati

Arabica Coffee House Kadınlar 1. Ligi, adalah nama resmi dari kompetisi Voleybol Kadınlar 1. Ligi di bawah naungan Türkiye Voleybol Federasyonu (TVF), yang kini menjadi penyelenggara utama dengan status nama sponsor

Tampilkan postingan dengan label Elisitor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elisitor. Tampilkan semua postingan

27 Jan 2023

SUDAH JELAS KALAU BIOSAKA ITU BUKAN PUPUK

Mengenal Lebih Jauh Tentang Biosaka : Elisitor yang Meningkatkan Produktivitas Tanaman



Biosaka telah menjadi sorotan banyak petani di Indonesia karena diketahui mampu meningkatkan produktivitas tanaman dan meminimalisir serangan hama dan penyakit pada tanaman. Berawal dari Blitar pada tahun 2019, kini Biosaka sudah menyebar di wilayah nusantara dari Aceh hingga Papua. Namun, masih banyak yang bertanya-tanya apa sebenarnya Biosaka dan apa kandungan di dalamnya sehingga mampu memberikan manfaat bagi tanaman. Dalam artikel ini, kita akan mengenal lebih jauh tentang Biosaka dan bagaimana cara kerjanya dalam meningkatkan produktivitas tanaman.

Biosaka Bukan Pupuk

Biosaka bukanlah pupuk, melainkan elisitor. Elisitor adalah zat yang mampu memicu respon pertahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit, sehingga tanaman menjadi lebih kuat dan sehat. Dengan demikian, Biosaka dapat membantu meningkatkan produktivitas tanaman secara alami.

Ramuan Biosaka
Biosaka diramu dari berbagai jenis rumput-rumputan dan tanaman. Menurut penemunya, Muhamad Ansar, minimal 5 jenis tanaman dipilih sebanyak satu genggaman tangan. Tanaman yang digunakan biasanya adalah tanaman yang tumbuh di sekitar areal sawah/ladang, seperti babadotan, tutup bumi, kitolod, maman ungu, patikan kebo, meniran, anting-anting, jelantir, sembung, dan sebagainya. Jenis tanaman ini dipilih yang sehat, tidak terkena hama dan penyakit. Setelah itu, sebanyak satu genggaman tangan tanaman tersebut diremas dalam air 2-5 liter air. Hasil remasan tersebut, di mana air menyatu dengan saripati tanaman (homogen), bisa langsung diaplikasikan pada tanaman dan sisanya bisa disimpan untuk aplikasi berikutnya.
Manfaat Kandungan Senyawa Fitokimia pada Biosaka

Apabila kita kaji lebih mendalam, tanaman yang selama ini disebut gulma, ternyata memiliki banyak manfaat, bukan hanya untuk tanaman tetapi juga bagi kesehatan manusia. Tanaman tersebut memiliki kandungan senyawa fitokimia seperti alkaloid, flavonoid, terpenoid, steroid, saponin, tanin, fenolik, dan kuinon. Jika tanaman tersebut dikombinasikan dalam pembuatan Biosaka, tentu saja dalam ramuan Biosaka akan terdapat kandungan senyawa fitokimia tersebut.

Kandungan senyawa fitokimia dalam Biosaka telah terkonfirmasi dari sampel Biosaka yang diuji di salah satu laboratorium Liquid. Manfaat dari kandungan senyawa fitokimia pada Biosaka dapat dijelaskan sebagai berikut :

Alkaloid : Untuk pelindung tanaman dari penyakit, serangan hama, sebagai pengatur perkembangan, dan sebagai basa mineral untuk mengatur keseimbangan ion pada bagian-bagian tanaman.

Flavonoid : Mengatur pertumbuhan, juga memiliki peran penting dalam mengatur pertumbuhan tanaman. Selain itu, senyawa ini juga dapat berfungsi sebagai pigmen dalam bunga dan buah-buahan. Beberapa jenis flavonoid juga memiliki sifat antioksidan yang dapat membantu melindungi tanaman dari kerusakan akibat radikal bebas dan kondisi lingkungan yang buruk. Selain itu, flavonoid juga terbukti memiliki manfaat bagi kesehatan manusia, seperti membantu menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan kanker.

Baca Juga : Peranan Elisitor Pada Tanaman

Beberapa jenis tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan baku pembuatan biosaka antara lain: Babadotan (Ageratum conyzoides L), tutup bumi (Elephantopus mollis Kunth), Kitolod (Hippobroma longiflora), maman ungu (Cleome rutidosperma), Patikan kebo (Euphorbia hirta L), Meniran (Phyllanthus niruri L), anting-anting  (Acalypha australis. L), jelantir (Erigeron sumatrensis Retz), sembung (Baccharis balsamifera L.), sembung rambat (Eupatorium denticulatum Vahl) dan sebagainya. Jenis tanaman ini dipilih yang sehat, tidak terkena hama dan penyakit. Minimal 5 jenis tanaman yang diambil, lebih banyak lebih bagus. Sebanyak satu genggaman tangan kemudian diremas dalam air 2-5 liter air. Hasil remasan tersebut, dimana air menyatu dengan saripati tanaman (homogen). Setelah itu bisa langsung diaplikasikan, dan sisanya bisa disimpan untuk aplikasi berikutnya. 
Biosaka dan beberapa jenis tanaman

Cara Membuat Biosaka

Setelah mengetahui berbagai jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan biosaka, selanjutnya adalah bagaimana cara membuat biosaka yang benar. Berikut adalah langkah-langkah pembuatan biosaka yang dapat dilakukan:

Pilih beberapa jenis tanaman yang sehat dan tidak terkena hama dan penyakit.

Ambil minimal 5 jenis tanaman dan remas dalam air sebanyak 2-5 liter.

Setelah diramas, air yang menyatu dengan saripati tanaman tersebut menjadi homogen. Saring menggunakan kain untuk memisahkan sisa-sisa tanaman yang tidak terkikis.

Biosaka siap digunakan dan sisanya dapat disimpan untuk aplikasi berikutnya.

Manfaat Penggunaan Biosaka

Pemanfaatan biosaka pada tanaman budidaya memiliki berbagai manfaat, di antaranya:

Efisiensi biaya usaha tani (low cost), karena bahan baku pembuatan biosaka mudah didapatkan.

Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tanaman.

Meminimalisir serangan hama dan penyakit pada tanaman.

Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap perubahan lingkungan, seperti cuaca ekstrem.

Dalam studi yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Padi pada tahun 2020, penggunaan biosaka pada tanaman padi menghasilkan peningkatan produksi sebesar 10-20% dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia. Selain itu, biosaka juga memiliki efek positif pada kualitas gabah, seperti kandungan protein yang lebih tinggi dan rasa yang lebih gurih.

Manfaat dari kandungan senyawa fitokimia dapat dijelaskan sebagai berikut :

  • Alkaloid   : Untuk pelindung tanaman dari penyakit, serangan hama, sebagai pengatur perkembangan, dan sebagai basa mineral untuk mengatur keseimbangan ion pada bagian-bagian tanaman.
  • Flavonoid  : Mengatur pertumbuhan, juga sebagai antioksidan dan antibakteri
  • Terpenoid  : Hormon pertumbuhan tanaman; antifeedant serangga, anti bakteri
  • Steroid       : Meningkatkan laju perpanjangan sel tumbuhan, merangsang pertumbuhan pucuk daun, meningkatkan resistensi terhadap stress lingkungan
  • Tanin         :  Melindungi tumbuhan dari hama dan antibakteri
  • Saponin    : Antimikroba, menghambat jamur dan melindungi tanaman dari serangan serangga
  • Fenolik     : Melindung terhadap sinar UV-B dan kematian sel, untuk melindungi DNA dari dimerisasi dan kerusakan
  • Kuinon      : Berperan dalam repirasi sel dan fotosintesis, antibakteri, antifungi
Karena adanya kandungan senyawa terbut di atas, maka ramuan biosaka dirasakan manfaatnya oleh para petani yang sudah melakukan aplikasi biosaka terhadap tanaman yang dibudidayakannya. Tidak hanya sampai disitu, pada saatnya nanti biosaka juga dapat dirasakan manfaatnya bukan hanya bagi tanaman, tetapi juga bagi kesehatan manusia. Tentu saja dengan perlakukan pembuatan yang berbeda. Dan juga pemilihan tanaman disesuaikan dengan kondisi kesehatan yang dihadapi. Dalam dunia Farmasi, kajian tentang pemanfaatan tanaman sebagai obat herbal sudah lama dilakukan. (Diolah dari berbagai sumber). 

Kesimpulan

Biosaka merupakan salah satu alternatif pengganti pupuk kimia yang ramah lingkungan dan murah. Biosaka dapat dibuat dari berbagai jenis tanaman yang biasanya dianggap sebagai gulma, namun memiliki banyak manfaat untuk tanaman dan kesehatan manusia. Pemanfaatan biosaka pada tanaman budidaya dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, meminimalisir serangan hama dan penyakit, serta meningkatkan daya tahan tanaman terhadap perubahan lingkungan. Dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian dan menjaga kelestarian lingkungan, penggunaan biosaka sebagai elisitor pada tanaman budidaya dapat menjadi alternatif yang baik.

Artikel Terkait :



22 Jan 2023

PERANAN ELISYTOR SEBAGAI PEMICU PERTAHAN TANAMAN DARI SERANGAN PATHOGEN

PERANAN ELISYTOR SEBAGAI PEMICU PERTAHAN TANAMAN DARI SERANGAN PATHOGEN


Peningkatan produksi pertanian selalu diharapkan oleh patani baik dari segi kualitas dan kuantitasnya. Namun, peningkatan produksi tidaklah mudah untuk dicapai. Banyak kendala yang dihadapi, salah satunya adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Serangan OPT dilaporkan banyak menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, bahkan dapat menyebabkan gagal panen. Oleh karena itu, dibutuhkan tidandakan pengendalian. Saat ini para petani lebih banyak menggunakan pestisida sintetik/kimia, dibanding dengan pestisida nabati, karena pestisida sintetik pembuatannya masal dan murah, serta mempunyai daya bunuh yang cepat.

Banyak pakar menyarankan, penggunaan pestisida harus tepat. Artinya, pestisida yang diaplikasikan efektif dan ampuh. Selain itu, pengginaan pestisida kimia juga harus bijaksana, artinya dapat menekan dampak negatif pestisida terhadap pengguna, konsumen dan lingkungan serta bersifat ekonomis dan efisien. Penggunaan pestisida yang berlebihan dan cara aplikasi yang tidak bijaksana memberikan dampak negatif, seperti pencemaran lingkungan, kematian hewan non-target, penyederhanaan rantai makanan alami dan keragaman hayati, Bioakumulasi/Biomagnifikasi, resistensi hama dan terbunuhnya musuh alami.

Perlu diingat bahwa pengembangan pertanian saat ini, mengsyaratkan jaminan produk pertanian yang aman dikonsumsi (food safety attributes), punya kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (Eco Labelling Attributes). Maka untuk merealisasi jaminan produk pangan, beberapa program yang dilakukan antara lain: 1) Program peningkatan ketahanan pangan, 2) Program pengembangan agribisnis, dan 3) Program pengembangan pertanian organik dan penggunaan pestisida. Oleh karena itu, perlu terobosan baru dalam tindakan pengendalian OPT yang aman, murah, dan ramah lingkungan.

Pertanian Ramah Lingkungan

Konsep pertanian ramah lingkungan adalah konsep pertanian yang mengedepankan keamanan seluruh komponen agroekosistem. Pertanian ramah lingkungan mengutamakan untuk menekan dampak negatif penggunana pestisida bagi lingkungan. Saat ini, telah banyak dikembangkan pestisida alternatif sebagai pengganti pestisida kimia, yaitu pestisida nabati. Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tanaman atau tumbuhan dan bahan organik lainya yang berkhasiat mengendalikan serangan hama dan patogen pada tanaman. Pestisida nabati saat diaplikasikan dapat mengendalikan serangan hama dan patogen. Nilai lebih dibandingkan dengan pestisida kimia adalah  residu pestisida nabati akan hilang di alam. Dengan demikian produk terbebas dari residu pestisda sehingga aman dikonsumsi manusia. Pestisida nabati dapat menjadi alternatif pengendalian hama yang aman dibanding pestisida sintetik.

Selain digunakan sebagai bahan untuk membuat pestisida nabati, berbagai tumbuhan telah diteliti berpotensi sebagai elisitor yaitu antara lain :

  1. Daun Bayam Duri (Amaranthus Spinosus), 
  2. Daun Iler/Jawer Kotok (Coleus Scutellarioides), 
  3. Daun Kenikir (Tagetes Erecta), 
  4. Daun Nimba (Azadirachta Indica), 
  5. Daun Sirsak (Annona Mucicata) 
  6. Daun Tapak Dara (Cataranthus Roseus). 

Tetumbuhan tersebut ternyata dapat  menghasilkan senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, steroid dan terpenoid, senyawa metabolit sekunder berpotensi dijadikan sumber gen resisten terhadap hama dan patogen.

Tanaman Sebagai Elisitor

Tanaman elisitor adalah suatu tanaman yang mengandung senyawa biologis yang dapat menyebabkan peningkatan produksi fitoaleksin apabila diaplikasikan pada tumbuhan atau kultur sel tumbuhan. Elisitor dapat berasal dari bakteri, jamur, virus, senyawa polimer karbohidrat, protein, lemak dan mikotoksin sebagai elisitor biotik, dan elisitor abiotik seperti sinar UV, ion-ion logam dan hormon dan molekul-molekul pengkode resistensi tanaman. Elisitor dapat memicu respon fisiologis, morfologis dan akumulasi fitoaleksin, sebagai molekul yang mengaktifkan sinyal transduksi dan menyebabkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosisntesis metabolit sekunder. Kemudian pada tahun 2005 Sampai 2006 ada penemuan Tanaman akan mendapatkan aktivator alami misalnya, Glikosida Benzoxazinoid dari Zea Mays dan Glikosiada Isoflavonoid dari tanaman kacang - kacangan.

Penelitian elisitor alami telah dilakukan pada tahun 2000, Dengan mengekstrak Tanaman Beluntas (Plucea Indica) berpotensi sebagai penginduksi resistensi tanaman cabai merah terhadap penyakit Antraknos Colletotrichum Gloesporioides. Selanjutnya pada tahun 2001 menunjukkan penggunaan ekstrak tanaman sebagi elisitor dari daun Bunga Pukul Empat (Mirabilis jalapa), daun Bunga Pagoda (Clerodendrum Japonicum) dapat menginduksi resistensi tanaman cabai terhadap Virus Gemini. Tumbuhan sambiloto (Andrographis Paniculata) berpotensi elisitor tanaman jahe terhadap penyakit Layu Bakteri Ralstonia Solanacearum.

Sementara itu, Penelitian yang dilaksanakan pada tahunn 2019 mendefinisikan,  tanaman elisitor adalah suatu tanaman yang mengandung senyawa kimia yang dapat memicu respon fisiologi, morfologi dan akumulasi fitoaleksin, meningkatkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosintesis metabolit sekunder. Lebih lanjut dikatakan bahwa elisitor dapat menginduksi resistensi tumbuhan. Elisitor terdiri atas dua jenis yaitu ada elisitor biotik dan abiotik. Elisitor  biotik adalah elisitor yang berasal dari bahan hayati meliputi polisakarida, protein, glikoprotein atau fragmen dinding sel yang berasal dari fungi, bakteri, dan tanaman. Elisitor abiotik adalah zat yang dihasilkan dari bahan non hayati berupa logam berat, garam anorganik, pH, stress suhu, cahaya, dan sebagainya. 

Peran Elisitor Untuk Memacu Resistensi Tanaman

Resistensi tanaman terhadap patogen sering didefinisikan  sebagai kemampuan tanaman untuk mengurangi, menghambat atau membatasi serangan patogen. Secara umum tumbuhan akan memberikan respon terhadap serangan patogen dan respon tersebut akan bertanggung jawab terhadap resistensi tanaman terhadap patogen. Akibat adanya serangan patogen akan memberikan reaksi pertahanan untuk melindunginya. Tanaman akan mempertahankan diri dengan dua cara, yaitu :

  1. Adanya sifat-sifat struktural pada tanaman yang berfungsi sebagai penghalang fisik dan akan menghambat patogen untuk masuk dan menyebar di dalam tanaman, dan 
  2. Respon biokimia yang berupa reaksi kimia yang terjadi di dalam sel dan jaringan tanaman sehingga patogen dapat mati atau terhambat pertumbuhannya.

Tanaman akan memberikan respon terhadap patogen dengan cara berbeda. Respon tersebut ada yang berinteraksi dan ada yang tidak berinteraksi. Pada kasus tertentu terjadi hubungan yang inkompatibel antara tanaman dan patogen (tanaman adalah resisten) atau hubungan yang kompafibel (tanaman adalah rentan). Namun interaksi yang terjadi antara tanaman dan patogen yang menyerangnya sangatlah rumit dan banyak melibatkan reaksi biokimia. Pada kondisi yang normal, tanaman resisten terhadap kebanyakan mikroorganisme patogen. Hanya relatif sedikit terdapat kombinasi hubungan patogen-inang yang terjadi. Kejadian biokimia yang terdapat pada interaksi tanaman inang dan bukan inang dengan suatu patogen adalah sama, tetapi intensitasnya dan bentuk penampilannya tergantung pada kondisi lingkungan dan fisiologinya. Kombinasi antara sifat struktural dan reaksi biokimia yang digunakan untuk pertahanan bagi tanaman berbeda antara setiap sistem kombinasi inang-patogen. Dapat terjadi pada hubungan inang-patogen yang sama, kornbinasi tersebut dapat berbeda tergantung pada umur tanaman, jenis organ, jaringan tumbuhan yang diserang, keadaan hara tumbuhan, dan kondisi cuaca.

Telah banyak penelitian diarahkan pada upaya pengaktifan gen ketahanan tanaman terhadap infeksi mikroba lain atau senyawa kimia. Ketahanan seperti ini disebut ketahanan yang diinduksi (Induced Iesistance). Induksi resistensi atau imunisasi atau resistensi buatan ialah suatu proses stimulasi resistensi tanaman inang tanpa introduksi gen-gen baru. Induksi resistensi menyebabkan kondisi fisiologis yang mengatur sistem ketahanan menjadi aktif dan atau menstimulasi mekanisme resistensi alami pada tanaman inang.

Dua bentuk ketahanan terinduksi yang umum diteliti, yaitu Systemic Acquired Resistance (SAR) dan Induced Systemic Resistance (ISR). Ketahanan tanaman terinduksi dapat dipicu dengan penambahan bahan-bahan kimia tertentu (misalnya tanaman elisitor), mikrob nonpatogen, patogen avirulen, ras patogen inkompatibel, dan patogen virulen yang infeksinya gagal karena kondisi lingkungan tidak mendukung.

Ketahanan tanaman yang terinduksi oleh penambahan senyawa kimia atau senyawa elisitor diistilahkan dengan induksi SAR. Induksi SAR dicirikan dengan terbentuknya akumulasi asam salisilat (Salicylic Acid/SA) dan Protein PR (Pathogenesisrelated Proteins/PR), sedangkan ketahanan terinduksi karena agen biotik nonpatogenik sering dikenal dengan ISR.

Menurut penelitian yang dilakukan pada tahunn 2013, bahwa induksi resistensi dapat dilakukan melalui aplikasi agens hayati (seperti rizobakteria nonpatogen) dan senyawa kimia (sintetik dan nabati). Keberhasilan senyawa penginduksi dalam mengendalikan serangan patogen tanaman berkisar antara 20–89%, bergantung pada jenis tanaman, kondisi fisiologis, dan faktor abiotik seperti kelembaban dan suhu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak tanaman sebagai elisitor berupa daun bunga pukul empat (Mirabilis Jalapa) dan daun bunga pagoda (Clerodendrum japonicum) paling efektif menginduksi ketahanan tanaman cabai terhadap virus Gemini. Selanjutnya ada laporan bahwa ekstrak tanaman Sambiloto mengandung elisitor pemicu ketahanan tanaman terhadap penyakit layu bakteri, dengan tingkat keefektifan sebanding dengan perlakuan senyawa kimia asam salisilat+Ca.

Mekanisme induksi resistensi berkaitan dengan peningkatan produksi beberapa jenis protein pathogenesis related-proteins (PRP), antara lain kitinase, b-1,3 glutanase, proksidase, endoproteinase, dan oxalate oksidase. Mayoritas protein tersebut bekerja melalui sintesis senyawa penyandi ketahanan seperti asam salisilat, asam jasmonat, dan etilen, serta aktivitas anti mikrob melalui hidrolisis dinding sel, toksik, dan signal ketahanan. Senyawa elisitor tersebut terekspresi pada kondisi tanaman senesen, terluka, stress dingin, tetapi ada yang juga terekspresi pada setiap saat dalam jaringan bunga, pollen, buah dan bagian vegetatif yang mekanisme kerjanya menyerupai kerja imunitas pada manusia.

Ekstrak tanaman Salix sp., telah digunakan di beberapa negara dan terbukti efektif sebagai induser ketahanan yang dapat mengendalikan beberapa patogen tanaman, di antaranya adalah untuk mengendalikan penyakit bercak ungu yang disebabkan oleh Alternaria porii pada bawang merah, dan penyakit Virus Kuning (Bean Yellow Mosaic Virus) pada Cabe Merah Keriting, bahwa beberapa Spesies Salix (seperti : Salix Alba, S. Daphnoides, S. Purpurea, S. Matsudana), umumnya mengandung senyawa Glikosida, seperti Salicin, dan diidentifikasi juga beberapa senyawa Terpen, Flavonoid, dan beberapa jenis Steroid yang berperan menghambat perkembangan patogen.

Kesimpulan

Elisitor asal tetumbuhan merupakan senyawa kimia yang dapat memicu respon fisiologi, morfologi dan akumulasi fitoaleksin, meningkatkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosintesis metabolit sekunder. Ketahanan tanaman terinduksi dapat dipicu dengan penambahan elisitor.  Induksi SAR dicirikan dengan terbentuknya akumulasi asam salisilat (Salicylic Acid/SA) dan protein PR (Pathogenesis Related Proteins/PR)

Demikian Penjelasan tentang extrak tanaman sebagai elisitor, ternyata mampu memicu resistensi tanaman dari berbagai serangan patogen. semoga bermanfaat sampai jumpa.